(Politik) di Balik “Ocehan” Sam’ani di Persidangan Tamzil

KUDUSSATU.com–Ada yang menarik dalam kesaksian Sekda Kudus Sam’ani Intakoris di Persidangan kasus dugaan suap jual beli jabatan Bupati Nonaktif HM Tamzil di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin kemarin.

Sejumlah fakta yang selama ini hanya menjadi dianggap informasi sumir untuk kalangan terbatas akhirnya sampai ke permukaan dan menjadi konsumsi publik. Seperti jatah fee proyek sebesar 5 persen yang diberikan kepada bupati saat dirinya masih menjabat sebagai Kepala Dinas PUPR.

Kalau merujuk data yang ada Sam’ani menjabat sebagai Kepala Dinas PUPR di era Bupati Musthofa. Maka, yang jadi pertanyaan kenapa Sam’ani sekarang mengungkap hal itu ke publik. Sehingga wajar publik bertanya-tanya ada apa dengan Sam’ani yang notabene dulu merupakan salah satu pejabat kesayangannya Kang Mus?.

Jawaban dari pertanyaan itu hanya Sam’ani yang bisa menjawabnya. Karena hal itu disampaikan saat persidangan di Pengadilan Tipikor Semarang. Sam’ani tentu menyampaikan itu bukan tanpa alasan dan pertimbangan yang matang. Ada apa di balik ocehan Sam’ani?.

Seolah tak berhenti di situ, Sam’ani pun mengoceh soal adanya penyokong dana dari pasangan Tamzil-Hartopo di Pilkada 2018. Secara gamblang Sam’ani menyebut dua pengusaha yaitu Haryanto dan Nor Halim yang menjadi penyokong dana kala itu. Bahkan ada perjanjian tertulisnya. Tak tanggung-tanggung uang sekitar Rp 40 miliar dipakai guna pemenangan pasangan Tamzil-Hartopo. Rinciannya Haryanto Rp 30 miliar dan Nor Halim kisaran Rp 7-10 miliar.

Terkuaknya misteri penyokong dana di Pilkada seakan membuka tabir tentang peran seorang Bohir yang cukup sentral dalam pertarungan Pilkada. Gelontoran uang sebesar itu, bukan nominal yang sedikit dan juga buka cuma-cuma. Yang pasti ada konsekuensi atau imbal jasa bagi penyandang dana. Situasi ini mengakibatkan pemimpin atau kepala daerah mengalami situasi sulit karena harus mengembalikan dana tersebut. Bahkan ikut mengatur atau mengendalikan jalannya pemerintahan. Wal hasil yang terjadi adalah politik balas budi, politik transaksional dan bagi-bagi proyek.

Langkah kuda Sam’ani ini bisa jadi akan membuka tabir gelap yang selama ini sudah menjadi rahasia umum di dunia “persilatan”. Atau sebaliknya ledakan ini hanya akan menguap seiringnya waktu. Yang pasti keberanian Sam’ani mengungkap tabir ini patut mendapat apresiasi. Entah itu ada motif politik atau tidak.

Sebagai pejabat publik Sam’ani didorong untuk membuka seluas-luasnya tabir yang mulai terbuka itu di tengah menurunnya kepercayaan publik terhadap pejabat. Ini bisa menjadi modal electoral ketika Sam’ani memutuskan untuk bertarung di dunia politik. (Editorial)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *