Siapa Yang Bukan Negarawan, Apakah Bung Karno, Soedirman Atau Ganjar Pranowo? Studi Tentang Aji Mumpung dan Cara Membelanjakan Uang Rakyat

Negarawan menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara dengan suatu pandangan kedepan atau mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan dan kewibawaan.

Ada beberapa kata kunci tentang seorang negarawan, yakni visioner, strong leadership, wisdom,dan kharismatik.Pada konteks masalah negara,tentu kita ingat sebuah peristiwa besar tentang diselenggarakannya Apel Kebangsaan Kita Merah Putih di Semarang, Ahad (17/3/2019).

Acara yang konon menghabiskan anggaran hingha Rp 18 miliar ini menurut Ganjar Pranowo sebagai kegiatan untuk menjaga keutuhan NKRI dari bahaya ancaman disintegrasi akibat serangan hoax,dan intoleransi.Benarkah bahwa Ganjar Pranowo bermaksud menyelesaikan masalah bangsa, dan apakah kebijakan ini tergolong visioner? Apakah kebijakan ini memuat nilai kebijaksanaan seorang pemimpin?dan apakah dengan terselenggaranya acara Apel Kebangsaan Kita Merah Putih berarti ancaman disintegrasi bangsa akibat hoax dan intoleransi menjadi jauh berkurang atau tak ada lagi? Apakah kegiatan Apel Kebangsaa Merah Putih yang sukses terselenggara layak membuat Ganjar dianggap pemimpin kharismatik dan berwibawa.?

Tak kalah dengan apa yang jadi argumentasi dan eksplanasi Ganjar soal Apel Kebangsaan “Kita” Merah Putih, banyak kalangan bereaksi terhadap alokasi belanja uang rakyat yang di eksekusi Ganjar Pranowo.Ada yang mengatakan sebagai kegiatan hura-hura,ada yang bilang Ganjar melakukan post truhth political,yakni punya modus lain,statemennya hanya basa-basi. Bahkan ada yang mengadukan aksi Ganjar tersebut ke KPK.

Ganjar harus belajar cara membelanjakan uang rakyat dari Bung Karno. Bung Karno menegur Ratna Sari Dewi untuk mematikan lampu dalam acara pesta di Istana. Alasan Bung Karno itu kegiatan pribadi,tak elok gunakan uang rakyat. Hal lainnya,Bung Karno dititipi amanah dari Teuku Arkam berupa emas 32 kg dan diserahkan ke rakyat Indonesia,diletakkan diatas tugu Monas sampai hari ini. Kita dapat saksikan pribadi luhur seorang Bung Karno.

Apakah sesederhana itu?tentu tidak. Bung karno juga diuji oleh masalah disintegrasi. Tercatat pemberontakan PRRI Permesta,DI/TII, APRA(Angkatan Perang Ratu Adil),RMS(Republik Maluku Selatan),dll. Juga serangkaian perundingan soal NKRI, tercatat perundingan Linggar Jati, Renville, Roem Royen,dll. Tak pernah kita mendengar bahwa Bung karno lantas menggadai atau menjual emas Teuku Arkam untuk membiayai kegiatan menjaga keutuhan NKRI.Nah, terlihat siapa yang levelnya lebih tinggi dan pas jadi negarawan. Yang tak layak dianggap negarawan siapa hayooo?

Ganjar juga perlu melihat sosok Jenderal Soedirman tatkala Bung Karno dipenjara,dan menitipkan tampuk kepemimpinan nasional pada Soedirman. Manakala Soekarno sudah bebas,dengan legowo dan senang hati Soedirman menyerahkan kembali status Presiden kepada Bung Karno. Ini nyata terjadi, apakah iya Ganjar akan melakukan hal yang sama?jabatan Presiden RI lho. Tak sedikitpun Soedirman mau membela diri dengan mengatakan masih ada ancaman disintegrasi.Padahal saat itu Soedirman adalah presiden ad interim. Bisa saja dengan kekuasaannya menendang Bung Karno,nyatanya tidak. Jabatan dikembalikan ke yang lebih berhak,dan mereka bergandengan tangan menaikkan bendera merah putih,tanpa nenyelenggarakan apel kebangsaan merah putih. Siapa yang level kenegarawanannya lebih terbukti dan teruji, apakah Ganjar Pranowo ataukah Soedirman.

Sebagai rakyat Indonesia kita patut bangga dengan sosok Soekarno dan Soedirman, tapi bagaimana dengan Ganjar Pranowo sang gubernur penyelenggara apel kebangsaan? Ganjar nyata terlihat cerdas dengan mengatakan menjaga keutuhan NKRI dari ancaman hoax dan intoleransi.Apakah tugas menjaga NKRI selesai dengan adanya apel kebangsaan merah putih. Apakah bahaya disintegrasi bangsa akibat hoax dan intoleransi bisa dicegah dengan apel kebangsaan merah putih.

Kasihan TNI dan Polri yang sudah berjuang mengamankan NKRI dari serangan teroris,mengamankan puluhan bahkan ratusan pilkada,pileg,maupun pilpres. Tahun sebelum ganjar menjabat juga ada pilpres,dan situasi juga hangat seperti lazimnya situasi menjelang pemilu. Polri sanggup antisipasi potensi dan ancaman gangguan kamtibmas.Apakah waktu itu belum ada hoax dan intoleransi? Bagaimana dengan bom bali,bom di gereja,dll. Polri jelas teruji menangani masalah gangguan intoleransi. Soal hoax,lihat Ahmad Dhani, Ahok,dll. Semua tuntas terselesaikan. Tercatat Polri an TNI dalam terorisme dan kriminalitas terkait hoax dan intoleransi,tak tercatat punya anggaran atau harus menyelenggarakan apel kebangsaan merah putih.

Mungkin ada alasan lain,yang enggan diungkap oleh Ganjar. Soal dirinya kader PDIP,soal dukungannya beserta para bupati ke salah satu paslon,soal aji mumpung jadi gubernur bisa membantu kawan separtai,atau soal lain yang tak terucapkan. Itu semua hanya kemungkinan. Atau yang bisa tidak mungkin adalah kemungkinan Ganjar pingin berjoged dengan Slank? Entahlah…entah argumen apkal sehat atau akal bulus hanya Ganjar Pranowo dan Rocky Gerung ahlinya.

Terlihat dari semua hal diatas,Bung Karno,Soedirman, tak secerdas ganjar Pranowo.Bung karno punya rasa malu foya -foya uang rakyat, Soedirman malu punya jabatan yang bukan haknya. Lebih baik terus gerilya,bersama pasukannya dari pada ambil jabatan haknya orang. Ganjar berbeda,biarkan orang nyinyir soal apel kebangsaan merah putih,soal duit rakyat berserakan Rp 18 miliar gampang menjelaskannya.

Memang Bung Karno dan Soedirman hanya orang sederhana yang tak mampu membeli minyak aroma e-ktp, dan bermerk Tasdi. Tapi soal merah putih mereka berkata,”merdeka atau mati”. Soal bergoyang, siapa yang ahli? Jadi siapa yang sebenarnya bukan negarawan apakah Bung Karno,Soedirman,atau Ganjar Pranowo?tolong tanyakan sama Rocky Gerung pakar logika di Indonesia.(redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *