BPS: Optimisme Pebisnis dan Konsumen Turun

KUDUSSATU.COM–Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan optimisme pelaku bisnis maupun konsumen sepanjang kuartal I-2019 menurun. Pada periode tersebut,

Indeks Tendensi Bisnis (ITB) turun menjadi 102,10 dibanding triwulan IV-2018 yang sebesar 104,71. Selain itu, Indeks Tendensi Konsumen (ITK) juga turun menjadi 104,35 dari triwulan IV-2018 yang sebesar 110,54.

“Meski optimismenya turun, namun secara umum hal ini menunjukkan kondisi bisnis yang terus meningkat dan konsumen merasakan perbaikan kondisi ekonomi,” ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers di Gedung BPS, Jakarta, Senin (6/5) dikutip dari Alenia.id.

Dari 10 kategori lapangan usaha, kondisi bisnis yang membaik dan optimisme pelaku bisnis tertinggi terjadi pada kategori jasa keuangan dan asuransi, dengan nilai ITB sebesar 110,78. Sementara kondisi bisnis terendah terjadi pada kategori lapangan usaha pertambangan dan penggalian dengan nilai ITB sebesar 92,04.

Peningkatan kondisi bisnis ini disebabkan oleh meningkatnya seluruh komponen pembentuk indeks, yaitu rata-rata jumlah jam kerja dengan nilai indeks sebesar 103,25, penggunaan kapasitas produksi/usaha dengan nilai indeks sebesar 101,97, serta komponen pendapatan usaha dengan nilai indeks sebesar 101,07.

Demikian pula dengan ITK, dari 23 provinsi, nilai ITK tertinggi terjadi di Provinsi DI Yogyakarta sebesar 115,55, dan terendah terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 86,63.

Perbaikan ekonomi yang dirasakan konsumen pada triwulan I-2019 ini didorong oleh meningkatnya volume konsumsi dengan nilai indeks sebesar 108,83, tidak berpengaruhnya inflasi terhadap tingkat konsumsi rumah tangga dengan nilai indeks sebesar 105,86, dan meningkatnya pendapatan rumah tangga dengan nilai indeks sebesar 101,66.

Prediksi kondisi bisnis dan konsumen triwulan II-2019
BPS memproyeksikan kondisi bisnis dan konsumen pada triwulan II-2019 akan tumbuh masing-masing sebesar 106,44 dan 120,90. Demikian pula dengan optimisme kedua aspek tersebut.

Peningkatan kondisi bisnis diperkirakan terjadi pada seluruh kategori lapangan usaha, kecuali pada kategori lapangan usaha pertambangan dan penggalian.
Suhariyanto mengatakan perbaikan kondisi bisnis yang terjadi selama triwulan II-2019 disebabkan oleh adanya peningkatan permintaan dari dalam negeri dengan nilai indeks 114,29, permintaan dari luar negeri sebesar 101,11, dan harga jual produk sebesar 110,05.

Sementara itu, permintaan barang input cenderung stagnan dengan nilai indeks sebesar 100,32. Optimisme pelaku bisnis tertinggi diperkirakan akan terjadi pada kategori lapangan usaha transportasi dan pergudangan dengan nilai indeks sebesar 128,17.

Sementara itu, optimisme pelaku bisnis terendah diperkirakan terjadi pada kategori lapangan usaha pertambangan dan penggalian dengan nilai indeks sebesar 99,81.

Demikian pula peningkatan kondisi ekonomi konsumen disebabkan oleh perkiraan meningkatnya komponen pendapatan rumah tangga dengan nilai indeks sebesar 132,56.

Sementara itu, komponen rencana pembelian barang tahan lama, melakukan rekreasi, maupun menyelenggarakan pesta/hajatan cenderung stagnan dengan nilai indeks sebesar 100,47.

Pada tingkat provinsi, peningkatan kondisi ekonomi konsumen diperkirakan terjadi di seluruh provinsi di Indonesia. Perkiraan nilai indeks triwulan II-2019 tertinggi terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan nilai indeks sebesar 132,73. Sementara itu, perkiraan nilai indeks triwulan II-2019 terendah terjadi di Provinsi Kalimantan Barat dengan nilai indeks sebesar 103,93.(AL/AH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *