(Bukan) Mimpi Kudus Menjadi Kota Bahagia dan Kota Kreatif

KOTA KUDUS memiliki berbagai julukan. Seperti kota kretek, kota jenang hingga sebagai kota santri. Tentu saja, munculnya julukan memiliki dasar empiris maupun sosiologis.

Misalnya kenapa kota ini mendapat julukan kota kretek. Ada ratusan pabrik rokok (kretek). Data dari Kantor Bea Cukai Kudus sampai 2016 jumlah pabrik rokok baik kecil maupun besar sebanyak 102 pabrik. Jumlah itu lebih sedikit dari 2015 sebanyak 113 pabrik. Dari situ terlihat bahwa industri rokok atau kretek memiliki peranan cukup dominan. Walhasil, banyak masyarakat Kudus yang menggantungkan hidupnya dari penghasil asap ini. Rokok atau kretek sudah menjadi bagian hidup masyarakat Kudus.

Data dari Bappeda Kabupaten Kudus menunjukkan sebanyak 75 persen produk domestik bruto berasal dari industri rokok. Sehingga semakin terlihat rokok sangat dominan mengatur kehidupan ekonomi di Kudus. Akibatnya apa? Sektor lain tidak terlihat dan cenderung sulit untuk berkembang.

Julukan sebagai kota kretek ternyata hanya “menguntungkan” segelintir orang. Buktinya duo Hartono (Robet Budi dan Michael Hartono) menjadi orang terkaya di negeri ini berkat usaha rokok Djarum. Nilai kekayaan mereka mencapai 35 miliar dolar atau setara Rp 508 triliun.

Kita boleh berbangga, tapi jangan berlebihan. Faktanya masih banyak ketimpangan terjadi di kota ini. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) index gini ratio (IGR) kita tergolong tinggi yakni 4,01. Atau hampir mendekati IGR tertinggi yaitu Jogja sebesar 4, 03. Sebuah pekerjaan rumah besar bagi pemimpin kudus untuk membuktikan kerjanya.

Meninggalkan kota kretek, kota Kudus ternyata dikenal sebagai kota jenang. Makanan dari beras ketan ini sudah menjadi ikon kota ini. Layakanya dodol Garut, jenang Kudus menjadi oleh-oleh wajib yang harus dibeli saat berkunjung ke Kudus. Puluhan industri rumahan jenang Kudus cukup eksis. Salah satu yang menjadi motor adalah mubarokfood.

Selanjutnya, membicarakan Kudus sebagai kota santri. Julukan ini nampaknya juga tidak berlebihan. Ratusan pondok pesantren bercokol di kota ini. Mulai dari pondok salafiyah (kitab) hingga pondok tahfiz. Tidak hanya dari dalam kota, para santri berasal dari luar kota, luar Jawa hingga luar negeri. Mereka berkhidmat untuk menuntut ilmu di sini.

Dua tokoh besar yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria semakin menegaskan predikat kota santri. Semboyan Gusjigang (bagus, ngaji, dagang) dari Sunan Kudus melekat baik secara historis maupun sosiologis masyarakat Kudus.

Namun, ketiga julukan besar itu ternyata belum mampu menghidupkan roh kota ini. Kota ini masih terlihat sayu-sayu di tengah modernisasi yang sudah menjadi keniscayaan. Perilaku pemimpin dan birokrasi dianggap begitu berpengaruh terhadap kemajuan sebuah kota. Termasuk di Kudus. Sektor ekonomi yang selama ini menjadi penopang utama masyarakat, tidak bergerak dinamis.

Padahal di Kudus terdapat konglomerat nomor Wahid di negeri ini, namun itu ternyata belum mampu memberikan feedback positif. Bahkan, tingginya harga tanah di Kudus semakin membuat harapan hidup masyarakat terus menurun.

Akibatnya tingkat kematian tinggi. Belum lagi soal kriminalitas yang trennya terus naik dari tahun ke tahun. Lalu pertanyaannya Kudus harus seperti apa?
Kuncinya yaitu mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergerak. Ekonomi harus didorong dari bawah. Semua harus bahagia, harus happy. Konsep kota bahagia (happy city) bisa dimunculkan sebagai konsep baru dalam membangun sebuah kota.

Me-rebranding ulang kota Kudus bisa menjadi angin baru demi mewujudkan harmonisasi di tengah percaturan global. Industri ekonomi kreatif harus digalakkan, karena sektor ini terbukti mampu menyerap ekonomi yang luar biasa. Berbagai atraksi wisata, budaya dan kesenian harus digelorakan. Pemerintah, swasta dan masyarakat harus saling bersinergi. Saya beli masyarakat harus didorong dengan cara memperbanyak uang dibelanjakan masyarakat.

Kota Kudus mungkin bisa mencontoh kota-kota besar di dunia seperti Petronas (Malaysia) dan Las Vegas (USA) sebagai pelopor kota bahagia di dunia. Tidak semua ditiru, tetapi ada filter agar budaya lokal (kearifan lokal) bisa tetap terjaga.

Konsep kota bahagia dan kota kreatif merupakan satu paket yang harus utuh. Kedua memiliki peran masing-masing. Berbagai macam atraksi atau destinasi wisata harus terus dimunculkan di kota ini. Kita bisa mencontoh diantaranya kabupaten Purwakarta (Jabar), dengan menciptakan Air Mancur Bergoyang Sri Baduga, hal itu membuat kunjungan wisata ke daerah tersebut meningkat tajam. Kudus pun bisa dan sangat memungkinkan. Misalnya kita bisa memanfaatkan layar 3D dan LED untuk dihidupkan di sudut-sudut kota. Dengan begitu maka akan menjadi titik kumpul, tidak hanya warga lokal tapi luar daerah pun akan berkunjung kesini.

Even budaya, seni dan pertunjukkan musik, teater dll harus digelar rutin di kota ini. Dengan begitu banyak sektor akan tergerak mulai dari kuliner, fashion, perdagangan, transportasi, perhotelan dan lain-lain.

Langkah besar ini bukan hal yang mustahil ketika semua pihak dapat saling urun rembuk demi kemajuan sebuah kota. Sudah saatnya Kudus menjadi kota bahagia dan kota kreatif. (ALI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *