Langkah Politik Hartopo Masih Samar-samar, Beranikah Hartopo Berpikir Out Of The Box?

Sejak menjabat sebagai Pelaksana Tugas (PLT) Bupati Kudus, langkah Hartopo terlihat masih samar-samar. Publik pun masih sulit meraba kemana arah Kudus selanjutnya, pasca operasi tangkap tangan (OTT) KPK terhadap Bupati Kudus non-aktif Tamzil.

Hartopo masih belum terlihat powerfull. Ia terlihat masih menghitung, meraba, dan mengamati situasi belum pasti. Karena bagaimanapun sebelum ada putusan hukum sampai inkrah, jabatan definitif masih terlalu dini untuk diucapkan. Hartopo paham betul itu sebagai sebuah etika politik. Karena Tamzil-Hartopo bagaimanapun adalah satu paket kepemimpinan di Kudus, yang dipilih memalui proses demoktratis yaitu Pilkada.

Seorang pemimpin harus menatap ke depan dengan optimisme tinggi. Tidak boleh berlama-lama menengok kebelakang. Masa “berkabung” harusnya sudah selesai. Masa merajut, menata, meriview harus dipercepat. Hartopo harus memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat (strong leadership). Hartopo tidak lagi sebagai orang nomor dua atau wakil yang identik dengan ban serep. Hartopo kini merupakan orang nomor satu di Kota Kudus.

Karena itu dbutuhkan kecapakan sebagai seorang leader. Ibarat kapal Hartopo adalah nahkoda yang akan membawa Kudus empat tahun ke depan. Hartopo harus memiliki difrensiasi seorang pemimpin jika ingin dikenal dan dikenang oleh generasi mendatang. Hartopo harus mampu menciptakan program-program pro rakyat. Hartopo juga dituntut mampu membuktikan bahwa dirinya adalah sosok yang bersih dan memiliki semangat antikorupsi.

Sekarang saatnya Hartopo untuk tancap gas. Hartopo harus mulai mengurangi kegiatan yang sifatnya seremonial berganti ke arah pemberdayaan dan subtansial. Apalagi tantangan ke depan semakin terjal ditengah situasi ekonomi yang melamban. Dibutuhkan seorang leader yang betul-betul memahami kebutuhan warganya. Kang Hartopo harus bisa berpikir out of the box.

Banyak contoh pemimpin yang berhasil menjadi ikon perubahan dengan gaya(style) masing-masing. Salah satunya adalah Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Sosok Ibu Risma sendiri adalah padu sosok pemimpin yang rela berkorban demi warganya, tegas menyelesaikan sesuatu masalah, melakukan blusukan dengan gayanya sendiri, marah jika ada pelanggaran yang tertangkap oleh matanya, tidak berusaha menutupi segala sesuatu yang ia lihat tidak benar, apa adanya, tegas tidak kompromi jika itu merugikan warganya dan juga berjuang demi rakyat kecil. Ia tidak peduli dengan citra kepemimpinan yang di labelkan pada dirinya koboi dan nyentrik.

Jika kita belum mengenalnya secara jauh hanya melihat dan mendengar dari apa yang diberitakan, ada kemungkinan kita menarik kesimpulan kurang tepat. Membuat kita bisa mengeluarkan pernyataan yang negatif yang merugikan bukan hanya kita tetapi juga seluruh rakyat Indonesia. (Ali)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *