Corona Momentum Menyudahi Pekat

Oleh: Moh Sugihariyadi

HIMBAUAN pelajar dan mahasiswa agar diliburkan mulai 16 – 31 Maret 2020 atau selama 14 hari merupakan keputusan strategis dalam rangka mengurangi penyebaran Pandemi Covid-19. Tak cukup berhenti pemberlakuan kepada pelajar dan mahasiswa, Aparatur Sipil Negera (ASN) pula diminta agar bekerja dari rumah. Menurut Achmad Yurianto juru bicara penanganan Covid-19 update jumlah pasien positif terinfeksi virus corona terus bertambah, pada selasa 24 Maret 2020 bertambah menjadi 686 orang, dengan rincian meninggal sejumlah 55 orang dan jumlah mampu disembuhkan 30 orang.

Melihat perkembangan upaya penanganan virus corona belum kunjung ada hasil memuaskan, bahkan ditengarai potensi penularannya semakin tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang. Guna menjaga kenyamanan dan keamanan dalam kehidupan bermasyarakat khususnya kewajiban setiap orang berkewajiban ikhtiar atau berusaha menjaga kesehatan dan menjauhi sikap yang mengarah pada terjadinya penularan penyakit, Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa sebagai berikut: Pertama, setiap orang wajib melakukan ikhtiar menjaga kesehatan dan menjauhi setiap hal yang diyakini dapat menyebabkannya terpapar penyakit, karena hal itu merupakan bagian dari menjaga tujuan pokok beragama (al-Dharuriyat al-Khams).

Kedua, orang yang telah terpapar virus corona, wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain. Baginya shalat Jumat dapat diganti dengan shalat zuhur di tempat kediaman, karena shalat jumat merupakan ibadah wajib yang melibatkan banyak orang sehingga berpeluang terjadinya penularan virus secara massal. Baginya haram melakukan aktifitas ibadah sunnah yang membuka peluang terjadinya penularan, seperti jamaah shalat lima waktu/ rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan tabligh akbar.

Ketiga, orang yang sehat dan yang belum diketahui atau diyakini tidak terpapar Covid-19, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a). dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia boleh meninggalkan salat Jumat dan menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah shalat lima waktu/rawatib, Tarawih, dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya. b). dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya rendah berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia tetap wajib menjalankan kewajiban ibadah sebagaimana biasa dan wajib menjaga diri agar tidak terpapar virus corona, seperti tidak kontak fisik langsung (bersalaman, berpelukan, cium tangan), membawa sajadah sendiri, dan sering membasuh tangan dengan sabun.

Keempat, dalam kondisi penyebaran Covid-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan shalat jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat masing-masing. Kelima, dalam kondisi penyebaran Covid-19 terkendali, umat Islam wajib menyelenggarakan shalat Jumat dll.

TINDAKLANJUT
Atas dasar keputusan fatwa MUI dan himbauan Presiden, maka pemerintah daerah tak terkecuali Kabupaten Rembang perlu melakukan beberapa upaya tindaklanjut, antara lain: membuat edaran imbauan belajar kepada para siswa dan mahasiswa belajar dirumah selama 14 hari, memberlakukan ASN agar memberikan pelayanan atau kerja dari rumah, kemudian tidak kalah konsistensinya pula menghimbau agar umat Islam selama belum terjadi pemulihan keadaan pandemi Covid-19 atau kondisi terkendali penyebaran corona agar menyelenggarakan shalat berjamaah di masing-masing rumah.

Ketegasan pemerintah daerah Rembang patut untuk kita apresiasi, atas tindakan preventif yang selama ini sudah dilakukan. Kendati demikian bukan berarti semua masalah sudah sesuai dengan harapan. Edaran maklumat agar pelajar dan mahasiswa agar belajar di rumah, pelayanan oleh ASN agar dilakukan dengan pemanfaatan perangkat digital, dan anjuran agar umat Islam melangsungkan ibadah dari masing-masing rumah. Ternyata diluar dugaan, mulai tanggal 16 – 25 Maret 2020 warung kopi remang-remang yang berada di wilayah Kaliombo, Besi, Banggi, Sulo, Mondoteko, Magersari perempatan pentungan, Kaliuntu, dan beberapa lokasi di Kecamatan Lasem prosentase pengunjung menurut pemaparan pemilik warung remang-remang justru malah mengalami peningkatan. Pengunjung terbesar justru sekarang bukan hanya sopir truk, terdapat varian pengunjung baru notabene mahasiswa, pelajar, dan para ASN.

Mencermati semakin meningginya kasus penyebaran Covid-19, di Indonesia tak terkecuali kabupaten Rembang beberapa sumber mengatakan semua hal terjadi karena semakin maraknya perilaku gaya hidup hedonis jelas-jelas setiap waktu kita saksikan di kawasan remang-remang. Padahal perilku semacam demikian sangat bertentangan dengan kepribadian keseharian kita sebagai bangsa Indonesia. Perilaku pihak yang memiliki kebiasaan nongkrong di warung kopi remang-remang sebagaimana tersebut, pribadinya menunjukkan kemewahan, kesenangan, menghamburkan uang, berfoya-foya serta kehidupan modis, trendy, mengikuti jaman ternyata telah menjerumuskan dirinya ke lubang bencana.

Para pihak yang kebetulan biasa nongkrong di warung remang-remang adalah gerombolan orang yang suka mabuk-mabukan dibanding warga lainnya. Klaim ini tentu bukanlah hal berlebihan, pendapat para pengunjung warung remang-remang saat kita tanya, kenapa suka memilih mabuk-mabukan padahal banyak mengeluarkan biaya? Bahwa mabuk adalah hal menyenangkan, karena dapat menyudahi beban keras kehidupan (hasil wawancara). Sebetulnya hal paling krusial membahayakan adalah tindak kekerasan yang muncul akibat mabuk. Sejumlah responden perempuan beberapa daerah pedesaan di Rembang yang kebetulan pasangan hidupnya suka mabuk-mabukan dan nongkrong di cafe, kerap mengaku mengalami kekerasan seksual ketika dalam kondisi setengah sadar atau sangat mabuk. Ironisnya para perempuan ini, notabene sebagai istri pada tidak berani melapor kepada Polisi, padahal kasus ini jelas-jelas sarana membuka peluang bagi terjadinya pelaku tindak kekerasan seksual kepada perempuan.

MOMENTUM
Kendati secara riilnya memang belum ditemukan, bahwa warung remang-remang di Rembang adalah faktor penyebab munculnya pandemi Covid-19. Namun berdasarkan fatwa, anjuran, dan maklumat pemerintah serta beberapa ormas keagamaan semisal: MUI, NU dan Muhammadiyah adanya anjuran resmi agar semua pihak melakukan social distancing atau physical distanding. Ketentuan menjaga jarak secara fisik guna memastikan penyakit agar tidak cepat menyebar, anjuran orang sehat untuk membatasi kunjungan ke tempat ramai, semisal: cafe dan warung remang-remang, serta aktifitas kontak langsung dengan pemandu karaoke (PK), larangan berjabat tangan terutama dengan orang yang sedang sakit atau beresiko menderita Covid-19.

Selain ketentuan sebagaimana tersebut, berdasarkan agenda penerapan social distancing, merupakan momentum menyudahi penyakit masyarakat (Pekat) yang selama ini susah upaya penyelesaiaannya. Berikut beberapa hal umum semua pihak perlu menjalani dan sangat strategis ditindaklanjuti oleh Pemda Rembang antara lain: a). Anjuran ASN bekerja dari rumah. b). Pelajar dan Mahasiswa belajar dari rumah secara online. c). Menunda acara atau pertemuan yang dihadiri orang banyak. d). Larangan mengujungi orang yang sedang sakit. Atas dasar alasan-alasan rasional, riil, dan legalitas inilah, maka Pemda mempunyai andil secara strategis menyudahi Pekat yeng bersumber dari warung remang-remang dengan dalih hindari diri dari virus corona dengan tidak berada di kerumunan atau tempat ramai semacam warung remang-remang yang masih aktif setiap malam di sudut-sudut pinggiran kota Rembang. Semoga manfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *