Akibat Prostitusi Politik, Parpol Menabur Recehan, Rakyat Kudus Alami Penderitaan Panjang

Ada cerita menarik tentang pemilu yang dihimpun oleh kudus satu.com. Cerita ini soal Syaiful dkk warga desa Gunung Terang Kalianda Lampung Selatan.

Syaiful dkk didatangi banyak parpol dan caleg untuk mendukung mereka pada pemilu 2019 yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 April mendatang.

Syaiful bukanlah orang kuat dan berpengaruh,dia hanya seorang asisten tukang batu ,yang orang kudus menyebutnya”kenek bangunan”. Tercatat syaiful dkk didatangi oleh partai pdip,partai golkar,perindo,dll.untuk diajak membantu partai tersebut dengan cara memilihnya saat pemilu nanti. Dan dia selalu memberi jawaban sama.”Jangan kami diberikan uang,cukup urusi nasib kami sebagai rakyat”.

Ternyata usut punya usut ada ratusan Syaiful di desa tersebut,mereka minta agar dibantu menyelesaikan kasus pengurusan sertifikat tanah mereka,yang beban biayanya melambung diatas biaya ketentuan yang ada.

Kebetulan Syaiful dkk tidak termasuk kedalam kelompok yang bisa bertemu Jokowi karena dapat pembagian sertifikat gratis.

Kisah Syaiful cs ini selanjutnya didengar oleh salah satu caleg yang kebetulan juga sependapat dengan Syaiful,yakni tak menebar racun recehan untuk beli kursi anggota dewan.

Singkatnya Syaiful cs tertolong,dan sertifikat pun ada ditangan,biaya juga biaya resmi sesuai ketentuan yang ada.

Hal diatas adalah cerita singkat tentang pemilih cerdas,dan caleg berintegritas. Bahwa untuk menjadi pemilih cerdas,tak butuh pendidikan tinggi. Mereka cukup minta negara hadir dalam setiap denyut nadi kehidupan masyarakat. Abaikan yang lain. Abaikan modus politik uang recehan,abaikan jargon perduli wong cilik dengan modus dan cara licik.

Ilustrasi janji-janji manis parpol kepada rakyat menjelang pemilu

Wong cilik itu tak perlu didekati dengan wajah sangar, wajah anak istrinya pun sudah terlihat sangar,hingga menjelang tidurpun wong cilik selalu bertanya”apa besok masih bisa makan”?.

Dekati wong cilik dengan cara santun,sapalah dengan ramah,carilah solusi bersama bukan menggurui apalagi membikin modus.bersiaplah mendengar keluh kesah mereka,rangkum dan jadikan visi-misi.

Pastikan negara hadir membedah problema rakyat,pastikan aspirasi wong cilik itu terwakili,dan tuntas.
Pemilu memang sebuah cara terjadinya sirkulasi elit dengan damai.

Kompleksitasnya juga tinggi bagi parpol,mulai dari rekrutmen caleg muncul masalah. Apakah mengusung caleg berintegritas tapi tak berduit atau mengusung caleg berduit dan mengabaikan integritas.

Pembiayaan pemilu juga mahal. Perlu saksi, perlu APK, perlu logistik, perlu iklan,perlu sosialisasi,perlu mobilisasi massa,perlu transportasi,dll. Semua butuh biaya,dan masyarakat nyaris tak mau menyumbang parpol. Uang caleglah yang harus membiayai tak heran banyak caleg cari sponsor.

Sanusi misalnya telah terbukti disponsori oleh Agung Podomoro untuk menggolkan rencana reklamasi di Jakarta.Bagaimana situasi pemilu di kudus?.rasanya tak jauh beda,bahkan bisa dibilang sama parahnya.

Pemandangan tebaran racun recehan oleh parpol jadi hal lazim. Masyarakat Kudus permisif terhadap politik recehan bahkan ada adagium “no money no vote” tak ada uang tak milih.

Calegnya pun demikian,berlomba bermanis-manis muka pada mr Konglomerat untuk dapat jatah sponsor.
Prostitusi politik menjamur di Kudus aparatnya hanya menonton sambil geleng kepala,tak berbuat apa-apa. Semua dianggap biasa political prostitution is usual.

Senada dengan praktek prostitusi harfiah,bayi yang dihasilkan oleh pelaku prostitusi pun bermasalah. Mulai saat mengandung muncul pilihan bayi ini diaborsi atau dilahirkan. Saat bayi lahir pun bermasalah,akte kelahiran pada bayi kacau,siapa nama bapaknya?,saat bayi sekolahpun bermasalah ijazahnya atas nama siapa wali murid anak ini. Jelasnya dari awal salah,seterusnya akan salah dan jadi problem abadi.

Demikian dengan prostitusi politik. Hubungan gelap dengan sponsor akan menghasilkan kebijakan amburadul,perdanya pun amburadul,pengawasan pemerintahan juga amburadul,anggaran berstempel dan bermerk amburadul juga.

Istilah fee proyek,mahar politik,uang ketok palu,pelumas perijinan, sodokan jadi kepala dinas atau jadi honda menjadi makin populer. Ini akibat apa?

Jelasnya hal diatas terjadi terus menerus diakibakan rakyat menelan uang receh. Akibatnya hampir mirip seperti akibat nabi adam memakan buah kuldi dikeluarkan dari surga.Pun demikian juga buat rakyat,akibat menelan racun recehan parpol, nestapanya abadi.

Rakyat terkena pungli,apa-apa harus pakai sodokan,hanya bisa nganga saksikan elit politik berseliweran pakai mobil mewah,hanya bisa mengurut dada lihat saudaranya di PHK tanpa pesangon sesuai aturan,lihat uang rakyat dipakai buat bangun jalan mr.Konglomerat,lihat kue pembangunan dinikmati segelintir elit,dan harus menyingkir ketika terlibat masalah hukum dengan elit.

Seperti menyingkirnya kereta api ekonomi saat kereta eksekutif mau lewat. Rakyat harus terima siksanya. Siksa akibat memakan uang recehan parpol dan elit politik. Siksanya abadi,sama seperti siksa nabi Adam memakan buah kuldi muncul nestapa tanpa henti.

Semua kembali kepada rakyat Kudus,apakah masih mau memakan uang recehan parpol,atau ikuti ajakan Syaiful dkk. Lupakan saja soal recehan,kami mau diurus dengan betul bukan dengan akrobat statistik,dan main sirkus politik.

Datangkan gajah untuk ditonton,rakyat disuruh bayar tiketnya. Gajahnya pergi,parpolnya pergi,rakyat tersadar isi dompetnya telah terkuras oleh berbagai macam pungli,dan pembangunan bermerk amburadul. Masihkah lantang rakyat Kudus bersuara no money no vote?(redaksi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *