Kapan Kudus Bisa Setara dengan Singapura dan Australia?


Di Singapura itu tidak ada konglomerat sebesar Djarum. Tidak ada wali seperti di Kudus. Ada dua wali, Sunan Kudus dan Sunan Muria. Demikian juga dengan Australia. Sejarahnya merupakan daerah perampok dan buangan napi-napi asal Inggris.

Soal usia, Kudus lebih tua peradabannya ketimbang Singapura dan Australia. Kenapa mereka (Singapura dan Australia) lebih diluam maju ketimbang Kudus. Padahal mereka tidak memiliki wali dan konglomerat.

Pertanyaan Kapan Kudus bisa setara dengan Singapura dan Australia. Apa yang salah dari sisi peradaban Kudus lebih tua berdirinya dibanding Singapura dan Australia. Dari sisi ketokohan, Kudus memiliki Sunan Kudus dan Sunan Muria. Sementara di Asutralia merupakan daerah perampok. Apakah penerapan sistem kapilatisme yang terlalu berlebihan. Apakah karena ada konspirasi antara penguasa dan konglomerat sehingga rakyat terpasung. Ataukah karena i’tikad pemdanya kurang serius untuk mengurusi rakyatnya.

Di Singapura pemerataan itu jauh lebih baik ketimbang di Kudus. Holding-holding company dikuasai negara. Kontruksi negara sangat kuat diatas perusahaan swasta. Demikian di Australia benefit inkind warga negara di atas usia 50 tahun memperoleh tunjangan dari pemerintah Australia.

Kapan warga seperti orang-orang jompo dan disabilitas di Kudus mendapatkan tunjangan seperti di Australia. Kita punya dana bagi hasil cukai dan tembakau yang besar. Kita dikenal sebagai kota kretek. Kita dikenal dengan penerimaan cukai yang melimpah. Tapi pemikirannya tetap sama. Ketertinggalannya semakin terbelakang. Kenapa ini terus terjadi. Dan apakah kejadian ini terus dibiarkan tanpa ada akhir.

Apakah usia peradaban Kudus yang lebih tua, tapi masih tertinggal dari Singapura dan Australia bisa dianggap sebagai fakta sosial tentang implikasi rakyat yang kekurangan kalori dan protein? Butuh pendapat ahli untuk menjawabnya.

Australia tidak mengenal pancasila,tapi bisa menerapkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat australia. Sedangkan Kudus mengenal pancasila, apakah keadilan sosial bagi seluruh rakyat kudus sudah terwujud? Semoga rakyat tak disuruh bertanya pada rumput yang bergoyang.

Apakah rakyat harus tetap nurut dengan situasi terbelengggu seperti itu. Asutralia yang bukan siapa-siapa, berubah menjadi negara dengan GDP termasuk tinggi. Karena jaminan sosialnya terproteksi dengan baik. Penegakan hukum tertata rapi dan baik. Demikian juga dengan di Singapura. Apakah hukum di Singapura dan Australia sama kwalitasnya dengan di Kudus. Padahal dari sisi keturunannya jelas, harusnya Kudus lebih bermartabat karena dari keturunan konglomerat dan Walisongo.

Apakah usia tua menjamin akan jauh lebih sejahtera. Faktanya Australia merupakan negara persermakmuran yang muda. Singapura juga. Kenapa Kudus tidak mampu padahal usianya lebih tua. Pondok pesantren banyak. Ulama kharismatik tersebar di mana-mana. Gusjigang menjadi tradisi. Kenapa itu kok tidak membawa daya ungkit menjadikan Kudus sebagai daerah terdepan dan bisa mensejajarkan dengan Singapura dan Australia.

Apanya yang salah. Apakah ada semacam konspirasi. Ataukah karena kekuasaan pemerintah pusat yang terlalu absolut yang ada di Kudus. Ataukah karena memang masyarakatnya Kudus yang pemalas. Atau memang ada salah urus dari Pemda terhadap rakyatnya. Ini tidak bisa dijawab dengan alibi. Ini bisa dengan komitmen bersama.

Untuk mengejar ketertinggalannya Kudus harus merubah cara pandang hidupnya lebih visioner, lebih berdikari dan lebih kuat dan tangguh dalam kerkompetisi khususnya di tengah kompetisi global. Satu-satunya instrumen yang bisa menjawab untuk bisa sejajar dengan Singapura dan Australia.

Upah murah bukan solusi. Karena upah murah itu akan memaksa para buruh mengurangi kalori yang dibutuhkannya. Mereka tidak mampu berfikir dan menganalisis menentukan haluan hidupnya karena kekurangan protein dan kalori. Apa bangganya bisa memerintah di tengah kondisi rakyat kekurangan kalori dan protein. Apa bangganya menjadi konglomerat 12 tahun berturut-turut di tengah kuburan manusia yang kekurangan kalori dan protein. Tapi ada kalanya manusia bangga ketika bisa menindas orang lain. Ada kalanya mereka bangga karena memaksa rakyat untuk takut dan patuh padanya.

Pemerintah kolonialis pun mau mengakui akibat perbuatannya di masa lalu. Contoh, sering kita mendengar Jugun Ianfu zaman Jepang. Pemerintah Jepang pun memberikan kompensasi. Termasuk kita mendengar soal IGGI yang merupakan kompensasi dari pwmerintah Belanda setelah mengkoloni Indonesia. Apakah pemerintah Kudus mau mengakui kesalahannya di masa lalu. Apakah para konglomerat yang diantarkan sebagai cukong top di Indonesia mau mengakui kesalahannya terhadap masyarakat Kudus. Tidak sesederhana itu.

Berbicara alibi setiap orang pasti akan mampu menerjemahkam libi itu. Tapi bicara kemosrotan SDM akibat berkurangnya asupan kalori dan protein, di tengah mahalnya harga tanah dan tidak terjangkaunya akses kebutuhan primer manusia itu bisa dipertanggungjawabkan pemerintah saat ini.

Rakyat Kudus harus berani memulai memotivasi dari bayang-bayang kelam. Bahwa tidak selalu mempercayakan nasib kepada mereka yang kaya dan berkuasa tidak menjamin hidupnya. Tetapi berani memandirikan langkah untuk menyusun haluan masa depan depan dan menyuarakan ktidak adilan dan ketimpangan itu jauh lebih utama.

Daripada mengurangi protein dan kalori terus menerus yang pada gilirannya akan semakin tertinggal dan terpuruk.
Negara Singapura dan Australia beruntung memiliki pemimpin yang cerdas untuk menerjemahkan aspirasi rakyat jadi prgram pembangunan dan kinerja yang terukur. Hasilnya mereka melegit menjadi negara maju. Mana yang harus dilakukan secara mendesak sebagai masyarakat Kudus.

Apakah menghasilkan pemimpin seperti Lee Kwan You atau menunggu kedatangan Ratu Elisabeth. Apakah masyarakat Kudus harus cerdas untuk menentukan pilihan. Betul-betul menyeleksi secara ketat siapa-siapa yang pantas ditaati atau diikuti. Karena jika salah memilih meteka akan merasakan kesulitan panjang. Mereka terus-menerus menahan dirinya untuk mengurangi asupan protein dan kalori yang cukup setiap hari.

Bagaimana nasib generasi yang mendatang ketika masyarakat yang mayoritas buruh itu harus dipaksa terus-menerus dipaksa mengurangi protein dan kalori. Apakah bisa orang yang terus menerus mengurangi asupan protein dan kalori bisa bersaing dengan daerah lain yang sudah memiliki ketahanan pangan, upah yang lebih tinggi dan layak. Upah yang bisa memastikan mereka mampu mengakses kebutuhan primernya. Apakah mungkin rakyat dipaksa untuk berjuang sendiri.

Sementara tidak ada terobosan progam-progam dari pemerintah untuk mengangkat derajat hidupnya.
Butuh langkah nyata dan serius dan semua pihak. Ini tidak untuk menuding kanan kiri atas bawah. Ini untuk merenungkan sebuah realitas bahwa telah terjadi pengurangan kadar protein dan kalori hanya untuk menyesuaikan diri dengan mahalnya harga tanah. Tidak juga mengkambinghitamkan siapa dibalik mahalnya harga tanah di Kudus. Tapi untuk memastikan tidak terjadi degradasi generasi dari waktu ke waktu di Kudus akibat asupan kalori dan protein berkurang. Akibat mahalnya harga tanah.

Seyogyanya para konglomerat dan Pemda Kudus bisa meniru sikap Jepang dan Belanda untuk mengoreksi langkahnya bahwa ada yang salah terhadap terminologi upah murah. Bahwa ada penghancuran peradaban akan terjadi degradasi generasi dampak dari upah murah.


Kalau Jepang dan Belanda berani merubah langkanya dan merevisi dengan memberikan kompensasi atas perbuatannya di masa lalu, apakah para konglomerat dan Pemda berani merevisi langkahnya dengan memberi kemudahan bagi rakyat untuk mendapatkan spesial treatment agar mudah mengakses tanah untuk memenuhi kebutuhan primernya dan agar mudah mengkonsumsi protein dan kalori untuk memperbaiki kualitas masa depannya.

Memang feodalisme itu selalu memikirkan garis keturunan. Dan feodalisme yang berkawin dengan kapitalisme merupakan contoh peradaban yang terburuk dan belum pernah terjadi di belahan dunia manapun. Tapi , saat ini terjadi di Kudus. Rakyat itu bukan keturunan konglomerat atau penguasa hari ini. Tapi rakyat adalah nafas. Dimana dengan nafas itulah penguasa dapat berkuasa.

Sementara konglomerat bisa menduduki jabatannya dan posis nyamannya seperti seorang ini. Apakah nafas itu harus diputus hanya karena bukan keturunan dari mereka.

Apakah feodalisme dan kapitalisme terus dikawinkan. Sementara dalam sejarah perdaban manapun baik Eropa maupun belahan dunia manapun bahkan sejak zaman nabi tidak pernah terjadi seperti itu. Artinya garis perjuangan dari Sunan Kudus dan Sunan Muria akan sia-sia melihat anak turunya menghadapi belunggu perkawinan kapitalisme dan feodalisme.

Maka harus ada cara lain. Cara kongkret Pemda untuk memberikan stimulus kepada rakyatnya untuk mengakses ekonomi. PT Daerah salah satunya. Apa jadinya Pemda DKI tanpa keberadaan PT Daerah. Mereka tidak mungkin mampu menikmati kue PAD sampai puluhan triliunan. Yang itu dilakukan oleh seorang gubernur memiliki visi jelas dan cemerlang yaitu Ali Sadikin. Dan dampaknya hari ini setiap gubernur di DKI kesulitan untuk menghabiskan uang dalam jumlah besar uang yang harus dihabiskan dalam setahun.

Sementara rakyat Kudus terpasung dalam ironi hanya bisa melihat Singapura dan Australia melesat jauh meninggalkannya. Dan mereka semakin hari harus mengurangi asupan kalori dan protein. Sampai kapan?

Di era nabi Adam yang muncul juga feodalisme yaita antara Qobul dan Habil.Kemudia ketika nabi Muhammad juga berlaku feodalisme. Bukan Kapitalisme. Ketika Abu Jahal tidak mau mengakui kerasulannya (Muhammad) karena faktor kebangsawanan. Itu kan namanya feodal. Kapan Kudus setara dengan Singapura dan Australia.

Soekarno pernah mengatakan “Saya lebih mudah karena saya melawan bangsa asing. Tapi, kelak kalian jauh akan menghadapi situasi sulit karena kalian harus melawan bangsa sendiri. Tapi, revolusi tidak pernah berhenti”.

Apakah kita harus berdiam diri menghadapi situasi seperti ini. Situasi dimana rakyat dijepit dengan sistem kapitalisme dan feodalisme. Ada dugaan konspirasi antara pengusaha dan penguasa membangun oligarki untuk melanggengkan sistem kasta.

Konservatisme adalah hambatan rakyat untuk mendapat protein dan kalori Buat apa menceritakan progam stunting sementara sistemnya memngakibatkan stunting.

Apakah upah murah itu solusi. Upah murah hanya bagus untuk kelompok industri. Tidak bagus untuk peradaban dan penduduk. Apakah iya penciptaan upah murah itu cara untuk meninggikan peradaban Kudus. Ataukah justru membuat Kudus terjerembab pada peradaban rendah.

Kenapa juga Singapura dan Australia yang tidak memiliki Sunan dan Konglomerat jauh lebih ssjshtera. Apanya yang salah. Pasti ada yang salah.Maka kita dan rakyat harus bersatu untuk mengevaluasi secara bersama. Demikian juga para konglomerat dan penguasa harus merenungkan kembali. (Redaksi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *