Sandi Berniat Mereformasi Pendidikan, Arahnya Menuju Finlandia, Tamzil Bergerak ke Arah Mana?

Pada debat cawapres Ahad malam atau semalam (17/3/2019) , terdapat gagasan unik yang dilontarkan oleh Sandi Uno. Setidaknya ada beberapa kata kunci terkait pendidikan yang di dorong Sandi Uno.

Pada konteks tujuan, Sandi menekankan pentingnya SDM berbudi pekerti luhur, tangguh, cerdas, berkeahlian. Instrumennya dengan merubah kurikulum berbasis minat dan bakat. Ada pilihan konsentrasi sejak dini,tidak membebani siswa dengan mata pelajaran yang tidak diminati. Sandi Uno juga berniat menghapus ujian nasional atas nama keadilan. Terkait guru,Sandi Uno berjanji menaikkan kesejahteraan guru,dan meningkatkan kualitas guru.

Sementara sarana penunjangnya, Sandi Uno menggagas implementasi KJP Plus,dan sedekah putih pada program generasi emas,yakni memastikan asupan protein sebagai bagian dari pendidikan.

Fenomena unik adalah menghidupkan kembali nilai toleransi.ala Gus Dur,yakni meliburkan anak sekolah selama sebulan penuh selama ramadhan.Pertanyaannya mungkinkah apa yang digagas Sandi Uno ini bisa diterapkan,dan sebenarnya pendidikan Indonesia mau dibawa kemana oleh Sandi Uno?

Pendidikan menurut bangsa romawi dikenal sebagai”educare” bermakna mengeluarkan dan menuntun. Yakni tindakan untuk merealisasikan potensi anak.

Bangsa Jerman mengenalnya dengan “erzichung”, yang berarti membangkitkan kekuatan yang terpendam. Orang Jawa mengenalnya” nggulawentah“,artinya mengolah perasaan watak dan pikiran anak,atau mengubah kepribadian anak.

Dari uraian diatas,konsepsi Sandi Uno memiliki persamaan, bahwa pembentukan karakter,akhlak,keahlian,dan kecerdasan menjadi kata kunci tujuan dari diselenggarakannya pendidikan.

Sementara berdasarkan UU No 20 Tahun 2013 Tentang Siatem Pendidikan Nasional Pasal 3 disebutkan bahwa tujuan pendidikan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME,berakhlak mulia,sehat,berilmu,cakap,kreatif,mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dari uraian diatas terlihat bahwa gagasan sandi selaras dengan makna dan tujuan pendidikan secara universal. Perbedaannya adalah pada cara meraih tujuan. Pada konteks ini,metode dan model menjadi faktor pembeda. Sandi menekankan pilihan pada pendekatan holistik,antara nutrisi dengan pendidikan.

Empat komponen yang konsen digarap Sandi pada bidang pendidikan,yakni guru berkualitas,hardware berupa perangkat otak yang baik dengan asupan nutrisi dan protein tinggi,software nya berupa kurikulum berbasis peminatan dan bakat,serta fasilitas bersifat partisipatif termasuk membangun fasilitas riset kolaborasi swasta dan negara.

Hal lainnya adalah sifat pendidikan yang inklusif dengan menghapus ujian nasional atas nama keadilan,dan transmisi link and match untuk menampung output dari pendidikan. Atau penyaluran siswa pasca sekolah.Toleransi sebagai manifestasi norma demokrasi sebagai warisan Gus Dur juga di bangkitkan kembali.

Lantas apa kaitannya dengan Finlandia? Finlandia adalah negara yang memiliki kualitas pendidikan terbaik dimuka bumi. Pendidikan basicnya dimulai pada anak usia 7 tahun. Soal usia mungkin Indonesia termasuk negara dengan memperbolehkan anak masuk sekolah usia dini,yakni umur 4-5 tahun.

Kurikulumnya berbasis peminatan dan bakat. Waktu jam belajarnya 4-5 jam. Proses belajar 45 menit,dan istrirahat 15menit untuk rileksasi otak. Pada sekolah SMP dan seterusnya berlaku seperti kuliah di Indonesia,masuk sesuai mata pelajaran yang diambilnya.

Di Finlandia tidak ada anak sekolah mengerjakan PR, dan ujian nasional tidak ada. Bahkan sistem rangking pun tidak dikenal. Guru memegang otoritas penuh untuk memberi nilai anak didiknya.

Dari uraian diatas ada persamaan antara konsepsi Sandi Uno soal pendidikan dengan Finlandia,yakni berfokus pada best practise heavy,not focus to examine heavy. Perbedaan mendasar antara sistem Sandi Uno dengan Finlandia diantaranya : Soal biaya pendidikan,di Finlandia semua sekolah gratis, Sandi masih sistem cost sharing.

Sandi Uno hanya menginginkan perbaikan kualitas guru,tak dijelaskan caranya kecuali dengan tunjangan,insentif buat honorer,dan sertifikasi.Sementara di Finlandia,tidak sembarang orang boleh sekolah guru. Hanya peringkat 5 besar di sekolahnya yang bisa mendaftar jadi guru,itu pun diseleksi ulang. Jelasnya otak udang tak boleh jadi guru di Finlandia.

Artinya konsepsi Sandi Uno bisa diterapkan di Indonesia karena sudah dimodifikasi terutama pada anggaran pendidikan.

Selanjutnya bagaimana dengan langkah tamzil soal pendidikan di Kudus? Belum terlihat jelas arah pendidikan Kudus di tangan Tamzil dibawa kemana. Hanya terlihat mengekornya. Yang hanya membedakan yaitu di sisi insentif guru Madin. Selebihnya Tamzil hanya terlihat mengekor, entah mengekor kemana tidak jelas. Terus pertanyaannya mau dibawa kemana pendidikan di Kudus?.

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *