Mana yang Benar, Menurunkan Angka Kemiskinan Atau Memperbanyak Orang Kaya?Diskursus Capaian Program Pembangunan

Diskursus berasal dari kata”discursus”, dalam bahasa latin yang artinya berlari bolak-balik. Foucoult menyebut diskursus adalah sebuah sistem berpikir ,ide-ide, pemikiran dan gambaran yang kemudian membangun konsep suatu kultur atau budaya.

Diskursus dibangun dari sebuah asumsi-asumsi yang umum yang kemudian menjadi ciri khas dalam pembicaraan baik oleh sebuah kelompok tertentu maupun dalam suatu periode sejarah tertentu.

Dari pengertian diskursus,dapat kita pahami tentang adanya cara berpikir yang akhirnya membentuk suatu budaya. Demikian pula apabila kita berbicara tentang orang miskin,akan memiliki pengertian yang bervariatif. Diantaranya:kemiskinan akibat kultural, maupun kemiskinan akibat struktural.

Miskin akibat kultural, bersifat inharen,sementara kemiskinan akibat struktural diakibatkan pemerintahan yang salah urus.Salah satu indikator untuk melihat miskin atau tidaknya seseorang ditinjau dari indeks garis kemiskinan baik garis kemiskinan makanan sebesar 2100 kalori maupun garis kemiskinan bukan makanan (untuk perkotaan 53 variabel,untuk desa 47).

Inilah yang sering kita lihat di declare oleh pemerintah melalui BPS. Pemerintah sering mengumumkan jumlah angka kemiskinan,khususnya berbasis pada pemenuhan kalori. Konfigurasi angka kemiskinan yang diumumkan pemerintah sering menjadi perdebatan publik,khususnya menyangkut akurasi angka,tingkat kedalaman kemiskinan,juga ketepatan program pemerintah dalam mengurangi angka kemiskinan.

Potret dan cara pandang pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan inilah yang sering menimbulkan kerancuan. Apakah kemiskinan itu tanggung jawab eksekutif atau tanggung jawab negara.

Untuk itu perlu ada penajaman paradigma. Tak hanya sekedar program regulasi,norma budaya,adat-istiadat,keluarga,lingkungan sosial semua harus nemikul tanggung jawab. Juga sektor pendidikan,kesehatan harus ikut ambil peran.

Apakah itu semua cukup?tidak perlu ada gerak besar,kalangan buruh, petani, nelayan, birokrat, aparat penegak hukum juga harus ikut terlibat dalam suatu upaya,yakni upaya memberdayakan seluruh manusia Indonesia agar semakin banyak dan merata orang kaya di Indonesia. Semakin banyak dan merata orang kaya,semakin besar pajak yang dihimpun,semakin pajak besar,negara kuat,dan mampu bersaing di kancah internasional. Jadi kata kuncinya perbanyak orang kaya dan merata,dan perkuat mobilisasi semua elemen bangsa.

Kolaborasi antara swasta,negara,dan rakyat,akan mempercepat lahirnya banyak orang kaya. Konstruksi berfikir memperbanyak orang kaya dan merata jauh lebih baik,ketimbang berpikir mengurangi angka kemiskinan. Untuk membuat orang miskin berkurang kaum sinisme menyarankan agar pemerintah dan negara tidur. Sebagus apapun programnya,serinci apapun regulasinya,aparatur negara jadi kunci penentu.

Birokrat berwajah kolonial,aparat penegak hukum korup dan manipulatif,legislatif bermental broker uang ketok palu,yudikatif berhati bengis tidak akan mungkin membuat masyarakat menjadi kaya dan merata. Pungli, suap, korupsi, penipuan,pemerasan,akan menjadi wajah pemerintahan karena tidak punya target harus mencetak orang kaya baru dan secepat-cepatnya, serta merata.

Program pemberdayaan hanya basa-basi,social security net sering salah sasaran,lingkungan akan terbelah, individualisme akan meningkat, segregasi sosial akan semakin meluas dan endingnya,negara lemah,ada dicengkeraman komprador kapitalisme.

Antek asing, antek mafia, antek cukong akan semakin merajalela. Mengapa bisa terjadi?karena tanggung jawab menciptakan banyak orang kaya dan merata berubah menjadi asal kerja,asal jalankan kegiatan.KKN lebih diutamakan,ketimbang kerjasama dan konsolodasi lintas sektor untuk menciptakan iklim agar orang kaya menjadi semakin banyak dan merata.

Apa sebab gagasan mengurangi angka kemiskinan itu absurd?sebab untuk berkurangnya orang miskin,tak perlu peran pemerintah dan negara. Orang miskin jatuh sakit akan mati,orang miskin kena tsunami banyak yang mati,rumah reyot yqng dihuni orang miskin kena gempa roboh menimpa orang miskin mati. Semua kejadian diatas akan membuat orang miskin berkurang tapi tak ada bencana alam yang sakit,bencana alam,yang bisa membuat orang miskin menjadi kaya. Lagi pula tunjukkan,siapa orang miskin yang berubah kaya tanpa campur tangan pemerintah,minimal ada intervensi politik.

Jadi ketika rakyat bertemu dengan pemerintah,bertanyalah satu pertanyaan: ada berapa,merata atau tidak, dan siapa saja yang sudah berhasil menjadi kaya ditangan pemerintah? Dapat dipastikan tidak akan pernah terjawab,sebab mengurusi negara aja ,masih sendiri-sendiri, ada beda pendapat presiden dengan menteri, apa iya serius mau bikin rakyat cepat kaya,dan merata dimana-mana?. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *