Modal Awal Cuma Rp 100 Ribu, Sarjana Pendidikan Ini Raup Belasan Juta dari Jualan Kopi

Kudus, KUDUSSATU.com–Bisnis kopi semakin ramai peminatnya karena memberi hasil yang menjanjikan. Siapa sangka, untuk memiliki bisnis kopi ternyata tidak melulu harus mengeluarkan modal besar.

Seperti Shinta Dwi Mutiarani (23), warga Desa Colo RT 03, RW 03, Dawe, Kudus, yang kini berhasil meraup pundi-pundi rupiah dari binis kopi muria.

Boomingnya bisnis kopi saat ini membuat dara lulusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muria Kudus (UMK) ini lebih memilih menekuni bisnis yang biasanya identik dengan laki-laki.

“Saya mulai menekuni bisnis kopi muria 2017 lalu, saat itu masih duduk semester 6. Modal awalnya Rp 100 ribu, itupun hanya untuk beli packaging karena kebetulan kopi hasil tanam sendiri (orang tua),” kata dia kepada kudussatu.com.

Shinta menceritakan jauh sebelumnya dirinya menekuni bisnis kopi, sejak 2008 ibunya sudah lebih dulu membuat kopi. Hanya saja, waktu itu produknya dijual terbatas dan dikemas seadanya.

“Dulu, tepatnya sejak 2008 ibu saya lebih dulu membuat kopi. Namun masih seadanya. Biasanya diambil oleh bakul-bakul,” ungkap dara kelahiran 20 Juni 1996 itu.

Diakuinya, ketika dirinya terjun ke bisnis kopi muria, kondisinya tidak se-booming seperti sekarang ini. Bahkan, di Colo dan sekitarnya ada sekitar 20an merek kopi muria.


“Alhamdulillah sekarang ini kopi muria semakin dikenal luas. Berbeda saat saya dulu memulai bisnis ini,” ujar pemilik merek kopi muria “Tasty” itu.

Semakin dikenalnya kopi muria, diakui Shinta juga membawa dampak bagi Kopi Tasty miliknya.

Sekarang ini, lanjut Shinta, kopi muria sudah mulai diperhitungkan eksistensinya.
“Dulu, saat saya mengikuti beberapa kali pameran di luar kota tidak banyak yang tahu soal kopi muria. Alhamdulillah sekarang mulai dikenal,”ungkapnya.

Tidak hanya sekedar menjual produk, Shinta berharap bisa memberikan mengkampanyekan perihal kopi muria.


“Tidak hanya jualan kopi (kedai), tapi ingin ada semacam kegiatan edukasi berupa pemrosesan kopi,” terangnya.

Shinta menyortir biji kopi sebelum dilakukan pemrosesan. Hal ini untuk menghasilkan kualitas kopi terbaik.


“Untuk seminggunya sekitar 15-20 kg biji kopi yang diproses. Baik diproses secara tradisional dengan tungku dan kayu bakar. Atau diproses dengan mesin roasting,” bebernya.

Ditanya mengenai omset penjualan kopi, Shinta enggan menyebutkan secara spesifik nominal angka.

“Kalau ditanya berapa, saya bingung menjawabnya. Ya, belasan juta mungkin per bulan, ya,” bebernya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Perindustrian Korporasi dan UKM Kabupaten Kudus Bambang Tri Waluyo mengatakan, saat ini pelaku UKM di bidang kopi jumlahnya semakin banyak.Kopi muria, lanjut Bambang , sudah menjafi ikon untuk Kabupaten Kudus.

“Kami akan terus dorong dan fasilitasi mereka agar bisa berkembang dan maju. Seperti mengikuti pameran baik di dalam maupun luar kota,” katanya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *