Malaiha, Dosen IAIN Kudus: Money Politics dan Golput Jadi Persoalan Klasik di Pemilu

Kudussatu.com, Kudus–Calon pemilih, khususnya kalangan milenial masih kesulitan untuk menentukan pilihan calon wakil rakyat pada pemilu legislatif (pileg) yang akan berlangsung 17 April 2019. Padahal spanduk para caleg penuh menghiasi ruang publik.

“Mereka (milenial) faham kapan pemilu tapi untuk memilih siapa, hanya capres dan cawapres yang mereka sangat faham. Selebihnya tidak fahan, partai apa, calon DPR RI siap, DPRD Provinsi siapa belum ada nama yang akan dipilih,” kata Siti Malaiha Dewi, narasumber dalam acara Ngobrol Politik (NGOPI) yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Program Studi Pemikiran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN Sunan Kudus bekerjsama dengan KPU Kudus, Senin ( 1/4/2019).

“Untuk caleg DPRD kabupaten beberapa memang sudah memiliki pilihan karena hubungan kekerabatan. Ada juga karena faktor tetangga,” imbuhnya.

Malaiha menyebutkan, ada beberapa persoalan klasik yang mengikuti setiap momen pemilu. Yaitu persoalan money politic, golput, dan rendahnya partisipasi perempuan.

Lebih lanjut, jika pemilu sudah final sebagai satu-satunya metode dalam pergantian pimpinan. Bukan sistem AHWA atau yang lain.

“Pemilu adalah manifestasi dari kontrak sosial antara rakyat dan negara serta bentuk keridloan rakyat untuk serahkan hak-haknya agar diurus oleh beberapa orang terpilih yang duduk di pemerintahan,” ungkap Kepala Progdi Pemikiran Politik Islam IAIN Sunan Kudus.

Dalam diskusi yang diikuti sekitar 200 peserta (mahasiswa). Maliha melontarkan beberapa pertanyaan sebagai brainstrooming sebagai berikut;. Apakah tau kpn pemilu dilaksanakan?, Siapa peserta pemilu?, Apakah akan menggunakan hak untuk memilih? Kalay iya apa alasanya, kalau tidak kenapa, Kl iya, hendak memilih partai apa? Alasanya? Sudah punya pilihan untuk DPR RI, DPRD prov, DPRD Kab, DPD? Kenapa memilih yang bsangkutan?, Kalau dikasih 50 rb berubah pilihan?, Kalau dikasih 100 rb?,Jenis kelamin jadi referensi pilihan?, Apa sih yang jadi referensi?.

Sementara itu, wakil Rektor IAIN Kudus DR. Ikhsan, M.Ag mengungkapkan bahwa dalam memilih pemimpin hendaknya berdasarkan pada kaidah Islam.

“Apabila perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancuranya,” kata Ihsan ketika membuka acara dialog.(Al/Ah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *