Darwi, Anak Haram Perkawinan Kapitalisme dengan Feodalisme, Apakah Darwi Harus Terkubur Hidup-hidup di Tanah Kelahirannya Sendiri?

Namanya, Darwi (52) warga desa Gribig kecamatan Gebog, profesinya pemulung. Profesi khas kaum marginal. Darwi sebatang kara, ditinggal mati istri dan anaknya. Tinggalnya di langit pemberian Allah SWT, bukan pemberian pemda,bukan pula,pemberian mr. Cukong.

Sebagai kaum marhaen, Darwi tak mau meminta belas kasihan. Sosok kecil tangguh kebanggaan Bung Karno. Meski di Kudus ada parpol menjual nama Bung Karno,nyatanya Darwi harus bertarung sendirian. Bertarung untuk tak terkubur hidup-hidup di tanah kelahirannya sendiri.Darwi dianggap anak haram kaum kapitalis,anak kandungnya adalah buruh. Sedangkan Darwi seorang marhaen.Darwi bukan anak kandung ibu bernama feodal, karena Darwi tak punya keluarga.

Yah..Darwi sebatangkara ibunya tak mau mengakui karena bukan keluarganya. Tapi seandainya Bung Karno masih hidup,Darwi pasti tak sendirian. Bung Karno tak pernah bicara atas nama wong cilik, tak juga hobi masuk gorong-gorong, tapi Bung Karno punya “Twat Twam Asi” aku adalah engkau,dan engkau adalah aku. Jangankan Darwi, burung yang terluka pun diobati Bung Karno hingga sembuh,lantas dilepas kembali bebas,merdeka di alam Indonesia.

Sayang Darwi tinggal di tanah yang ditempati oleh suami-istri, tuan kapitalis dan nyonya Feodalis. Makanya Darwi tetap terlunta-lunta sendirian mencoba mengulur waktu, mencoba tak terkubur hidup-hidup di tanah moyangnya sendiri. Pertanyaannya di Kudus, apakah hanya ada seorang Darwi atau ada Darwi lainnya yang tak terekspose?

Darwi tak paham bila, fakir miskin dan anak-anak terlantar wajib dipelihara negara. Pemda Kudus pun entah paham entah tidak soal adanya tanggung jawab konstitusi. Entah takut bila dimarahi tuan kapitalis karena menolong Darwi,entah juga asyik sambil main gadget mengubah data dan angka kemiskinan di atas meja,entah juga merasa sama dan se ide dengan ibu feodal.

Darwi bukan keluarga saya. Untuk apa capek ngurusin Darwi, toh hanya sedikit rakyat yang tahu bahwa APBD itu uang rakyat. Masa bodoh dengan Darwi. Seandainya Tamzil tahu bahwa Darwi masih ada di luar sana,pasti akan dipanggil. Kudussatu.com percaya Tamzil masih punya nurani, buktinya sering memanggil ulama untuk menceramahi beliau. Mungkin Tamzil tidak tahu, bahwa Darwi belum pulang ke rumahnya. Rumah pemda,rumah rakyat.

Darwi seharusnya ketemu Anies Baswedan, dia akan diajak ikut ok oce, dilatih dan dimodali bersama puluhan ribu Darwi yang lain se-DKI. Atau bisa juga pindah ke Australia, disana ada “Thanks Giving Citizenship”, pemerintah Australia berterimakasih pada Darwi karena telah mau jadi warga negaranya. Darwi akan diberi tunjangan hari tua, sebagai tanda terimakasih pemerintah Australia.

Bisa juga pergi ke Finlandia, disana ada jaminan keamanan nasional. Jangankan bekerja, menganggur pun Darwi di penuhi kebutuhannya. Pejabat disana waras dan siap bekerja dengan senang hati melayani Darwi. Darwi disana juga akan bertemu kawan kawannya,mereka bercengkerama,tertawa,dan bahagia. Yah…Finlandia Jadi negara paling bahagia di dunia, Kudus indeks kebahagiannya nomor berapa?

Memang pemda Kudus katanya tak cukup punya uang untuk memikirkan nasib Darwi. Pemda Kudus juga tak punya PT.Daerah seperti kepunyaan Anies di DKI. Masalahnya apakah memang tak punya, ataukah sengaja tak mau bikin,karena tuan oknum di dinas terlanjur nyaman dengan oleh -oleh tuan kapitalis.Selama PAD-nya lemah, tak akan pernah pemda Kudus mampu memperhatikan nasib Darwi.

Ahh…masa bodoh dengan Darwi…toh mereka yang jual Bung Karno,dan bicara soal wong cilik juga tak serius perduli..cuma speak doang. Pemda Kudus terlihat gagal paham,mereka memerintah untuk siapa?tujuan republik ini didirikan untuk apa dan siapa subjek dan objeknya.

Pilkada berlangsung berkali-kali,hasil nya tetap ajeg. Darwi tetap harus memutar otak,bekerja keras menahan lapar,nasib Darwi pun ajeg miskin permanen. Ada pemda atau nggak ada pemda pun sama, nggak ada yang ngurus, karena terlanjur jadi anak haram tuan kapitalis dan ibu feodalis.

Semoga Tuan Tamzil membaca cerita tentang Darwi,tentang anaknya yang terlunta-lunta. Semoga Tuan Tamzil tahu bahwa Darwi anak kesayangan Bung Karno,marhaen sejati bukan koruptor,kriminal,bukan juga pengemis atau penyunat anggaran. Darwi juga anak baik,tuntutannya pun sederhana, jangan saya dikubur hidup hidup di tanah kelahiran saya.

Bila benar ada pandangan bahwa Tuan Tamzil takut dimarahi tuan kapitalis,tolong bikinkan Darwi PT. Daerah, biar PT. Daerah yang urusi Darwi.Tuan tamzil tak usah repot, tuan kapitalis juga tak usah galau, PT.Rakyat /PT. Daerah tak akan mengemis,tak juga tertarik untuk mencuri uang tuan kapitalis. Toh Darwi juga pasti tak setuju, Darwi hanya mau uang halal. Maka dia tetap bekerja.

PT. Rakyat/Daerah pun sama memandang tegas kedepan,mengangkat Darwi dan mendudukkannya di tempat terhormat,tempat bermartabat,di tanah yang telah diproklamirkan oleh Bung Karno. Di tanah seorang pemimpin yang selalu bergumam lirih”Twat Twam Asi”aku adalah engkau dan engkau adalah aku.


Warga Kudus semua,”setujukah kalian bila Darwi layak dimuliakan”? Apakah karena kemiskinannya Darwi harus dikubur hidup-hidup di tanah kelahirannya? Jawablah dengan lantang,biar arwah Bung Karno tahu bahwa masih ada penerus cita-cita perjuangannya.(redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *