Hartopo Harap UKM di Kudus Bisa Naik Kelas di 2020

Kudus, KUDUSSATU.com–Pemerintah Kabupaten Kudus berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM). Sebab di kota santri, UMKM selama ini menjadi salah satu penyangga utama perekonomian daerah.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kudus HM. Hartopo mengatakan, selama ini UKM teruji dan bisa bertahan dalam melawan arus ekonomi global yang terus berkembang.

“Sehingga keberadaannya harus mendapat dukungan dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat,” katanya kepada kudussatu.com.

Ia menyebutkan, salah satu masalah yang kini dihadapi UKM adalah terkait permodalan. Untuk itu, harus ada solusi bersama antar lembaga, sehingga para pelaku di dalamnya mampu mengakses modal dengan bunga yang rendah atau bahkan bisa tanpa bunga sekalipun.

“Ini adalah tantangan bagi kita, bagaimana tahun 2019 ini menjadi starting point untuk memajukan UKM kita,” ujar Hartopo.

Hartopo menambahan, semangat pengembangan UKM ini harus menjadi perhatian bersama, sehingga upaya untuk mengembangan UKM bisa terealisasi. Karena itu, pihaknya mendorong kepada Dinas Tenaga Kerja Perindustrian Koperasi dan UKM agar terus memperhatikan dan mengembangkan potensi para pelaku usaha di dalamnya.

“Saya harap tahun 2020 usaha yang kecil bisa naik kelas jadi menengah dan seterusnya,” harapnya.

“Koperasi sebagai lembaga keuangan diharapkan mampu bersinergi dengan baik dengan UMKM. Tujuannya, agar keduanya mampu menjadi penopang perekonomian khususnya di Kabupaten Kudus,” imbuh Hartopo.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Perindustrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disnakerpeeinkop UKM), Bambang TW menyatakan salah satu program yang sedang serius digarap yaitu mencetak wirausaha baru, khususnya dikalangan anak muda.

“Termasuk untuk mendukung visi-misi Bupati Kudus untuk mencetak 500 wirausaha baru setiap tahunnya,” katanya.
Bambang menambahkan dalam rangka mendukung program wirausaha baru, Disnakerperinkop UKM Kudus mengadakan pelatihan kewirausahaan sejak 2018 lalu.

“Tidak hanya sekedar mendapat teori, tapi juga banyak prakteknya. Termasuk mereka kami ajari untuk membuat business plan (perencanaan bisnis),” ungkap Bambang.

“Setelah dianggap berhasil untuk mengikuti pelatihan. Mereka akan mendapatkan bantuan permodalan dalam bentuk kelompok setelah, jika proposal atau business plan disetujui karena layak dibiayai,” pungkasnya.(Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *