Sekaratnya Warisan Proklamator RI di Kudus. Benarkah Nasib Kaum Marhaen dan Koperasi Nestapa?


Tercatat Bung Karno anti kapitalisme dan imperialisme, anti utang luar negeri dan karena kecintaannya pada marhaen yang notabene adalah petani, pkl, dll. Semuanya adalah rakyat kecil, papa, dan mayoritas rakyat Indonesia.

Marhaenisme merupakan risalah ideologi populer yang digali oleh Bung Karno untuk menyebut rakyat indonesia. Risalah ini populer saat Bung Karno menyampaikan nota pembelaan berjudul”Indonesia menggugat”.

Kisah pertemuan Bung Karno dengan petani Pengalengan Bandung bernama marhaen era 1920-1930 dan dikombinasikan dengan ideologi marxisme yang dimodifikasi versi Indonesia telah menggurat di sanubari Bung Karno.

Kelak dalam perjalanannya Bung Karno banyak terinspirasi dengan sosok marhaen. Tercatat trisakti, pembukaan UUD 1945,slogan national character building,dan nasakom juga menempatkan narhaen sebagai subyek utama garis perjuangan Bung Karno.

Soekarno meminta istrinya Ratna Sari Dewi agar mematikan lampu saat pesta di istana,karena Bung Karno tak mau menggunakan uang rakyat untuk pribadinya. Juga membangun monas dan memberikan emas yang ditaruh diatasnya. Emas tersebut awalnya seberat 32kg,namun kemudian diperbaiki hingga menjadi 50kg seperti sekarang.

Memang emas tersebut merupakan sumbangan dari Teuku Markam pengusaha Aceh. Namun dengan posisinya sebagai presiden,bisa saja Bung karno menyalahgunakan jabatannya. Bukankah ada adagium yang menyatakan “power tend to corrupt,absolutely power,absolutely corrupt”.

Tapi itulah Bung Karno,seorang yang tak tamak kekuasaan,mencintai rakyat dan negaranya melebihi dirinya.
Lain hal dengan Bung Hatta,wapres RI pertama yang dikenal sebagai bapak koperasi.

Menurut Hatta koperasi adalah manifestasi dari prinsip” self help” (berdikari) sebagai antitesis dari “inferiority complex” atau penyakit minder warisan kolonial.

Bung Hatta dari awal tidak suka kapitalisme,karena dianggap tidak cocok dengan kepribadian indonesia. Organisasi budi utomo juga berpandangan sama.

Menurut Budi Utomo kapitalisme adalah tanaman asing,tidak cocok dengan kepribadian Indonesia yang mengedepankan musyawarah secara kekeluargaan dan gotong royong.

Bagaimana nasib warisan proklamator diatas? Ternyata bernasib tragis dihantam gelombang liberalisme- kapitalisme. Tercatat dari ratusan ribu koperasi di Indonesia sekitar 70% sudah tinggal papan nama. Petani pun mengalami nasib sama.

Alih fungsi lahan hingga hari ini semakin tak terbendung. Gurita kapitalisme menyentuh semuasendi kehidupan bangsa,rakyat hanya jadi buruh di negaranya sendiri dan merangkap sebagai pasar hasil industri kapitalis.

Inilah dua warisan besar proklamator RI. Yaitu Marhaenisme dan Koperasi. Warisan yang kemudian berkembang menjadi koperasi dan UKM dikemudian hari.

Wajah demokrasi yang memakan biaya politik tinggi,dianggap sebagai penyebab maraknya keran impor di Indonesia,termasuk impor pangan.
Celakanya tak cukup sanpai disini,rakyat juga menjadi konsumen barang impor yang lebih miris petani harus memakan beras impor yang dikendalikan penguasa yang pro liberalisme.

Maka tak heran bila kita melihat wajah Sang proklamator dijadikan background partai politik untuk mendulang suara kelompok marhaen. Pahlawan RI dieksploitasi sedemikian rupa,sementara impor pangan tetap jalan terus.

Entah paham entah tidak bahwa sejatinya Bung Karno mencintai Marhaen dengan segenap jiwanya,sementara parpol jualan gambar dan mengabaikan sejarah perjuangan kaum marhaen di Indonesia.

Sisi lain nasib koperasi pun juga sama tragisnya.hari ini kita lihat banyak korporasi mendirikan koperasi di dalam perusahaannya. Apakah ini yang dimaksud Bung Hatta?.

Kemana parpol yang sering bicara tentang Marhaen dan wong cilik?kenapa mendiamkan saja pemandangan tragis seperti ini? Dan kenapa rakyat tak juga sadar,bahwa Sang Proklamator sudah membangun jalan untuk sejahtera dan bermartabat. Tinggal ikuti,dan kelola dengan sungguh-sungguh,Insya Allah hasil akan sesuai prosesnya. Jangan takut memulai sesuatu dari kecil,bukankah rakyat kecil kecintaan Bung Karno?.ikuti dan amalkan ajaran Bung Karno,jangan perdulikan mereka yang merecehkan ideologi Bung Karno.

Mengapa koperasi yang sejatinya bersifat kolektif gotong royong menjadi bertekuk lutut di kaki kapitalisme?.Lantas bagaimana nasib marhaen dan koperasi di kudus?.apakah tradisi Gusjigang selaras dengan marhaenisme dan koperasi?.

Sulit terbantahkan bahwa nasib koperasi,dan kaum marhaen di Kudus pun sama tragisnya. Perlahan mulai sekarat,dan ditinggalkan oleh kekuatan kaum pemodal. Koperasi didirikan jadi barang mainan. Posisi perusahaan jauh lebih kuat,dan tak sedikit koperasi hanya untuk mengurusi karyawan.What? Serendah itukah level koperasi? Kenapa mereka tak berserikat membentuk koperasi?bagaimana sikap pemda terhadap keberadaan kaum marhaen dan koperasi di Kudus?.

Berdasarkan penelusuran keperdulian pemda terlihat ada,namun mereka tak berpikir dan bertindak tuntas. Kecil sekali anggaran untuk penguatan kaum marhaen dan koperasi dibandingkan dengan jumlah kelompok marhaen yang ada di Kudus.

Relokasi dan pembinaan sudah ada,hanya ketika kami survei ke pedagang kaki lima,apakah pernah dilatih untuk hygienisasi makanan,standarisasi rasa masakan,dan cara platting makanan,mereka aklamasi menjawab tidak pernah. Sebagian sudah puas dan bersyukur dapat tempat untuk jualan,meski bayar retribusi.

Miris. Mereka tulang punggung perekonomian bangsa,namun tak tersentuh pemberdayaan. Apa sulitnya pemda mendatangkan chef terkenal untuk mengajari resep dan cara penyajian makanan agar terlihat menarik. Untuk apa gembar-gembor tentang pariwisata,bila kuliner sebagai nadi pariwisata tetap terpinggirkan dan acak-acakan rasanya.

Bukankah pariwisata membutuhkan service dan keramahan? Kenapa pedagang kulinernya tidak ditata?apakah program wisata di Kudus ini serius atau hanya lips service?entahlah,yang jelas warisan proklamator itu harus ada berani yang menjaga,siapapun itu.

Koperasi dan perusahaan secara fundamental sama kuatnya,sama terlindungi. Oleh negara,tinggal pengelolaannya dan kebijaksanaan penguasanya. Penguasa perduli koperasi terlindungi,penguasa minta fee,nah …ini yang koperasi kalah,karena pasti bocor kemana-mana.

Terkait keselarasan antara koperasi dengan tradisi gusji gang,memang selaras. Koperasi dan gus ji gang menitik beratkan pada perdagangan. Dagang butuh trust atau akhlak yang baik,koperasi juga punya ruang untuk mengaji, mengkaji, persoalan ekonomi,dan persoalan keluarga secara kekeluargaan.

Pada konteks ini pendulum hukum seyogyanya ditempatkan di posisi terakhir,karena moral diatas. Hukum,dan musyawarah bagian dari penyelesaian hukum jadi biarkan rakyat berkembang dengan kearifannya.

Fee,gratifikasi,salah urus dan pengurus bejat lah yang sebabkan warisan bung hatta ini semakin tenggelam dan ditinggalkan. Apakah karena semakin tak populer akan kita kubur warisan Sang Proklamator RI ini?.

Koperasi di Denhaag, Kopenhagen, dan negara-negara skandinavia mampu tumbuh dan besar menjadi industri yang tak kalah dengan industri besar lain. (Redaksi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *