Tidak Mau Tunduk Sama Konglomerat, Akankah Anies Baswedan Jadi The Next Soekarno, Bagaimana Dengan Tamzil?

Pasca hilangnya GBHN dan repelita seiring bergulirnya reformasi,haluan negara dan daerah berganti dengan istilah RPJMN ( Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) sumbernya berasal dari visi-misi presiden terpilih.

Untuk daerah pun sama berganti dengan RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah).
Biasanya visi-misi presiden atau gubernur/bupati dirumuskan oleh tim sukses yang berasal dari gabungan partai politik.

Adapun sumber yang dipakai sebagai sebagai landasan visi-misi,diantaranya : isu populer,fenomena internasional terbaru, kondisi dan situasi geo politik, ekonomi,keamanan,hukum,sosial.budaya,dll. Sifatnya cenderung populis,dan pragmatis. Jarang sekali tim sukses yang merancang visi-misi yang berasal ideologi,atau konstitusi dasar RI yakni UUD1945.

Namun demikian ada beberapa gagasan populer yang diambil dari basis ideologi,diantaranya: revolusi mental dan mobil esemka yang di populerkan Jokowi-Jk terbungkus dalam slogan nawacita.

Gagasan ini bersumber dari trisakti Bung Karno yakni berkepribadian dalam kebudayaan,dan berdaulat dibidang ekonomi. Namun demikian gagasan ini pelan tapi pasti tak terdengar lagi,meski banyak yang menanyakannya seperti AHY yang bertanya apakabar revolusi mental, juga Prabowo bicara program esemka ethok-ethok.

Gagasan besar lain,yakni restorasi Indonesia,yang digagas oleh ormas Nasdem(nasional demokrat),dikemudian hari berubah menjadi partai Nasdem. Pun slogan restorasi Indonesia yang terinspirasi restorasi meiji di Jepang lenyap tanpa ada kejelasan.

Biaya politik yang tinggi, situasi politik yang dinamis, asas oportunitas untuk jadi penguasa,diduga sebagai penghambat realisasi visi-misi berbasis ideologis. Lagi-lagi kapitalisme memenangkan kompetisi melawan ideologi asli Indonesia.


Superiornya kapitalisme dan liberalisme menyebar ke dunia sebagai anak kandung globalisasi membuat nation character building terlindas oleh westernisasi seperti diramal Francis Fukuyama yang memprediksi kapitalisme akan memenangkan perang ideologi.

Kebuntuan jalan ideologi,sedikit terobati dengan munculnya Anies Baswedan. Mengusung slogan” maju kotanya,bahagia warganya”, Anies memenangkan pilkada DKI ,dan dilantik menjadi gubernur.

Apakah ini ditujukan untuk mengurangi indeks gini ratio, menerapkan social security net,atau menuju ke arah welfare state?bisa jadi salah satu atau ketiga tiganya benar. Namun belum cukup untuk mengukur kebijakan Anies sebagai policy base on ideology. Masih terlalu sumir untuk digolongkan kebijakan berbasis ideologis. Butuh penelitian lebih lanjut.

Kemunculan kartu lansia Jakarta,yang diperuntukkan manula usia 60th,miskin, memiliki penyakit menahun,dan tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar diberi tunjangan sosial Rp 600rb/bulan.


Langkah lanjutan Anies menutup Alexis,dan berkelahi dengan Agung Podomoro, berpihak pada warga apartemen Lavande Jakarta Selatan,membatalkan sebagian pulau reklamasi,menjual saham bir milik Pemda DKI makin terlihat sosok Anies yang tampak garang melawan kapitalisme,dan total melindungi segenap warga DKI sebagai manifestasi tujuan negara yang termaktub di alinea ke -4 UUD1945 yang” melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia”.

Selanjutnya muncul pertanyaan inikah sosok penerus cita-cita Bung Karno?

Munculnya KJP Plus bidang pendidikan,Ok Oce,mulailah muncul tentang semangat mencerdaskan kehidupan bangsa, dan memajukan kesejahteraan umum. Juga relevan dengan misi proteksionis,dan perduli kaum marhaen. Wah..nampaknya Anies mulai menjadi sosok Soekarnois.

Anies terlihat mengerti betul terhadap ekonomi konstitusi,paham betul risalah Bung Karno soal Trisakti dengan tidak mau disetir dan dikooptasi kekuatan modal ,mengerti tujuan negara dengan warga DKI dari kesewenang-wenangan pengelola apartemen yang juga termasuk orang superkaya indonesia,cerdas dalam mengimplementasikan pancasila khususnya sila keadilan sosial bagi rakyat indonesia,dengan cara berani memutus kerjasama dengan swasta soal pengelolaan air bersih. Inilah kebijakan inklusif yang menggambarkan wajah Bung Karno, wajah “berujung pada justice for all.

Keadilan sosial bagi masyarakat DKI akan terwujud melalui mekanisme” penguasaan bumi,air,dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyat” muncul pertanyaan lanjutan akankah Anies jadi the next Soekarno?

Bupati Kudus HM Tamzil


Sosok soekarno yang fenomenal, dirindukan dan dijadikan model ideal seorang pemimpin belum tertandingi kharismanya hingga saat ini. Banyak yang menjiplak baik gagasan maupun tampilan fisik,juga banyak yang memperdagangkan nama soekarno,ada juga yang mengeksploitasi sosok Bung Karno,namun belum ada yang mampu mewujudkan mimpi Bung Karno menciptakan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Akankah Anies mampu merealisasikan janjinya membawa DKI sebagai daerah yang maju kotanya,bahagia warganya.

Lain Jakarta lain kudus,terpilihnya Tamzil sebagai bupati kudus untuk jabatan kedua juga terbilang fenomenal. Diusung partai menengah,tamzil mampu mengalahkan calon yang diusung partai kuat.

Tamzil telah terpilih,saatnya merealisasikan janji. Satu persatu mulai dipenuhi,diantaranya memberi guru,membangkitakan persiku kudus,memberi insentif pada lembaga pendidikan,dan memberi insentif pada yang menunggui orang sakit, pelatihan skill di BLK (balai latihan kerja) juga sudah dijalankan, penciptaan wirausahawan juga sudah dimulai dan diberi permodalan. Semua hal diatas wajib kita apresiasi.

Prestasi juga sudah diraih,yakni penghargaan terpilihnya pasar kliwon sebagai pasar ramah difabel juga layak kita apresiasi. Lantas dari semua diatas apakah Tamzil layak disetarakan dengan Anies Baswedan, atau Bung Karno?

Belum layak. Tamzil belum jelas. Sikapnya terhadap hegemoni kapitalisme di Kudus, kebijakannya juga masih terlihat atributif atau mengutip bahasa Rizal Ramlu kebijakan bersifat ecek ecek atau recehan. Tidak fundamental,integritasnya belum teruji seperti Bung Karno atau Anies yang anti korupsi dan anti gratifikasi. Kepastian terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat kudus juga masih tergantung jauh ada di awan.

Rakyat Kudus masih menunggu kebengalan Tamzil melawan gurita kapitalisme,kemauan keras untuk mewujudkan Kudus berdaulat ekonomi,kesanggupan melindungi kaum marhaen,menurunkan gini rasio kepemilikan aset,memenuhi kebutuhan primer rakyat kudus yang bisa dijangkau rakyat.

Pungkasnya siapa yang layak jadi the next Soekarno,apakah Tamzil ataukah anies, ataukah yang lain? (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *