Skandal Pemilu Malaysia Terjadi, Elektabilitas Jokowi Diperkirakan Mangkrak, Benarkah Rakyat Tengah Menghukum Jokowi?

Seakan tak berhenti didera badai, belum tuntas kasus BSP dan amplop bergambar jempol, publik kembali dibuat terkejut dengan skandal surat suara tercoblos di Malaysia. Lagi-lagi kubu jokowi tersudutkan dengan skandal pemilu di Malaysia tersebut.

Skandal tercoblosnya surat suara di Malaysia bermula dari pesan WA yang dikirim oleh relawan satgas padi (Prabowo-Sandi) bernama Parlaungan kepada ketua Panwaslu Kuala Lumpur Yaza Azzahara Ulyana tanggal 11 april 2019 bahwa telah terjadi pencoblosan surat suara secara ilegal di Selangor Malaysia.

Tepatnya disebuah toko yang berlokasi di Taman Universiti Sungai Tangkas Bangi 43000 Kajang, Selangor Malaysia.

Yaza bersama temannya Rizki Israeni Noor dengan disaksikan kepolisian Malaysia menemukan 20 buah tas, 10 buah kantong plastik hitam,dan 5 buah karung goni berwarna putih dengan tulisan pos Malaysia, semuanya berisi surat suara pileg dan pilpres berjumlah sekitar 10.000-20.000 surat suara. Sebagian dari sampel yang dibuka sudah tercoblos untuk paslon no urut 01, dan partai Nasdem dengan caleg no urut 3.

Tak hanya itu, Yaza juga dapat info adanya rumah yang dijadikan gudang tempat penyimpanan surat suara,berlokasi di kawasan Bandar Baru,Bangi, Selangor.

Dilokasi kedua ,Yaza menemukan 158 karung yang berisi surat suara yang tercoblos. Ada yang dicoblos paslon capres no 01, partai nasdem,caleg no 2,dan sebagian ada yang dicoblos partai demokrat,caleg no 3. Total dari kedua lokasi yahya menperkirakan ada sekitar 40.000-50.000 surat suara.Tak jelas rinciannya berapa. Surat suara untuk pilpres tercoblos,dan berapa surat suara untuk pileg yang tercoblos. Yang jelas berita sudah terkonfirmasi,dan telah diproses di kantor kepolisisan setempat.

Sontak berita skandal tercoblosnya surat suara pemilu di Malaysia menjadi viral. Tak kurang Bawaslu RI dan KPU pun bereaksi. Mereka mengirim tim berangkat ke Malaysia untuk melakukan investigasi secara menyeluruh. KPU bahkan menjanjikan akan menuntaskan masalah ini sebelum masa pencoblosan. Tak kalah keras,bawaslu RI melalui anggotanya Fritz Edward Siregar meminta pemilu dimalaysia distop.

Jokowi pada keterangannya menegaskan agar masalah tersebut diserahkan pada KPU dan Bawaslu,karena bukan ranah pemerintah. Terkait dugaan adanya aspek pidana,Jokowi meminta polri yang menyelesaikan soal keberadaan dan keterlibatan Rusdi Kirana, Jokowi terlihat enggan berkomentar.

Terlepas dari persoalan hukum soal skandal tercoblosnya surat suara di Malaysia, sedikit banyak akan membuat publik menjadi khawatir. Apakah pemilu yang tinggal hitungan hari akan bisa berlangsung aman, dan jurdil?.

Hendro priyono mantan kepala BIN menegaskan bahwa pemilu akan tetap aman,mengingat TNI dan Polri telah siap mengamankan jalannya pemilu 2019.

Sementara AHY berpendapat bahwa skandal tercoblosnya surat suara pemilu di Malaysia secara ilegal,sangat mengkhawatirkan,dan meminta pihak terkait untuk segera memastikan bahwa masalah tersebut terusut tuntas,dan jalannya pemilu sesuai harapan semua pihak.

Reaksi berbeda justru datang dari kedua kubu paslon capres. Pihak TKN justru mencoba mengaburkan masalah dengan pengalihan isu,mulai dari mencurigai keterlihatan BPN sebagai dalang,hingga menuduh Yaza sebagai anggota tim BPN.

Suatu sikap yang cenderung mengabaikan kepentingan nasional,dan bersifat egisentris. Entah paham atau tidak,bahwa peristiwa memalukan bangsa Indonesia ini telah diliput oleh media asing,sehingga narasi yang bersifat membangun opini dan cari alibi semakin membuat kualitas demokrasi di Indonesia akan semakin dipertanyakan bangsa lain. Terlebih polisi kerajaan Malaysia sudah terlibat,dan menjaga fakta yang ada.

Sikap TKN yang seperti ini hanya akan melukai rakyat Indonesia,mengingat berita tersebut sudah terekspose luas.

Pada sisi elektoral diperkirakan akan membuat elektabilitas Jokowi akan semakin mangkrak,mengingat moralitas publik dilukai dengan dagelan yang dikarang tim TKN.t Tuduhan bahwa Yaza adalah anggota tim BPN hanya berdasar foto,sangatlah absurd. Apalagi ada bantahan dari Yaza,anggota bawaslu Mohammad Afifuddin membantah soal keterlibatan Yaza di kubu paslon 02.

Apalagi seorang relawan 02 yang bernama Idawati Murbaningrum telah mengakui bahwa dirinyalah yang berfoto dengan tim BPN Prabowo-Sandi. Jadi tuduhan ini termasuk hoax? (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *