Pertumbuhan Ekonomi Kudus Stagnan di Bawah Nasional, Ekonomi Global Menuju Gridlock, Akankah Kapitalisme Tetap Dipertahankan Tamzil?

Keputusan Donal Trump yang melarang terbang pesawat Boeing 737 -8max di wilayah udara mengejutkan banyak pihak Amerika yang selama berabad-abad menjunjung tinggi kapitalisme, berbalik drastis di era Trump.

Berbekal slogan”Make Great Again”,Trump menerapkan banyak kebijakan kontroversi, diantaranya menentang globalisasi dan memotori de globalisasi,membatasi imigran yang masuk ke Amerika, tenaga yang bersifat low skill dilarang masuk Amerika, kebijakan penurunan pajak yang sering disebut “Trump’s tax reform”, dimana Trump memangkas pajak penghasilan perusahaan agar investasi masuk dan menyerap tenaga kerja rakyat Amerika,dan yang terkenal adalah melakukan perang dagang dengan China.

Kebijakan Trump bila dirunut kedalam benang merah, maka konsisten bersifat Inward looking, make Amercan first. Mendahulukan kepentingan Amerika, rakyat Amerika diproteksi total oleh Trump.

Inilah keanehan Trump, dimana Trump dengan backgroundnya sebagai seorang pengusaha,justru menempatkan negara diatas,termasuk perusahaan Amerika sekalipun.

Hal sama juga dilakukan China. Konsep state market China tetap menempatkan kepentingan nasional China diatas kepentingan perusahaan. Prssiden China Xi Jinping merelokasi pabrik,menutupi dari sejuta pabrik dengan harapan menuju China baru, China berbasis “one belt one road”, rileksasi dilakukan termasuk memangkas dan merestrukturisasi hutang negara,agar lebih akomodatif terhadap perkembangan ekonomi global.

Kebijakan China selalu didasarkan pada gerak lokomotif,dimana tidak ada kerja individual,semua saling support,saling complementer dengan negara sebagai lokomotifnya,sistem zonasi pun diberlakukan,usaha berbasis komunitas didorong,usaha indivudual dikurangi karena dianggap tidak akan kompetitif dalam mengahadapi persaingan.

Tampaknya negara-negara maju mulai mengurangi ketergantungannya pada perdagangan bebas,dan kapitalisme. Mereka menempatkan negara secara otonom,diatas kepentingan korporasi. Semangat melindungi rakyatnya lebih diutamakan ketimbang memfasilitasi perusahaan,sekalipun perusahaan besar sekalipun seperti Boeing 737.

Hal senada juga dilakukan Anies Baswedan, di DKI. Program OK OCE dirancang berbasis gerbang kereta api. OK OCE mart didirikan,ekonomi komunitas di dorong,tercatat komunitas peternak ikan hias,batik betawi,kuliner betawi,dll.

Terlihat Anies Baswedan lebih kuat ke ekonomi domestik DKI. Penguatan daya beli juga di dorong, UMP DKI dinaikkan, DKI mulai meninggalkan upah murah guna menghindari terjadinya resesi ekonomi akibat munculnya grid lock economic atau kemacetan total ekonomi.

Gridlock ekonomi sejatinya tarik menarik kepentingan antar bangsa yang dimotori poros Amerika dengan Inggris, melawan poros China dan Rusia. China dan Rusia pro free market dengan menawarkan komparatif dan kompetitif produk, sedangkan Inggris dan Amerika mendorong fair trade atau perdagangan yang setimbang diukur dari nominal total perdagangan,bukan harga produk. Inggris memilih keluar dari Uni Eropa dengan melakukan brexit untuk melindungi ekonomi dalam negeri.

Dari uraian diats dapat kita simpulkan,bahwa liberalisasi perdagangan adalah mitos. Negara-negara maju tidak percaya pada isu global dan kapitalisme. Hubungan antara negara dengan perusahaan menempatkan negara sebagai superior ketimbang perusahaan. Bagaimana dengan situasi ekonomi di Kudus?

Berdasarkan laporan Bank Indoneaia pertumbuhan ekonomi Kudus 2012-2016 cenderung stagnan,bahkan dalam trend melambat. Angka pertumbuhan 2016 dikisaran 4 persen,dibawah pertumbuhan nasional dan Jawa Tengah.

Stagnasi ekonomi juga disertai trend melemahnya ekspor. Pelan tapi pasti daya beli rakyat kudus juga mengalami kemerosotan. Strategi upah murah,ternyata tak mampu mendorong ekspor Kudus menjadi meningkat,justru volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar bisa membawa Kudus kedalam jurang resesi.

Strategi upah layak dan pemberian subsidi yang dilakukan Anies Baswedan mampu membuat warga DKI tetap memiliki daya beli. Barangkali Anies berpikir,ekspor jauh lebih sulit ditengah ancaman gridlock economy yang dipicu perang dagang,lebih baik diarahkan untuk tetap menjaga demand di pasar donestik tetap terjaga,pertumbuhan ekonomi akan stabil. Jelasnya, Anies memihak rakyat ketimbang perusahaan. Akankah tamzil melakukan hal sama?.

Tamzil seharusnya bisa melihat,tak ada negara di bumi yang sukses ikuti kapitalisme. Tak ada rakyat yang sejahtera,yang ada perusahaan naik aset dan kekayaannya,sedangkan pemda dipaksa cuci piring sampah kesenjangan,dan pengangguran.

Kebijakan upah murah sudah dijalani puluhan tahun,previlage service sudah diberikan,apa yang terjadi? Perusahaan melesat aset dan kekayaannya, sementara pemda dipaksa menerima kenyataan trend petumbuhan ekonomi stagnan, pengangguran terus tercipta kompleksitas masalah sosial ekonomi semakin meningkat, kemampuan pemda Kudus melindungi rakyat semakin melemah. Akankah Tamzil terus mempertahankan dominasi kapitalisme?.

Konsepsi yang dipahami oleh rakyat Kudus tentang kebaikan hati kaum kapitalis,sering menjadi dilema bagi pemda. Pemda tak memiliki instrumen untuk memitigasi bencana bila gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) nyata terjadi. Akibatnya pemda dipaksa tunduk pada kemauan kaum kapitalis. Sementara rakyat terlanjur percaya, bahwa industrialisasi adalah kapitalisme. Itu persepsi keliru, China tetap dengan ideologi negaranya sosialisme, ruang kapitalisme hanya variabel kecil. Aturan tetap pemerintah pegang kendali. Negara-negara Skandinavia menggunakan mazhab ekonomi kelembagaan,dengan koperasi sebagai kompetitor kuat perusahaan privat.

Industrialisasi adalah bagian dari modernisasi,pilarnya bisa beragam,bisa sosialisme,kapitalisme,sosialisme demokrasi atau totalitarianisme ala Hitler. Sekali lagi industri berbeda dengan kapitalisme meski tampak beriringan.

Persepsi publik yang sering keliru inilah yang harus dijawab Tamzil. Apakah tetap percaya pada kebaikan perusahaan dengan kontribusi pertumbuhan ekonomi dibawah rata-rata nasional,atau merumuskan langkah baru,langkah memperkuat pemda,memperkuat daya beli,memperkuat demand,dan memulih melindungi rakyat atau menjadi komprador kaum borjuis Kudus.Semua akan terlihat pada waktunya..(redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *