China Pangkas Pertumbuhan Ekonomi, Rakyat Kudus Harus Siap Kencangkan Ikat Pinggang. Bagaimana dengan Pemda?

Tahun 2019 Pemerintahan China telah menetapkan proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 6-6,5%. Ini proyeksi terendah Tiongkok sejak tahun 1990.

Perang dagang dengan AS, restrukturisasi hutang, penguatan daya beli pasar donestik,dan perubahan orientasi pembangunan diduga sebagai penyebab melambatnya ekonomi China.

Senada dengan China World Bank juga memprediksi pertumbuhan ekonomi global akan turun dari 3,3% menjadi 3,1%.Hal sebaliknya justru dilakukan Indonesia yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 5,2% lebih tinggi dari capaian 2018 sebesar 5,17%.

Perbedaan strategi mendasar antara China engan Indonesia antara lain menjadi penyebab bedanya angka proyeksi pertumbuhan ekonomi.

Presiden China Xi Jinping berfokus pada konsolidasi dalam negeri,sementara Jokowi berfokus pada ekspor.

Xi Jinping memproteksi ekonomi domestik dengan pemangkasan suku bunga,pengurangan pajak PPN, sementara Jokowi memberi insentif tax holiday pada investasi besar,dan mendorong perdagangan bebas melalui transpacific partnership maupun kerjasama perdagangan bebas bilateral,salah satunya dengan Australia.

Xi Jinping merestrukturisasi hutang agar tidak membebani negara bahkan memangkas anggaran militer, Jokowi rajin menerbitkan surat hutang.Tak ada yang salah dengan kebijakan berbasis strategi kedua negara. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana dampaknya bagi kehidupan rakyat?

Anomali sistem perdagangan internasional yang dipicu oleh kebijakan Trump yang pro proteksionisme,deglobalisasi melawan tiongkok yang pro globalisasi,dan free market membuat seluruh negara mengalami distorsi ekonomi domestiknya.

Hal ini akan memaksa setiap negara akan memaksimalkan ekspor,dan mengurangi impor agar pertumbuhan ekonomi tetap surplus.

Celakanya Indonesia terjebak pada 2 komponen besar yabg bisa merusak ekonomi Indonesia,yakni volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar,dan impor bbm yang terus bengkak hingga saat ini.

Akibatnya neraca dagang RI terus defisit,hingga memperlemah fundamental ekonomi negara.Bila tidak segera diatasi maka keuangan negara akan bleeding dan berdampak pada kehidupan ekonomi rakyat.

Petaka dimulai dengan meningkatnya suku bunga, dimana boleh dikata era bunga murah akan segera berakhir.Beban suku bunga dan turunnya cadangan devisa negara akan menyebabkan tingginya biaya produksi,dan rendahnya daya beli dikarenakan jumlah uang beredar semakin sedikit sebagai implikasi defisitnya neraca perdagangan.

Maka tak heran bila kita saksikan mall mulai kekurangan pengunjung,restaurant sepi pembeli,dan tak sedikit perusahaan yang gulung tikar.

Cepat atau lambat dampak perlemahan ekonomi China, menurunnya pertumbuhan ekonomi globalakan dirasakan oleh warga Kudus.

Bila tidak diantisipasi akan segera kita lihat pemandangan pengangguran dimana-mana,industri manufaktur akan berkurang omsetnya,industri kuliner akan sepi pembeli,ukm akan kolaps,dan kriminalitas akan meningkat.

Efisiensi,efektifitas perencanaan, pemetaan preferensif konsumen menjadi keniscayaan bila industri tak mau kolaps.
Sementara untuk masyarakat Kudus,gaya hidup sederhana,belanja sesuai skala prioritas,menghilangkan prasangka,individualitas,dan ego sentris harus dikurangi.Trust harus dihidupkan kembali,moral sentimen dihilangkan,dan kerjasama perlu ditingkatkan.

Peningkatan skill,penguatan pelembagaan ekonomi,dan pengalihan belanja dari belanja barang impor menjadi barang lokal perlu ditumbuhkan.

Produsen menperbaiki kualitas produk,konsumen menyadari pentingnya menjaga kecukupan jumlah uang beredar di kudus adalah bersifat mutlak,hal ini bisa membuat rakyat mudah mencari uang lewat perdagangan dan jasa,serta mencegah melebarnya tingkat kesenjangan.

Prinsipnya membeli makan atau belanja di warung tetangga jauh lebih baik dari pada belanja di mall atau ritel modern. Local wisdom economic harus digairahkan kembali. China pun melakukan hal sama untuk bangga beli produk dalam negeri mengapa warga kudus tidak melakukan hal sama.

Ketika masyarakat belanja di warung tetangganya maka posisi uang tetap berada di kudus.Sedangkan bila dia belanja di ritel modern maka uang akan segera ketarik ke jakarta atau luar kota,akibatnya jumlah uang makin sedikit,orang kesulitan mencari uang,dan gesekan sosial akan mulai terjadi.Awal dari perpecahan sosial.

Inovasi dan kreatifitas terus dikembangkan,peran sosmed dialihkan kearah produktif untuk memasarkan produk.Tak kalah pentingnya adalah berinvestasi disaat ekonomi melambat.

Sektorpeternakan,perikanan,pertanian,dan kuliner bisa jadi pilihan,mengingat belum ada teknologi yang bisa membuat kenyang tanpa memakan makanan.

Namun demikian peran pemda tetap dibutuhkan.Apa yang bisa dilakukan pemda agar perlambatan ekonomi tidak membawa guncangan sektor sosial ekonomi masyarakat kudus.

Pemda bisa melakukan tigh money policy disektor atributif dan barang sekunder.Membangun PT. Daerah sebagai wadah ekonomi rakyat yang masih lemah,sekaligus menciptakan kohesi sosial antara rakyat kudus dengan pemda.

Langkah lainnya dengan membangun regulasi berupa perda tentang seleksi barang impor,proteksi barang domestik.

Pemberian insentif terhadap industri berbasis ekspor,rileksasi beban perusahaan misal dengan insentif perijinan,dan pengurangan retribusi daerah.

Alokasi APBD didorong untuk penciptaan lapangan kerja berbasis padat karya,belanja pemda dinaikkan untuk peningkatan konsumsi domestik,iklim investasi diperbaiki,indeks kemudahan dalam berusaha diperkuat,dan deregulasi serta simplifikasi proses perijinan berbelit menjadi simpel.

Jelasnya pemda harus jadi leading sektor untuk mengantisipasi efek perlambatan ekonomi dunia.Kinerja pemda harus mampu dilihat,diukur,dan dipercaya masyarakat Kudus. Pemda Kudus harus bisa mendapatkan trust dari masyarakat.

Trust akan menciptakan harmonisasi,kebijakan pemda akan di taati,ketertiban akan meningkat,rasa aman dan nyaman mulai dirasakan,dan mobilisasi ekonomi kerakyatan bukan hal mustahil bisa diwujudkan.

Apakah Pemda kudus sudah melakukan hal diatas?Smoga Tamzil paham bahwa kehidupan ekonomi rakyat adalah nafas peradaban. Menghalangi ekonomi rakyat berarti menghentikan nafas peradaban. Bagaimana menurut anda?.(redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *