Dorong Mobilisasi Ekonomi, Tamzil Luncurkan Green Economy Community, Apakah Tanda Transisi Ekonomi di Kudus Segera Dimulai?

Keputusan Tamzil untuk melaunching green economy community dinilai banyak akademisi sebagai terobosan yang cerdas.Di saat ekonomi global melambat,dan daya beli rakyat masih lemah, semua pemda mengalami masalah turbulensi ekonomi khususnya menyangkut perluasan lapangan kerja,dan mengungkit daya beli masyarakat.

Green economy comnunity memiliki pengertian sebagai ekonomi berbasis komunitas,dimana publik dilibatkan untuk membuat suatu dorongan besar mendongkrak pertumbuhan ekonomi,adapun ruang lingkupnya di bidang pangan, olahan, perikanan, peternakan dan pertanian ramah lingkungan. Ini merupakan antitesis dari program “bekerja” yang dijalankan rezim Jokowi. Dibawah Kementerian Pertanian.

Mekanisme dan cara bekerjanya berbeda. Program bekerja punya unit sasaran rumah tangga miskin,sementara ekonomi berbasis komunitas mengkolaborasi aspek keminatan, dan kelompok. Jadi jauh sekali bedanya,di ekonomi komunitas ada ruang auto kontrol dimana tiap-tiap individu saling kontrol,saling melengkapi dan saling mempercayai. Sementara pada program bekerja,kontrol terlihat lemah tak sedikit dari keluarga penerima manfaat menjual kembali pada orang lain. Atau bahkan pada konteks pembagian ayam,ayam yang seharusnya dirawat justru mati,atau dijual.Aspek sustainablenya ngadat,dan mereka akan miskin kembali.

Sementara konsep ekonomi berbasis komunitas menekankan pada gotong royong,saling bertanggungjawab,ada pakar yang dilibatkan,ada managemen yang mengelola,dan ada pasar yang diproteksi.
Dari pilihan model ekonomi juga berbeda,program bekerja mengikuti mazhab neo liberal berbasis individu, sedangkan ekonomi komunitas, berbasis kelompok dan ikuti mazhab ekonomi campuran.

Perbedaan mendasar lainnya,program bekerja menimbulkan kompleksitas,karena sering salah sasaran,tidak berkelanjutan,bersifat pragmatis,dan jangka pendek. Sementara program ekonomi berbasis komunitas bersifat sistematis,modern,terkontrol,berkelanjutan,dan mampu dijalankan sepanjang masa.

Pertanyaan menarik yang mungkin timbul adalah mengapa ekonomi komunitas,dan mengapa ekonomi hijau?ekonomi komunitas lebih cepat membuka akses lapangan kerja,mengurangi prasangka dan kecemburuan sosial,hasil.produksinya lebih terstandarisasi,sehingga lebih terjamin aman konsumsinya. Berbeda dengan ekonomi individual,ada kekacauan standarisasi mutu,kuantitas produknya tidak terkontrol,dan resiko gagalnya jauh lebih tinggi.

Ekonomi hijau,ada aspek strategis dan ada faktor inklusivitas. Aspek strategisnya buat Kudus,yakni memperkuat basis ketahanan pangan,mencegah kelangkaan,menstabilkan harga,dan juga mendorong berkurangnya impor pangan dari kabupaten tetangga. Sementara terkait faktor inklusive dikarenakan bisa.dikerjakan siapa saja.Orang penyandang disabilitas bisa mengerjakan,orang bodoh bisa mengerjakan,perempuan.bisa mengerjakan,manula bisa mengerjakan. Jadi semua bisa bekerja.

Bukankah setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pekerjaan yang layak demi kemanusiaan? Adalah tugas pemda untuk mewujudkan amanah konstitusi diatas meletakkan bangunan ekonomi pada kapitalisme,dan liberalisme adalah cara terkonyol mengingat tujuan akhir negara dan korporasi itu berbeda.

Korporasi mencari profit,sedangkan negara bertujuan melindungi segenap tumpah darah,dan ikut memajukan kesejahteraan umum.Mengandalkan semata pada pendapatan asli daerah (PAD) secara konvensional, dan bersandar pada retribusi jauh lebih konyol lagi. Setiap hari jumlah penduduk bertambah,tapi tak setiap hari jumlah korporasi bertambah.Tak setiap hari retribusi juga naik. Maka berlaku rumus Malthus,artinya pemda akan tekor dan makin sulit memenuhi harapan rakyatnya.

Melibatkan rakyat untuk berpartisipasi mendorong ekonomi yang membuat China jadi raksasa ekonomi dunia.Dan itu bukti kecerdasan pemimpin China dalam menyikapi populasi penduduk yang besar. Jadi tak heran bila Tamzil,sebagai leader mulai berpikir untuk membuat visi perubahan,dan tidak melanjutkan sistem kapitalis rezim sebelumnya.

Kegagapan pemerintah Kudus dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi akan terselesaikan dengan mengubah visi besar ekonomi daerah,bukan ekonomi mangkrak cari alasan lagi ada perang dagang. Ekonomi di kudus yang cenderung stagnan dibawah pertumbuhan nasional harus diubah menjadi ekonomi partisipatif,dan bersifat inklusif. Ini baru solusi.

Rakyat dididik,dilatih,diorganisir,diberi fasilitas,dan diproteksi,diperkuat dengan sentuhan teknologi,dan kepribadian baik dan kerja keras akan menjadi kekuatan yang menakutkan siapapun. Kudus bisa berharap jadi kota dengan indeks kesejahteraan dan kebahagiaan maksimum.

Dari hal diatas tampak jelas mengapa Tamzil berani melaunching green economic community. Ekonomi global yang melambat,negara -negara mulai balik arah dan memproteksi pasar domestiknya,ditambah ekonomi domestik Indonesia yang masih lemah daya belinya menjadi alasan Tamzil ambil keputusan merubah mindset “economy kudus first”, adalah nalar sehat Tamzil untuk menghindari resiko resesi ekonomi.

Tamzil sudah resmi melaunching green economy community,pertanda dimulainya era baru model ekonomi campuran. Orang kaya Kudus,rakyat miskin,perempuan,laki-laki,orang tua,penyandang disabilitas punya kesempatan peran untuk memajukan ekonomi di Kudus. Persiapka diri, perbaiki akhlak bekerja keras, naikkan level profesional, tegakkan badan, kepalkan tangan,teriakkan go…kudus…go…ayo ambil cangkulmu…kita bekerja tak jemu-jemu….(redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *