Cita-cita Bersama Itu Ada, Kawan!

KUDUSSATU.com–Gelombang selalu mengajak angin, untuk bersama menuju ketepian. Meski terkadang menghantam karang, kapal, atau apapun yang menghalangi, bagi angin dan gelombang itu adalah resiko.

Tak ada maaf, bagi sang perintang, yang ada hanyalah cita -cita bersama harus terwujudkan. Saudaraku, dapatkah kita membangun gedung ditengah pertempuran, dapatkah kita membangun mufakat ditengah ego sektoral membabi buta, sementara sang babi pun ternyata punya tujuan…

Ada kalanya mengalah itu indah, tapi terima kekalahan itu pedih, kawan. Mungkinkah daun mencaci matahari, manakala teriknya melayukan daun muda, bahkan mengeringkan batang. Semua ada konsekuensinya, berpolitiklah dengan elegan, manusiawi, dan jelas arah, dan tujuannya

Kesulitan bukan masalah, masalahnya bila kita tak mau bersatu, pasti tak mampu atasi kesulitan, mengingat rembulanpun tak pernah protes bergiliran. Dengan matahari mengitari bumi.

Tak ada gading yang tak retak, selagi gading masih bernilai kenapa harus risaukan retak? Bila tak mampu menjadi pilar, minimal bisa menjadi lantainya.Mengapa kita memprotes tanpa resolusi? Apakah syahwat merasa terganggu, rakus dan tamak nyata adanya, yang tak ada.

Adalah mimpi tidur bersama sama. Pernahkah kita bertanya, mengapa tak bertanya pada kuburan, mereka nyata. Tidur bersama sama, damai, dan menenteramkan, tak ada rebutan lapak, tak ada kericuhan… Yang ada damai, tulus, dan fokus dengan amal perbuatannya

Bahkan setan pun tak mampu membuat mayat yang satu bertengkar dengan mayat yang lain, sementara kita tahu kurang apa licik dan lihainya setan dalam menghasut?
Kesulitan bukan masalah, masalahnya bila kita tak mau bersatu, pasti tak mampu atasi kesulitan, mengingat rembulanpun tak pernah protes bergiliran dengan matahari mengitari bumi.

Sahabat, mudah mengucapkan petuah, sulit mengaktualisasikan cita cita, kita membutuhkan harga diri dan kehormatan, melewati batas integritas dan kinerja. Apakah cukup dengan harga diri, tidak kawanku, kita membutuhkan apa itu keahlian, dan apa itu kerukunan. Hanya yang waras yang tahu apa itu rukun, dan apa itu ahli.

Selesaikah itu semua, belum kita juga perlu berdoa dan memohon pertolongan Allah SWT, agar terang semakin terang, agar kabut kehidupan tersibak mentari pagi, jauhi konyol dan gelap mata karena itulah kabut yang sebenarnya, kabut dimana arogansi dipaksakan menutupi ketakutan, dimana percaya diri dipaksa menutupi rasa minder dan kalah bersaing, bukankah setan berharap jasmani, mengapa jasmani kita tak kita gunakan menguatkan rohani?

Tak usah risau dengan pecundang, fitnah., iri hati, dengki, dan pamer diri, adalah kenyataan bahwa dia ketakutan kalau kita berdoa bersama, mereka ketakutan bila kita bergandengan tangan… Sahabat kepalkan tangan kirimu, enyahkan sifat pecundang, mari kita berkompetisi secara jantan dan penuh wibawa

Buat sahabatku, lagukan dengan keras, teriaklah terus, jangan hiraukan mereka yang ketakutan, jangan kalian ragu sahabat.Denting nuranimu akan memukul mundur setiap angkara murka, kebenaran bisa tertutupi, tapi tak bisa dimusnahkan.Ayo lawan setiap penebar racun kebencian, lawan setiap mereka yang coba palsukan kebenaran, karena kita masih berdiri, kita masih sanggup bertempur hingga seribu tahun lagi

Mengapa kita berani., karena kita berakhlak, kita punya cita-cita besar, mimpi bersama, melihat generasi muda kita tak dibegal penguasa omong kosong, otak dungu. Mulut orang bau racun tikus, sementara tikus nya tak jauh jauh masih disekitar istana raja.

Jauhi mereka yang merasa sanggup berjuang, dekati mereka yang diam dan kepalkan tangan bila hari ini kita setuju, kepalkan tangan. Tunjukkan keberanianmu… Tak usah ucapkan apapun sobat.

Jalani jalur konstitusional, dekati mereka yang ahli dalam setiap bidang. Kita butuh mereka, kita butuh bangkit dari keterpurukan, kita membutuhkan cahaya kehidupan, tak cukup dengan dongeng infrastruktur

Hari ini, ayo satukan niat. Satukan tekad bersama acungkan jemari keatas, atas ridho illahi, jadilah kita generasi baru, generasi yang bisa menjawab satu pertanyaan, “kelak jadi apa kamu nak”, jawablah kitalah pengibar bendera merah putih, ibu pertiwiku..(TN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *