Pelacuran Marak Merata di Indonesia, Ulamanya Asyik Berebut Kuasa, Kalangan Elit Sibuk Menebar Dusta, Benarkah Harga Diri Bangsa Telah Runtuh ?

Beberapa waktu lalu kita pernah mendengar pidato kebangsaan yang dilakukan AHY yang mempertanyakan apa kabar revolusi mental. Revolusi mental merupakan satu dari sekian banyak janji Jokowi waktu pilpres 2014, dimana Jokowi berjanji akan membenahi mental birokrasi dan aparatur negara agar lebih profesional dan berintegritas dalam nemjalankan tupoksinya. Jokowi menjanjikan adanya revolusi mental,dan tak bagi-bagi kekuasaan dengan parpol pendukungnya. Janji Jokowi dikenal dengan istilah “nawacita”.

Sayang janji itu tidak dijalankan,dan revolusi mental lenyap tak berbekas.Yang terlihat justru bagi-bagi kekuasaan dengan parpol pendukungnya.Entah memang tidak ada niat menjalankan revolusi mental,atau mengalami kesulitan dalam implementasinya, yang jelas pelan tapi pasti masyarakat mengalami degradasi moral yang sangat parah.

Kita saksikan dimana-mana marak prostitusi,tersebar merata di seluruh indonesia.pelakunya pun miris,dari orang kebanyakan yang terdesak ekonomi, hingga pelajar, mahasiswi, pegawai kantoran,pns,bahkan hingga jalangan artis.tidak lagi dikarenakan faktor kesulitan ekonomi,melainkan cari jalan pintas memperoleh kekayaan.

Lebih mengejutkan lagi, soal terungkapnya fakta persidangan dimana seorang artis bernama VA pernah dibooking menteri untuk menemani dinner. Wah….menterinya sendiri gak bermoral,pantes revolusi mental cuma jadi jargon iklan di televisi. Miris,lihat isi menteri di kabinet Jokowi-JK.

Memang tidak semua menteri kabinet Jokowi-JK bermental bobrok,tapi keberadaan menteri yang membooking artis untuk prostitusi benar-benar sudah biadab,melukai kepercayaan rakyat indonesia,bahkan melukai ajaran agama,ideologi bangsa,dan cita-cita kemerdekaan RI.

Bagaimana caranya rakyat untuk percaya pada apa yang dikatakan pemerintah,bila fakta hukum bicara soal terlibatnya seorang menteri dalam transasksi prostitusi?entahlah bagiamana caranya Jokowi-JK menjelaskan pada rakyatnya soal menteri yang terlibat pada kasus prostitusi. Wajar juga bila seorang moralis seperti Yudi Latief memilih mengundurkan diri dari ketua BPIP (badan pembinaan ideologi pancasila),mungkin dia putus asa melihat kebobrokan mental menteri diatas.

Seolah keberadaan BPIP hanya sebagai pemanis ruangan kabinet,dan fungsi tak berjalan. Faktanya tertangkapnya ketua umum partai PPP Rommy,yang juga bagian dari tim suksesnya tkn Jokowi. Rommy ditangkap oleh kpk terkait kasus jual beli jabatan di tubuh Kemenag. Lagi-lagi kabinet Jokowi bermasalah.

Padahal di tubuh koalisi Jokowi-JK ada keberadaan Surya Paloh, tokoh yang gemar bicara soal restorasi indonesia,bicara soal moral publik,belum ditambah masuknya PPP,PKB,kok masih belum mampu realisasikan revolusi mental,jangan-jangan asyik beretorika,lupa memberi contoh dan keteladanan nyata. Atau benar terbukti apa yang menjadi doktrin Folklor dikalangan akademisi bahwa” intelektual itu boleh salah, tapi tak boleh bohong. Sedangkan penguasa itu boleh bohong tapi tak boleh salah”. Jadi siapa yang sering berbohong?.

Apakah untuk menjadi elit harus menempuh jalan terjal bernama dusta? Wah…kacau kalo begini..cita -cita Bung Karno soal Trisakti,dan prinsip nation character building pasti tinggal kandas.

Ditangkapnya Romny, Surya Dharma Ali oleh KPK ternyata tak juga membuat para ulama surut niatnya untuk berlomba ikut berebut kekuasaan. Tercatat ma’ruf Amin,m Muhaimin Iskandar, Taj Yasin, masih ada dalam sirkulasi kekuasaan.

Ulama sebagai benteng masyarakat yang terakhir,sebagai pewaris nabi,berubah menjadi petarung yang tangguh dalam kontestasi berebut kekuasaan. Saking tangguhnya banyak beredar isu bahwa bila pasangan x dan pasangan y yang menang,hari santri akan dihapus, adzan akan dilarang, dzikir,dan tahlil akan tak lagi ada di istana,bahkan ada tuduhan akan muncul khilafah di Indonesia. Bahkan yang lebih ngeri ,adanya niat menghabisi Ahok. Wah…sereeem…ingat umat pak kyai…

Ketika ulama meninggalkan umat, agama berubah jadi alat, islam yang harusnya adalah nafas berubah jadi alat meraih kekuasaan. Matrealisme jadi tujuan,lantas umat harus berguru sama siapa? Kemana rakyat mendapatkan furqon bila ulama terseret pusaran politik berujung pada kekuasaan?apakah dengan banyaknya ulama hijrah ke arena kekuasaan lantas Indonesia akan menjadi lebih baik?.

Tengoklah munculnya abad pertengahan di Eropa, ditandai dengan adanya kegelapan sebelum munculnya gerakan renaissance.Gereja begitu mendominasi, bahkan punya tentara sendiri. Apakah lantas rakyatnya sejahtera? Inkuisisi gereja berjalan meluas,kaum intelektual dihabisi, tiket penebusan dosa diobral,hingga Marthin Luther, Calvin, Karl Marx memberontak. Apakah fakta di Eropa belum cukup jadi pelajaran ?.

Sekali lagi..jangan jadikan islam sebagai alat, jadikan islam sebagai nafas. Agama berfungsi sebagai jalan hidup, tuntunan menyeberangi dunia -akhirat, bukan jalan meraih kekuasaan apalagi mendustakan islam. Dengan perilaku korup kami umat islam,tak rela nabi Muhammad S.A.W jadi barang murahan, ajarannya berubah jadi recehan.Silahkan berkompetisi pada alam demokrasi,karena aturannya membolehkan. Tapi jangan jadikan islam menjadi agama recehan, ulama terlibat korupsi,terlibat money politik,terlibat persekongkolan jahat menggelapkan umat,ini yang kami umat islam akan melawan,siapapun dan dimanapun. Islam agama mulia,bukan alat hina meraih kekuasaan apalagi,bila kekuasaan diselewengkan betul-betul nista dan menjijikkan.

Situasi kebangsaan yang begitu rumit,dimana moralitas publik dihimpit oleh kekuasaan,mengubah jalan budaya menjadi jalan material akan menyebabkan rusaknya peradaban bangsa Indonesia. Hingga timbul pertanyaan benarkah harga diri bangsa telah runtuh?.

AHY dalam orasinya di Bandung mengatakan bahwa rezim saat ini telah sebabkan turunnya harga diri bangsa. Senada dengan Ahy,mantan Menko Perekonomian, yang juga orang senior di PDIP Kwik Kian Gie mengatakan hanya Soekarno, Soeharto,dan Gus Dur yang berani melawan dominasi asing.

Kuatnya penghambaan rakyat pada penguasa dan kaum pemilik modal,membuat posisi ulama hari ini patut dipertanyakan. Benarkah mereka memang layak sebagai pewaris nabi? Integritas ulama harus kembali betapapun mahalnya harga yang harus dibayar. Tentu saja jalannya jalan konstitusional,bukan jalan terorisme.

Cendikiawan muslim harus bersatu, menjunjung agama islam sebagai nafas, tidak lagi hanya sebagai komprador untuk merusak moral masyarakat. Kami merindukan islam yang mulia,islam yang membawa pesan damai,sejuk dan membahagiakan. Bukan oknum yang mengatas namakan islam, bertingkah menjijikkan dan merusak harga diri. bangsa. Sekali lagi,jadikan islam sebagai nafas,bukan alat recehan. Halo…apakabar pak kyai?(redaksi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *