Dari Tulang Tua Untuk Tuan Parle

KUDUSSATU.com–Tuan bercerita tentang sejahtera, bercerita tentang datangnya sang ratu adil, tentang hukum yang diskriminatif. Dan satu lagi, tuan cerita tentang pentingnya kami memilih tuan, mencoblos gambar dan nomor urut tuan parle.

Hallo apa kabar tuan parle, cerah roman berbalut ceria, semoga tuan parle sehat, dan tersenyum riang. Oh ya, tuan parle, saya teringat waktu pertama bertemu dengan tuan. Tuan semangat menjelaskan tentang ini, dan tentang itu, tentang hikayat raja raja mulia, tentang surga Tiwikrama ke dunia, tentang titisan wisnu tersenyum pada kami, seorang tulang tua.

Ceritalah tuan, cerita tentang kami, si tulang tua, ceritalah kemana kami hendak. Dibawa menuju surga atau ke neraka. Ceritalah tuan, bagaimana caranya merangkai bunga Kehidupan, bunga dimana para pendeta sering bercerita tentang perda yang berkeadilan, tentang agama yang termanifestasikan.

Tuan, sekonyong konyong kita bersua, tak ada kabar berita tentang do’a dan harapan tuan yang terkabulkan. Tuan parle, saya kagum, makin fasih tuan bercerita.

Tuan, semoga tuan tak jenuh bertemu dengan kami si tulang tua. Kami kagum dan bangga, atas kedermawanan tuan memberi amplop, atas kemuliaan sang prabu Kala Cakra, tuan kami merinding tuan. Tangis ibu pertiwi menghantui kami. Tuan, maafkan saya, amplop tuan, saya rasakan seperti Izrail mengejar anak cucu saya.

Tuan, saya percaya, bahwa tuan memanglah hebat, pintar bercerita dan merangkai kata. Mohon tuan rangkaikan buat anak cucuku cerita tentang munculnya sang Juru. Selamat, cerita akhir rezim yang happy ending. Ceritalah tuan, kami yakin kemuliaanmu adalah semangat bagi kami, dimana kami ingin berbagi kisah tentang budi luhur, tuan parle.

Ceritakan kepada kami, kami yakin tuan terasah dan semakin fasih bercerita, cerita tentang kemuliaan hidup tentang. Program pembangunan yang berkelindan dengan rente, juga serial tentang OTT KPK yang bertambah. Panjang, ceritalah tuan, tentang akhir drama legislator di kerlingan Ibu pertiwi.

Mohon maaf, beribu ribu ampun tuan parle, kami paham kami si tulang tua teramat lancang. Tuan, mohon bebaskan kami dari kegelisahan, tuan bagaimana caranya agar kami tak dikejar awan hitam berwujud amplop tuan. Mohon jelaskan ke kami tuan mengapa mimpi dikejar maut terus menghantui kami. Tuan, ceritalah, dengan segala hormat, saya si tulang tua akan mendengarkan.

Ceritalah tentang bapak merudapaksa anaknya, tentang ibu tiri tak sekejam ibu kota tentang jeritan ikan koi berenang di istana raja. Terjamin, tapi tak bahagia.
Apakah kami sepatutnya alami cerita diatas, tuan. Horor tapi harus dijalani.

Apakah memang kami tak paham, bila ibu pertiwi ternyata isyaratkan menggelengkan kepala waktu saya terima amplop dari tuan parle. Entah kenapa, telinga juga tak mampu mendengar jerit tangis dan teriakan generasi anak negeri. Tuan, maafkan saya.

Saya hanyalah tulang tua, tak tahu arah kiblat kehidupan, tak tahu apa itu senang membawa nestapa. Tuan, ceritalah tuan, cerita tentang bagaimana kami dimaafkan anak saya, si tulang rawan.

TUHAN YME, maafkan aku, sejuta sesal tak berarti, sejuta kerinduan harus ku tutupi mukaku, muka dimana. Tulang rawan mencibir kearahku, tatapan matanya tajam merobek masa. depan republik tercintaku. Sejauh itukah, aku menerima azab. Tuan parle maafkan aku. Kesombonganku menghancurkan darah dan jiwaku, ibu pertiwi ku terluka, generasiku memaki sejuta serapah, atas gilanya aku meminang amplop kepunyaan tuan parle.

Ceritalah, mengapa bendera negeriku semakin tak bersinar, murung sepertinya tengah berduka. Benderaku, kuingin sekali ini saja aku bersimpuh disisi kehidupan dimana aku si tulang tua, merasa tak berguna, tak mampu membawa kau berkibar benderaku.

Seumpama, waktu bisa kembali, tuan janganlah amplopmu mengejar damai dan jiwaku, janganlah ibu pertiwiku tercekik karena keteledoranku, tuan parle yakinkah tuan parle. Masih mau jadi sahabatku?

TUHAN YME, maafkan aku, sejuta sesal tak berarti, sejuta kerinduan harus ku tutupi muka ku, muka dimana. Tulang rawan mencibir kearahku, tatapan matanya tajam merobek masa. depan republik tercintaku. Sejauh itukah, aku menerima azab. Tuan parle maafkan aku. Kesombonganku menghancurkan darah dan jiwaku, ibu pertiwi ku terluka, generasiku memaki sejuta serapah, atas gilanya aku meminang amplop kepunyaan tuan parle.

Kutitipkan negeri ini tuan, pada anda yang mulia dan bijaksana. Ku serahka anak dan generasiku, ku pasrahkan luka hati ibu pertiwiku, semoga terobati. Oleh tuan parle yang budiman. Tuan parle, satu pesan terakhirku, tengoklah pusara ibu pertiwiku… Katakan sesuatu tuan, bukankah tuan pandai berpetuah dan bernasihat, katakan tuan, lihat ibu pertiwiku tersenyum adalah kerinduanku sebelum aku menghadapmu ya Rabbii. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *