“Tak Sanggup Berhenti Korupsi, Jangan Kau Curi Sepiring Nasi Generasi”


ENTAH apa namanya, tradisi, habbit, atau klepto. Tikus tua tampak bergembira, sampaikan munculnya kabar berita, Revisi UU KPK, bakal bebaskan derita dan cemas, menuju puncak kebebasan bebas menjarah yang ingin dijarah. Menjarah warisan leluhur, menjarah pajak negara, menjarah martabat generasi, menjarah jiwa perwira nan kstaria. Denyut alibi semakin kuat, ngeles dan gimmik begitu lihainya. Tak sadar lihai habiskan jatah nasi generasi.


Musang Tua, tahukan mengapa tikus begitu merajalela, apa karena petani mendiamkannya. Bila diam diterus-teruskan tanaman padi berbuah batu. Bila rakyat diam lihat gurita korupsi begitu kuat, yakinlah generasi akan kebagian anginnya saja. Nasinya dibawa tikus diberikan anak bininya. Bila tak sanggup hentikan korupsi, janganlah nasi buat generasi juga ikut kau curi. Bila memang mencuri itu menjadi hobi, merpati tak hendak menjadi jinak lagi.


Kolong Wewe, tempat tikus sembunyikan jarahannya. Brankas nasi milik generasi tentulah ada disana. Semburat cahaya jingga, sumpah serapah pasti kau dengar, berlagak alim bertindak kolonial, generasi tinggal meratapi atau malah memaki-maki.


Entah apa yang harus dikoreksi, lidah terlanjur pintar beralibi, sejuta salih sejuta mimik, maling pun tak malu pura-pura suci. Atasnama konstitusi, atasnama rakyat, atasnama masyarakat, atasnama umat,selalu itu. Dongeng buat generasi.


Sementara tangannya memindahkan isi nasi milik bayi-bayi nanti. Generasi basi, jadi bulan-bulanan atasnama globalisasi, tak sanggup berkompetisi, tak cukup punya gizi karena tak punya cukup nasi. Talah dicuri tikus-tikus berdasi. Bila Australia beri ASI buat generasi, Jepang, Cina, Korea Selatan siapkan landas pacu buat generasinya, bangsaku terpuruk liat anak cucu berebut sepiring nasi, karena warisannya telah dicuri atasnama Kleptokrasi.

Demokrasi bukanlah Kleptokrasi. Rakyat harus memberi, elit politik juga memberi, mengapa yang muncul saling mencuri. Rakyat mencuri atasnama menjual suara, prostitusi ala demokrasi, elit politiknya mencuri nasi generasi. Lantas generasi nanti mencuri punya siapa?


Pak polisi, tolong tertibkan negeri ini. Bantu kami menangkap pencuri, ajari juga kami cara kembalikan nasi generasi. Pak polisi, kami takut generasi nanti akan terus kekurangan gizi. Defisit dan hutang luar negeri akan terus terjadi, alangkah ngeri negeri ini bila korupsi tak bisa berhenti, lantas hendak jual apalagi? Pak polisi, tolong serius bantu kami…..Ajari kami cara bijak menangkap tikus di negeri ini. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *