Pak Tamzil!!! Penting Mana Bangun Mal Baru atau Ciptakan Program Padat Karya di Kudus?

Baru-baru ini Bupati Kudus HM Tamzil mengabarkan bahwa akan ada investasi masuk yaitu sebuah pusat perbelanjaan modern atau Mal baru. Orang nomor satu di Kudus itu bahkan menyebut secara gamblang Mal baru yang dimaksud yaitu Transmart.

Bahkan, Pemkab Kudus terang-terangan menwarakan lahan bagi gerai ritel milik Chairul Tanjung (CT). Seberapa pentingkah Mal atau pusat perbelanjaan dan mampukah ikut menggerakkan ekonomi masyarakat Kudus?.

Padahal kita ketahui sudah ada beberapa gerai ritel bercokol di kota terkecil di Jawa Tengah ini. Seperti Matahari Departemen Store, Hypermart, Ramayana dan Ada Swalayan.

Diakui bahwa kehadiran mal sangat penting bagi perekonomian Indonesia. Sementara di sisi yang lain kehadiran mal justru merugikan.Mal dinilai positif karena potensi pengembangan ekonomi lebih terbuka. Kemudian arus investasi dari developer (pengembang) masuk.

Di sisi yang lain, keuntungan adanya mal adalah menggenjot penerimaan pendapatan asli daerah (PAD) dalam hal ini Pemerintah daerah (Pemda). Keberadaan Mal dapat menambah pajak untuk daerah dan ada sebuah pusat perputaran uang yang cukup besar untuk Pemkab.

Kemudian salah satu peran penting mal adalah mendorong peningkatan konsumsi dalam negeri. Konsumsi dalam negeri adalah salah satu aspek penting pendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Apakah langkah Tamzil membuka keran investasi di bidang perdagangan ritel ini sudah tepat? Atau justru sebaliknya justru menganggu sektor ritel perdagangan kecil. Tentu berbagai aspek harus menjadi pertimbangan matang bagi kepala daerah. Tidak hanya sekadar menarik investor tapi juga harus memikirkan dampak ekonomi masyarakat. Seperti penciptaan lapangan kerja (padat karya) dan kepastian usaha justru yang dibutuhkan masyarakat saat ini di tengah situasi ekonomi yang kecenderungan menurun. Program padat karya dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan harus terus didorong agar ekonomi tetap tumbuh dan bergerak.

Termasuk bagaimana membuka akses pasar dan pembiayaan murah bagi pelaku usaha di Kudus. Selain mendorong sektor produksi, menjalin kerjasama dalam rangka membuka pasar bagi produk unggulan UMKM. Baik pasar domestik maupun pasar luar negeri.

Adanya program pelatihan dan pemberian modal untuk wirausaha baru merupakan langkah baik. Namun, kami melihat masih banyak sisi kelemahan. Tidak hanya regulasinya tapi implementasinya juga lemah. Karena terkesan program itu bersifat seremonial. Sehingga cukup sulit untuk menghasilkan output yang diharapkan yaitu menciptakan 500 wirausaha baru setiap tahunnya.

Pelatihan memang penting, namun jauh lebih penting bagaimana pelaku UMKM diberi fasilitas seperti akses pasar, pembiayaan, peningkatan kapasitas, riset dan pengembangan. Butuh kerja keras dan semoga bukan sekedar program pencitraan. Kita tunggu kiprah dan program kongkret Tamzil untuk mewujudkan Kudus yang Maju, Modern, Cerdas, Santun dan Sejahtera. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *