Golkar “Juara” Koruptor Versi KPK, Pasca Reformasi Capres yang Didukung Golkar Selalu Kalah, Bagaimana Nasib Jokowi?

Ditetapkannya Bowo Sidik Pangarso (BSP) sebagai tersangka kasus suap pupuk Indonesia menjadikannya orang ke -72 anggota DPR RI yang telah ditangkap KPK.Sementara berdasarkan parpol partai Golkar meraih posisi terbanyak yang kedernya ditangkap kpk yakni 24 orang,diikuti PDIP sebanyak 18 orang (data KPK per 28 maret 2019).

Kedua partai politik diatas merupakan parpol utama penyokong Jokowi pada pilpres 2019. Baik partai Golkar maupun PDIP terkenal sebagai partai besar dengan mesin partai yang terkenal solid dalam mendukung paslon yang diusungnya.
Terlebih partai golkar, meski sering diguncang turbulensi politik,baik oleh internal.maupun eksternal,tetap saja eksis sebagai parpol papan atas Indonesia.

Pada konteks guncangan internal,partai Golkar merupakan partai yang paling banyak mengalami perpecahan.Tercatat partai Gerindra,partai Hanura,partai Nasdem,partai Berkarya,dan partai Garuda merupakan partai yang didirikan oleh mantan elit atau pejabat Golkar dimasa lalu.Anehnya,meski banyak melahirkan banyak anak partai baru,namun partai Golkar tetap ajeg sebaga top partai di Indonesia.

Dari sisi eksternal pun sama diguncang isu sebagai partai politik korup,penerus era orba,dan partai yang tak mau sebagai oposisi,tidak juga membuat suara pendukung partai golkar beralih haluan.Tetap Golkar eksis sebagai partai papan atas ditengah situasi apapun,dan di rezim siapapun.Partai Golkar sudah melalui semua rintangan pada beberapa dekade diselenggarakannya pemilu.

Maka tak salah apabila partai Golkar dianggap sebagai partai catch all dengan pelembagaan partai terbaik di Indonesia.Partai Golkar tidak lagi bergantung pada figur pemersatu,seperti PDIP tergantung pada keluarga Bung Karno,partai Demokrat bergantung pada keluarga SBY, atau partai Gerindra tergantung pada sosok Prabowo.

Namun dengan serangkaian prestasi diatas apakah Golkar tidak punya masalah dalam mendrive kepemimpinan nasional?
Justru masalah ditingkat kepemimpinan eksekutif ini,partai Golkar mengalami problem yang belum terselesaikan hingga saat ini.

Kejayaan golkar di era orde baru sebagai partai hegemon yang mengantarkan Soeharto menjadi presiden terlama,yakni berkuasa 32 tahun di Indonesia,seakan tak berguna begitu rezim reformasi mulai bergulir.

Tak pernah sekalipun capres yang didukung partai Golkar mampu memenangkan pilpres diera sistem pemilu langsung yang sudah dimulai sejak tahun 2004.Apakah ini dosa masa lalu atau kutukan sepanjang pemilu?

Tahun 2004 partai Golkar mengusung pasangan Wiranto-Sholahudin Wahid,sebagai pasangan capres.Kalah dari pasangan SBY-JK,yang diusung oleh partai Demokrat. Tahun 2009 partai Golkar mengusung pasangan JK-Wiranto,kalah dari pasangan SBY-Boediono. Tahun 2014 partai golkar mengusung pasangan capres Prabowo-Hatta, kalah dari pasangan Jokowi-JK.

Sementara pada tahun 2019 partai Golkar mengusung pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin akan melawan pasangan Prabowo-Sandi. Apakah partai Golkar akan berhasil mematahkan kutukan pilpres ataukah justru semakin menegaskan bahwa kutukan masa lalu itu nyata adanya.

Sementara Jokowi sendiri tidaklah mudah untuk menjawab soal kutukan partai Golkar. Mengingat Jokowi efect sudah habis,satu-demi satu elit pendukungnya berurusan dengan KPK soal korupsi. Tercatat Romy mantan ketua umum PPP ,Setnov,Idrus Marham,dan Bowo Sidik Pangarso partai Golkar mengalami hal sama.

Belum munculnya sejarah fenomenal,yakni munculnya the power of emak-emak yang ingin ganti presiden.
PDIP sendiri mengalami masalah sama,jargon partai wong cilik mulai lenyap mengingat posisinya juga besar dalam menyumbang koruptor di Indonesia.PDIP partai kedua terkorup versi KPK.Sementara kpk merupakan lembaga negara yang dicintai rakyat. Situasi yang sulit bukan?

Dari dukungan internasional pun nyaris sama. Bila 5 tahun lalu Prabowo tak bisa akses dukungan internasional karena persoalan HAM masa lalunya,maka tahun 2019 mulai mendapat dukungan internasional. Duta besar China,Rusia, Amerika Serikat dll,menyambangi Prabowo. Meski tak eksplisit memberi dukungan,namun resistensi Prabowo soal pelanggaran ham masa lalu mulai terabaikan.

Upaya strukturalisme Jokowi dengan banyaknya dukungan para bupati,gubernur,camat,dan menteri pun tak berlangsung mulus,emak-emak membangun gerakan kultural,gerakan membawa panci dan teriak ganti presiden. Seakan pencitraan Jokowi soal wong ndeso dan merakyat,sirna manakala emak-emak kucek-kucek matanya yang terlihat jalan tol MRT,bandara,LRT,dll,sedangkan belanja di dapur semakin menipis,mencari gas elpiji 3kg,mulai susah. Emak-emak resah bila harus kembali ke era tungku dengan kayu bakar.

Jelas Jokowi memikul beban berat,apakah terkait juga dengan dukungan golkar? Entahlah..entah mitos atau fakta,nyatanya partai Golkar belum pernah menang di hajatan pilpres pasca era o rde baru.

Satu-satunya teman setia Jokowi hari ini tinggal lembaga survei. Lembaga survei terus menyemangati Jokowi menyusuri jalan menuju pilpres. Tampaknya jalan tol Jokowi versi lembaga survei,akan menghadapi pintu penghalang,yakni pintu OTT, dimana KPK sebagai lembaga profesional tak perduli dengan agenda pilpres. Beberapa orang pendukung Jokowi ditangkap oleh KPK. Satu peristiwa yang cukup membuat pusing lembaga survei dalam menuliskan angka elektabilitas Jokowi.

Jadi bagaimana nasib Jokowi? Yang jelas partai Golkar harus kerja keras untuk memecahkan misteri angka 0 (nihil) pada perhelatan pilpres di era reformasi. Bila di bidang korupsi sanggup kirim kadernya terbanyak untuk masuk bui di KPK,apakah sanggup pula kirimkan kadernya datang ke rakyat,dan bilang,”pilih Jokowi”, yang jelas rakyat makin cerdas,dan emak-emak nggak usah diajarin cara bersihkan dapur. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *