Benang Kusut Demokrasi Liberal Menghantam NKRI: “Narkoba, Prostitusi, Pembunuhan, Miras, Pencurian, Korupsi Ada Dimana-Mana”, Rakyat Bertanya Ini Semua Tanggung Jawab Siapa?

Demokrasi liberal atau yang dikenal sebagai western democracy, atau american democracy memiliki pengertian suatu demokrasi yang berdasarkan pada pengakuan hak individu dan kebebasannya.

Dalam kamus Cambridge memiliki pengertian suatu bentuk sistem pemerintahan dimana perwakilan-perwakilan demokrasi bekerja atas prinsip liberalisme yaitu melindungi hak individu dan menuangkannya dalam bentuk aturan.

Ada beberapa kata kunci untuk memudahkan dalam mencirikan wajah demokrasi liberal, yakni ada konstitusi, ada hak-hak individual rakyat yang dilindungi, ada parpol sebagai pilar transmisi kekuasaan,ada pemilu, ada chekc and balances,serta ada pembatasan kekuasaan.Tokoh pengusung demokrasi liberal yang terkenal, diantaranya John Locke, JJ. Rosseou, Thomas Hobbes, dll.

Dari uraian diatas, maka kita seolah akan menemukan jalan mulus untuk meraih kesejahteraan. Nyatanya tidak, Juan Linz berulangkali menyebut bahwa demokrasi bisa dirampok. Suara rakyat bisa dibeli,dan Robert Dahl melengkapi bahwa sisi gelap demokrasi adalah munculnya tirani mayoritas. Suara mayoritas menindas suara minoritas.tidak dikenalnya veto minoritas, dimana setiap keputusan parlemen selalu dilandasi voting menyebabkan idealisme akan dimangsa pragmatisme. Ideologi tertindas oleh oligarkhi parpol.

Situasi diatas masih belum cukup untuk menggambarkan kengerian praktek oligarkhi kekuasaan, yakni munculnya monster baru,yakni sistem pemilu yang menggunakan sainte lague, sistem pemilu langsung dengan sistem kanibalisme, partai kuat akan memangsa partai lemah.

Sistem pemilu langsung yang memakan ongkos politik yang mahal,dikawinkan dengan sistem sainte lague karya Andre Sainte Lague (Perancis), dimana suara partai ditentukan oleh parliementary treshold,dan jumlah perolehan suara dibagi dengan bilangan ganjil untuk mengkonversi menjadi kursi. Yang kuat makin kuat,yang lemah akan terusir dari senayan.

Bila ongkos pemilu mahal, maka pilihan rasional parpol hanyalah membangun oligarkhi,dagang kewenangan,calo anggaran, calo BUMN,calo undang-undang dll. Meski demikian tidak semua parpol,dan anggota parlemen merecehkan dirinya. Masih ada yang punya integritas dan memiliki kapasitas yang baik sebagai anggota legislatif,atau bahkan duduk di jabatan eksekutif,misal menjadi menteri,dll.

Munculnya praktek liberalisasi kekuasaan berimbas pada hancurnya moralitas publik,menyebabkan banyak oknum aparatur negara juga ikut menyalahgunakan diskresi,dan kewenangannya.Suap,pungli,korupsi,manipulasi menjadi benang kusut praktek penyelenggaraan pemerintahan dan negara.

Di ketika legislatif tercemar oknum, eksekutif bernasib sama,yudikatif pun idem,maka rakyat akan mengalami kerumitan dalam menjalankan kehidupan sebagai warga negara,bahkan negara akan kehilangan haluannya untuk menuju cita-cita besar ,sesuai amanat UUD 1945.

Hilangnya haluan negara akan sebabkan munculnya prinsip ketidakseimbangan, dimana yang kuat,yang punya modal,dan yang punya otoritas akan sanggup mengendalikan apa saja,termasuk mengendalikan generasi,dan masa depan suatu bangsa.Maka tak heran kita saksikan peredaran narkoba,prostitusi,miras,dll. Semua peredaran barang diatas selalu melibatkan oknum aparat pemerintah dan negara.

Rakyat hanya bisa merasakan,tapi tak tahu cari jalan keluar. Kehidupan rakyat semakin dikepung oleh zombie pengedar dan pecandu narkoba,Sikap kasar kaum pemabuk yang teracuni miras, pencurian, hingga korupsi tak ada berhentinya,bahkan pembunuhan dan bunuh diri juga masuk dalam lingkaran nestapa yang harus dijalani rakyat.

Angka penderita hiv/ aids akan meningkat, KDRT terus terjadi, pornografi dan pornoaksi makin tak terbendung,dan akhir-akhir ini satu demi satu perempuan terbunuh dimana-mana,oleh sebab yang bervariasi.Ini gambaran yang akan terus berulang manakala, demokrasi liberal tak diimbangi dengan moral dan etika politik yang baik.Dan puncaknya rakyat akan bertanya ini semua tanggungbjawab siapa?

Sebagai negara yang menganut sistem presidensiil maka puncak pemegang otoritas adalah presiden.Presiden memiliki fungsi sebagai kepala pemerintahan dan sekaligus sebagai kepala negara. Presiden sebagai kepala negara memiliki banyak otoritas untuk menuntaskan berbagai problem yang dihadapi oleh bangsa maupun masyarakat secara luas.

Pelan tapi pasti rakyat akan tersudut. Kepungan hiv/aids, narkoba, miras, terorisme, prostitusi, dan bunuh diri akan menyebabkan jutaan rakyat jadi korban.
Rakyat membutuhkan kehadiran negara,agar terlindungi. Membutuhkan sosok kepala negara yang punya strong leadership, sekaligus punya visi besar menuntaskan problem rakyat diatas.

Rakyat membutuhkan sosok pemimpin yang tak banyak waktunya kesita untuk syuting pencitraan,butuh kepribadian yang baik,yang tak suka katakan sontoloyo,genderuwo,hantu,tuyul,dsb. Rakyat butuh dibimbing, dicerdaskan,tidak dijerumuskan.

Rakyat membutuhkan pemimpin yang sanggup melindungi segenap tumpah darah rakyat Indonesia, petugas partai tak cukup, pemimpin koalisi partai juga nggak cukup, apalagi pemimpin yang suka marah-marah.

Memang rakyat Indonesia tak punya Duterte, juga tak punya Abraham Lincoln. Tapi rakyat akan rindu suara gelegar Bung Tomo tak hiraukan desing mesiu,agar bisa kibarkan bendera merah putih. Rindu prasasti Bung Karno pancasila dan UUD 1945, lebih pas dengan watak rakyat Indonesia. Rindu hakim Artidjo Alkostar yang kirim bandar narkoba ke algojo regu tembak. Tak perduli soal HAM,yang penting rakyat dan generasi selamat.

Rakyat rindu gerilya pak Sudirman, mengganyang kolonialisme yang merusak rakyat,rindu pada Hoegeng yang tak haus kekuasaan,berani tegakkan hukum. Rakyat rindu pada kebebasan,bebas dari kerubutan penyakit masyarakat diatas.

Rakyat tak paham soal demokrasi liberal, efek buruknya juga tak paham. Buat mereka yang berkuasa,kapan rakyat tak lagi saksikan berita televisi soal narkoba,miras,pembunuhan,bunuh diri,terorisme,hiv/aids,prostitusi merajalela? Mohon tuntaskan dulu masalah diatas,baru ajak rakyat lihat soal bandara,infrastruktur, tol laut,tol langit. Juga biar bangga dan tersenyum lihat presidennya jadi stuntman di Asian Games?

Ingat, tuan penguasa, kemerdekaan itu mahal harganya,tak cukup dengan membungkuk pada tuan cukong, tak cukup dengan salam hormat pada ketua parpol, darah para pahlawan itu tumpah hanya untuk membela rakyat yang hari ini diserbu zombie bernama narkoba,miras,prostitusi, hiv/ aids, pencurian, korupsi, pungli, terorisme, efek dari liberalisasi kelewat batas.(redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *