The Power of Emak-emak, Sebuah Potret Kebangkitan Era Feminisme Melawan Kuasa Money Politics, Siapa Lebih Unggul?

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan peristiwa ditangkapnya anggota DPR RI dari Golkar,yakni Bowo Sidik Pangarso oleh KPK. Dari OTT KPK tersebut,didapati sejumlah barang bukti,diantaranya berupa 84 kardus berisi 400 ribu amplop dengan nominal uang 20 ribu dan 50 ribu rupiah.Menurut keterangan KPK,uang tersebut rencanya dipergunakan untuk serangan fajar saat pemilu tiba.

Pada saat bersamaan beredar pula adanya amplok bergambar jempol,yang sering dikaitkan dengan kode nomor urut paslon capres.KPK sendiri telah membantah keterkaitan amplop yang disita dari tersangka Bowo Sidik Pangarso dengan pilpres.Demikian juga tanggapan dari TKN Jokowi-Ma’ruf Amin. TKN tegas mengatakan tidak ada kaitan antara kasus Bowo Sidik Pangarso dengan paslon 01.

Keberadaan amplop yang dimiliki oleh BSP seakan menegaskan bahwa untuk bisa menang pemilu,khususnya pileg setiap caleg diwajibkan memberi amplop pada para pemilihnya.Kebiasaan ini dikenal dengan istilah money politics. Sebuah istilah yang sering jadi lelucon pemilu,yakni no money no vote,atau istilah NPWP (nomor piro wani piro).

Masyarakat tampaknya sudah familiar dengan money politics,sebagian ada yang menolak,sebagian lagi ada yang permisif. Rendahnya integritas caleg,kemiskinan,sikap oportunis,dan prejudice menjadi faktor yang membuat money politics menjadi semacam new habit meski demikian imbauan untuk memerangi,menolak,dan tidak ikut arus kebiasaan dan kekuasaan sering kita dengar.

Di desa Donohardjo Sleman dan di desa Sentolo Kulonprogo Yogyakarta,ada seklompok emak-emak yang mendeklarasikan diri anti politik uang. Sikap emak-emak di kedua desa diatas,memunculkan inspirasi tentang kebangkitan gerakan feminisme di Indonesia. Apakah feminisme itu?

Feminisme berasal dari bahasa latin femina artinya perempuan. Feminisme memiliki pengertian sebuah gerakan yang menuntut kesetaraan hak dan keadilan dengan kaum pria.Di Indonesia sering dikenal dengan istilah emansipasi.

Gerakan ini secara umum terbagi menjadi 3 gelombang,yakni: gelombang pertama dikenal dengan istilah suara perempuan. Di fase pertama muncul kelompok feminis liberal,feminis radikal,dan feminis sosialis-marxis. Fokus gerakan:hak reproduksi,hak politik, hak kesetaraan gender,dan hak seksualitas.

Gelombang kedua dikenal sebagai pribadi yang berpolitik. Muncul kelompok feminis eksistensialis,dan feminis gynosentris. Fokus pada hak suara di parlemen,dan hak aktivitas politik. Gelombang ini dimotori oleh Helena Cixous (Perancis),dan Julia Kristeva (Bulgaria).

Gelombang ketiga berfokus pada pengembangan teori dan aktivitas politik pada akar rumput. Muncul kelompok feminisme postmodernisme,ecofeminisme,feminisme global,dan feminisme multikultural di fase gelombang ketiga inilah perempuan terlibat pada kampanye politik,perdebatan publik,penyikapan terhadap kekerasan yang dialami perempuan,dll. Tokohnya Marry Wollstenocraft.

Dari uraian diatas dapat dipastikan bahwa keberanian emak-emak di Yogyakarta diatas dipengaruhi efek pemikiran feminisme gelombang kedua menuju gelombang ketiga. Emak-emak menyadari pentingnya bersikap,dan berintegritas untuk mendorong munculnya iklim politik yang sehat.

Penolakan money politik pada pemilu,membawa harapan baru,harapan terselenggaranya pemerintahan yang sehat,berwibawa,dan mampu memenuhi rasa keadilan warga masyarakat,khususnya kaum emak-emak.
Kekuatan feminisme emak-emak Yogyakarta diharapkan bisa menginduksi dan menjalar ke seluruh Indonesia dengan semangat membuat perubahan untuk kehidupan berbangsa yang lebih baik.

Mengapa feminisne emak-emak menjadi penting?posisi induk kehidupan dan arah kiblat kehidupan menjadi unsur penting dari sikap emak-emak diatas.Sebagai induk kehidupan, emak-emak tidak hanya bisa melahirkan,tapi bisa merencanakan arah kebahagiaan rumah tangga ke tempat yang lebih baik. Emak-emak paling tahu cara membelanjakan uang,mengatur rumah,merapikan dan membersihkan rumah,dll.

Sementara pada posisi arah kiblat kehidupan,bermakna anak-anak akan memperoleh pendidikan dini dari ibunya,baik saat masih dalam kandungan,maupun saat lahir,dan usia sekolah.Emak-emak menjadi kiblat anak dalam menemukan karakter,dan jatidirinya. Ingat,tidak ada ceritanya anak baik terlahir dari emak yang bertabiat buruk. Apa faktanya?

Faktanya,adakah nabi dan rasul utusan Allah SWT,terlahir dari emak bertabiat buruk?.anak ,istri,bapak,dan paman nabi bertabiat buruk kita pernah dengar,tapi tak ada satupun sosok nabi terlahir dari ibu bertabiat buruk. Jadi bila mau mengubah peradaban,rubahlah dulu kaum emak-emak,niscaya peradaban akan mengikuti.

Argumentasi diatas barangkali menjadi dasar bagi emak-emak di Yogyakarta untuk tegas mendeklarasikan diri anti politik uang. Bukan untuk bersikap sok alim,tapi emak-emak Yogyakarta punya misi,menjaga agar kuasa money politik tidak memangsa generasinya.

Menjaga peradaban tidaklah cukup deengan bersandar pada uang,dan kekuasaan. Butuh pengorbanan,butuh emak-emak yang berani menggelorakan feminisme melawan kuasa money politics.
Ingat ,hanya ibu yang bisa memahami ibu pertiwi, if you realy love with your motherland, please,be a good mother.

Bagaimana emak-emak,setujukah bila kita tolak money politics, angkat tangan kiri, kepalkan dan ucapkan,”go hell with your money politics”.Jadi jangan kaget bila para caleg, akan lari terbirit-birit saat merencanakan serangan fajar menjelang hari pencoblosan pemilu,karena saat mengetok pintu,muncul emak-emak bawa panci dan usir mereka yang coba-coba tawarkan money politics. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *