Planet NUFO, Sekolah Alam Pencetak Ilmuwan dan Hafidz Qur’an

REMBANG, KUDUSSATU.com–Planet NUFO memang bukan sekedar tempat belajar biasa. Itu adalah tempat belajar yang didesain layaknya tempat bermain yang sarat muatan pelajaran. Tujuannya agar anak-anak tak pernah merasa bosan untuk menambah pengetahuan dan membuntuti rasa penasaran. Dengan cara itu, diharapkan mereka sampai pada satu titik yang membuat mereka terpicu lalu terpacu untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat, terus semangat dalam bekerja agar bermanfaat makin besar bagi bangsa dan ummat.

Dari namanya saja sudah planet, bukan sekolah. NUFO mungkin bisa mengingatkan kita kepada sebutan untuk benda terbang dari luar angkasa yang beberapa tahun lalu sering membuat geger karena jejaknya di berbagai area. Atau trade mark sebuah produk sabun mandi NUVO, karena hanya beda satu huruf. Padahal NUFO sesungguhnya adalah singkatan dari Nurul Furqon, berarti cahaya pembeda (al-Qur’an). Di dalamnya juga ada semangat different and the best, berbeda dan terbaik.

Ya. Itu adalah sebuah sekolah alam yang diinisiasi oleh dua orang aktivis dan sejak kecil menjadi pegiat pendidikan, Arief Budiman (Ketua Yayasan Pesantren al-Furqon, Rembang) dan Dr. Mohammad Nasih (pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ Jakarta, pengasuh rumah perkaderan dan tahfidh al-Qur’an Darun Nashihah Monash Institute Semarang). Lokasinya di sebuah desa di pinggiran Rembang di lahan persawahanan, tepatnya di sebelah timur Desa Mlagen, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang.

Bagaimana bisa kedua orang berbeda usia dan latar belakang itu bertemu dalam ide dan aksi membangun lembaga pendidikan yang lain daripada yang lain?

Ada cerita yang melatarbelakangi kedua orang berbeda profesi itu berkolaborasi dalam bidang pendidikan. Memang sebelumnya, keduanya sudah belasan tahun bersahabat sangat erat. Sampai pada tahun 2017, Aisya puteri bungsu Dirut RBSJ itu mondok kilat selama sepekan saat liburan sekolah di Monash Institute, Semarang (baca: monashinstitute.or.id). Karena dibina secara intensif, Aisya dan tentu saja juga anak-anak yang lain mampu menguasai amtsilat al-tashrifiyyah (sharaf) hanya dalam waktu sepekan itu.

Padahal di lembaga pendidikan konvensional, itu membutuhkan waktu bertahun-tahun. Tentu kedua ortunya dibuat sedikit kaget. Lalu terjadilah diskusi tentang hal itu dan kenapa itu yang diajarkan. Nasih yang sudah berkecimpung cukup lama dalam usaha melahirkan para penghafal al-Qur’an menjelaskan bahwa itu dalam rangka membuat generasi muda muslim menguasai bahasa Arab fushhah yang merupakan prasyarat agar mudah menghafalkan al-Qur’an. Rupanya ini menjadi sesuatu yang menarik bagi Arief Budiman yang menginginkan agar puterinya bisa hafal al-Qur’an.

Singkat cerita, keduanya kemudian sepakat untuk membuat sekolah untuk puterinya yang setahun setengah kemudian akan lulus SD al-Furqon, sekaligus agar para lulusan al-Furqon yang merupakan anak-anak potensial di Rembang memiliki tempat belajar lanjutan yang tepat setelah lulus.

Nasih serasa mendapat kesempatan emas, karena punya anak yang sudah usia SD, padahal sesungguhnya dia menginginkan anaknya tidak sekolah, karena menganggap kurikulum konvensional yang ada justru akan membuat anak kehilangan banyak potensi yang mestinya dikembangkan. Maka, lahirlah nama Planet NUFO dengan segala keunikan yang ada di dalamnya.

Kalau anda datang ke Planet NUFO, anda akan langsung melihat tulisan itu terpajang di salah satu dari dua rumah bambu yang berdampingan dan di antara keduanya ada jalan masuk berukuran kecil. Dua rumah yang 100 persen terbuat dari bambu itu seolah gapura kedua. Ya, rumah bambu itu memang 100 persen terbuat dari bambu, karena atap yang sekaligus jadi dindingnya terbuat dari bambu yang dibelah kemudian disusun bolak balik. Ini yang menjadikan kedua rumah itu sangat unik.

Tampak dari depan Planet Nufo yang begitu gagah dengan tulisan Qur’anic Habbit yang menghiasi salah satu rumah panggung yang terbuat dari bambu. (Insert : Beberapa Santriwan dan Santriwati Planet Nufo yang bersiap berangkat ke Sekolah)
Di halaman depan, anda akan melihat gazebo-gazebo yang juga terbuat dari 100 persen bambu berukuran 2×1,5 meter. Gazebo itu sengaja dibuat dengan ukuran itu dalam jumlah banyak, karena digunakan untuk tenpat belajar maksimal 4 orang yang dibina oleh seorang guru. Loh, memang gurunya berapa? Ini yang sangat berbeda di sekolah ini.

Planet NUFO memang dirancang untuk belajar secara super intensif. Pendidikan massal di dalam kelas besar yang terdapat belasan bahkan sampai puluhan murid, tentu saja tidak efektif untuk membuat anak bisa cepat memahami pelajaran. Karena itu, sekolah ini sejak awal mempersiapkan SDM guru yang tidak tanggung-tanggung. Yang menjadi guru di Planet NUFO adalah orang-orang muda yang sedang menempuh program S2 dan S3 di berbagai disiplin ilmu: Komunikasi, Bahasa Inggris, Hukum, Falak (Astronomi), Tafsir-Hadits, dll.

Mereka sesungguhnya juga adalah para aktivis intra dan/atau ekstra kampus saat kuliah S1, bahkan di antaranya masih aktif menjalani kehidupan sebagai aktivis. Mereka menjadi guru, karena memang memiliki keterpanggilan untuk membangun terobosan baru dalam pendidikan untuk menghasilkan SDM unggul di masa depan.

Di antara syarat utama menjadj guru di Planet NUFO adalah menguasai bahasa Arab. Sebab, salah satu program unggulannya adalah menghafalkan al-Qur’an. Dan menghafalkan al-Qur’an harus dilakukan setelah memahami artinya. Tentu saja, itu tidak mungkin bisa dilakukan jika tidak menguasai bahasa Arab.

Di dalam lingkungan Planet NUFO juga ada kambing. Kambing menjadi salah satu sarana membangun kepemimpinan. Setelah para murid diajari merawat tanaman sayur-mayur, ketrampilan mereka ditingkatkan untuk memelihara hewan-hewan kecil, mulai dari kroto yang telurnya digunakan untuk pakan ternak, lalu ikan, bebek, kelinci, dll. Kambing dijadikan sebagai sarana kepemimpinan karena secara khusus disebut oleh Nabi Muhammad: “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, kecuali dia adalah penggembala kambing”. Di dalam memelihara kambing, ada pelatihan menguasai seni memimpin. Diharapkan, para murid nanti mamlu mentransformasi ketrampilan menggembalakan kambing untuk merawat dan memuliakan manusia, umat, dan bangsa. (baladena.id/mn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *