Goyahnya Strukturalisme Jokowi di Jateng, Apakah The Power of Emak-emak Sanggup Kalahkan Jokowi?

Fenomena baru muncul di panggung pilpres 2019,yakni munculnya istilah The Power of Emak-emak.Kegalauan emak-emak menyikapi situasi ekonomi sosial yang tidak lagi kondusif,bertemu dengan strategi politik Sandi Uno yang mengusung tema utama perbaikan total ekonomi,sanggup menjadi gelombang pasang menerjang strukturalisme Jokowi yang di dukung oleh para kepala daerah di Jateng.

Strukturalisme sendiri berasal dari bahasa latin “structure” yang artinya bentuk atau bangunan. Aristoteles (Yunani) mengenalkan istilah wholenes (keseluruhan),complexity(kebulatan),unity(kesatuan),dan coherence(keterkaitan)sebagai paham strukturalisme.Ciri terpenting dari strukturalisme adalah formalitas.

Pada perkembangannya kelompok ini disebut kaum formil. Birokrat,Polisi,TNI, sangat kuat bercirikan kaum formil. Risalah yang awalnya muncul pada ilmu antropologi,budaya,dan sastra,selanjutnya bergerak menuju keranah politik,masuk kedalam struktur kekuasaan.

Munculnya Jokowi sebagai representasi rakyat kecil kemudian terpilih sebagai presiden diharapkan mampu mengubah gaya formil pemerintahan menjadi partisipatif.Sayangnya harapan itu memudar.

Pengamat politik LIPI Prof. Siti Zuhro mengatakan bahwa Jokowi efect sudah habis.Ciri pemerintahan Jokowi yang bercirikan feodalistik-birokratik dikritik oleh lawan politiknya.Ada istilah hukum tajam ke pihak lawan,ekonomi tertutup hanya kelompok tertentu yang menikmati kue kekuasaan.

Kontrafaktual dibidang politik dan ekonomi,ditambah blunder pemerintah yang gagal mengangkat daya beli rakyat seakan membuat capaian Jokowi dibidang yang lain seolah tak berguna. Rakyat yang diwakili suara emak-emak ingin daya beli membaik. Kegalauan ini kemudian mengkristal menjadi the power of emak-emak.

Pelan tapi pasti, emak-emak ,khsususnya yang ada di Jateng melakukan perlawanan. Presure publik yang dimotori oleh Ganjar Ptanowo berupa dukungan dan mobilisasi struktural tak digubris. Boleh saja Ganjar berselfie dengan para bupati di Jateng mendukung Jokowi,nyatanya berdasarkan survei Litbang Kompas bulan Maret 2019 terjadi penurunan 13,8% suara Jokowi di Jateng.

Meski Jokowi sudah coba menceritakan betapa beratnya mendorong mobil mogok bernama Esemka,merevolusi mental aparat dan rakyat untuk mempercepat pembangunan. Tak kurang jokowi menghibur rakyat dengan menjadi stuntman di ASEAN GAMES 2018 membaur dengan rakyat dengan naik MRT,dan cukur rambut dibawah pohon.Emak-emak tampak tak perduli. Wajahnya asem sambil teriak,”aku ingin ganti presideeeeennn”.

Gerakan emak-emak yang bersifat madani,sebuah “gerakan civil society” bersifat informal,terus bergelombang menginginkan keperdulian pemerintah pada tegaknya keadilan sosial,keadilan ekonomi semakin meluas.Ini bukan keberhasilan Sandi Uno,tetapi fakta memang pemerintah tak berhasil menaikkan daya beli rakyat. Infrastruktur belum pada penguatan ekonomi rakyat,dan akses ke arah pemenuhan kebutuhan primer semakin menyempit.

Tak ayal terjadilah tarik menarik kepentingan.Kaum informil yang diwakili emak-emak melawan kekuatan kaum formil yang bersifat strukturalisme.Tak heran Ganjar Pranowo siap siaga dengan Apel Kebangsaan Merah pPutih,entah takut dengan serangan hoax dan bahaya disintegrasi atau takut dengan kemuculan The Power of Emak-emak yang ingin ganti presiden.

Tampaknya The Power of Emak-emak begitu menakutkan kaum strukturalis,dan teriakannya mulai menggoyahkan strukturalisme Jokowi,apakah kekuatan the power of emak-emak akan terus bergelombang dan berujung mampu mengalahkan strukturalisme Jokowi? Kita akan lihat saat emak-emak mencoblos pada pemilu 2019 tanggal 17 April mendatang.(redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *