Bekerja Sebagai Pemulung, Darwi Hanya Dapat Upah Rp 2.500 dan Berstatus Tuna Wisma, Bukti Nyata Kemiskinan dan Ketimpangan Sosial Menghantui “Negeri” Konglomerat

Rakyat Kudus mungkin boleh berbangga hati karena ternyata orang terkaya di Indonesia berasal dari Kudus.

Majalah Forbes menyebutkan kekayaan bos Djarum (Budi dan Bambang Hartono) mencapai Rp 524 triliun. Bahkan Forbes merilis kekayaan Grup Djarum itu masuk jajaran 100 orang terkaya di dunia.

Kendati dihuni oleh konglomerat dengan jumlah kekayaan yang fantastis, yakni ratusan triliun. Faktanya, di Kudus masih kita jumpai potret ketimpangan sosial yang tinggi.

Potret itu seakan tergambarkan jelas pada sosok Darwi (52), warga Desa Gribig, Kecamatan Gebog. Laki-laki paruh baya ini hidup sebatang kara karena ditinggal mati isteri dan anak satu-satunya.

Sehari-harinya Darwin sebagai pemulung atau tukang rongsok. Ia biasanya mencari dan mengumpulkan botol air mineral. Ia menerima upah Rp 2.500 untuk setiap sak (karung) yang biasanya dikumpulkan dalam waktu tiga hari. Maka, jika dihitung penghasilan Darwin hanya Rp 800 per hari.

Himpitan ekonomi ini memaksa Darwi terpaksa menahan rasa laparnya. “Kadang sehari bisa makan, bisa tidak. Kalau ada ya dimakan. Kalau tidak ada, ya diam. Saya tidak meminta-minta,” kata Darwis.

Darwi ternyata juga tidak memiliki tempat tinggal. Sudah hampir tiga tahun ini, Darwis hanya memanfaatkan kardus sebagai tikar dan plastik sebagai atap di area parkir Terminal Wisata Bakalan Krapyak.

Karena penghasilan yang pas-pasan itu membuatnya nekat tidur sebagai gelandangan. Sebenarnya ia pernah berniat untuk tinggal di Rusunawa yang bersebalahan dengan terminal.

“Mau sewa rusun nggak kuat bayar. Sebulan yang paling murah sewa Rp 160 ribu, mas,” ungkap Darwi kepada kudussatu.com.

Ternyata di tengah situasi sulit yang dialami Darwi. Ketidakpekaan justru ditunjukkan oleh petugas terminal. Darwi selalu dilarang mandi di toilet terminal.

“Alasannya apa, bilangnya kalau tukang rosok itu ketoh (kotor). Jadi nggak boleh mandi di situ,” tuturnya menirukan petugas terminal.

“Untuk baju, terkadang dikasih warga baju-baju bekas. Alhamdulillah,” sebutnya.

Darwi adalah salah satu protet kecil kesenjangan sosial dan himpatin ekonomi selalu menjadi persoalan klasik sebuah kota. Mungkin banyak darwis-darwis lain yang mungkin nasibnya sama atau bahkan jauh lebih buruk.

Tingginya ketimpangan ekonomi mengakibatkan kelompok berpendapatan rendah tidak mampu mengakses kebutuhan dan pelayanan dasar seperti makanan, kesehatan dan pendidikan.

Ini bisa berdampak buruk bagi masyarakat dan memperlambat proses pembangunan manusia, yang diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

IPM mengukur pencapaian rata-rata suatu negara dalam tiga dimensi: kesehatan, pendidikan, dan penghasilan individu untuk mendukung kehidupan yang layak.

Salah satu penyebabnya karena adanya hambatan untuk mengakses kehidupan yang lebih layak dan tidak memperoleh kesempatan yang sama dengan kelompok lainnya.

Pada dasarnya, faktor-faktor ini terbagi menjadi dua yakni: faktor internal dan faktor eksternal.

1.Faktor internal

Faktor internal terdiri dari rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) karena tingkat pendidikan yang kurang mumpuni, dan budaya kemiskinan. Pengertian budaya kemiskinan adalah sikap mudah menyerah, pasrah terhadap keadaan, apatis, dan tidak ada keyakinan masa depan yang baik. Mengapa banyak masyarakat yang bersikap seperti itu? Salah satu jawabannya, mereka tidak berdaya dari segi ekonomi dan kekuasaan. Para pejabat tinggi negara seolah-olah tidak mampu mendorong sikap pesimis mereka. Dibiarkanlah yang miskin menjadi semakin miskin. Begitu pula sebaliknya, yang kaya pun akan semakin kaya.

2.Faktor Eksternal
Faktor eksternal berasal dari luar kontrol dan kemampuan setiap individu. Contohnya, birokrasi atau kebijakan pemerintah yang membatasi akses seseorang. Dengan kata lain, kesenjangan sosial bukan terjadi karena seseorang malas bekerja, melainkan ada sistem yang menghambatnya. Misalnya saja, harga sekolah yang mahal membuat keterbatasan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *