Kisah Tragis Juminten Sang Penjual Jamu Gendong di Tengah Pergulatan Antara Civilisasi dengan Industrialisasi


Juminten adalah seorang janda beranak satu yang ditinggal mati suaminya. Parasnya cantik,kulitnya kuning langsat,tubuhnya indah proporsional yang terbentuk karena rutin berolahraga. Yah,rutin berjalan kaki karena juminten berprofesi sebagai penjual jamu gendong.

Juminten sosok perempuan terhormat,yang bertanggung jawab menafkahi anak tunggalnya yang masih kecil. Juminten ingin menafkahi anaknya dengan cara yang halal bukan dengan cara yang lain.

Suatu hari Juminten sedang melayani pelanggannya di trotoar jalanan. Tepatnya di trotoar aAlun-alun Simpang Tujuh Kudus.

Entah karena tidak tahu bahwa pagi itu alun-alun mau di gunakan untuk kegiatan upacara pemda atau karena panggilan pelanggan yang membutuhkan layanan minum jamu gendong,ringkasnya Juminten didatangi petugas Satpol PP dan disuruh pindah.

Saat yang sama datanglah aparat penegak hukum yang kebetulan melihat ada bubuk jamu yang lagi di seduh. Diambilnya bungkus yang habis dipakai oleh Juminten,diteliti dan dibaca tentang merk,kandungan,khasiat,tanggal kadaluarsanya,dan ijin edarnya.

Ternyata kemasan jamu yang dijual tadi tak memiliki ijin edar.s
Selanjutnya atas nama hukum dan penegakan undang-undang Juminten diinterogasi oleh aparat penegak hukum tadi.

Juminten mengakui kalau jamu bubuk tadi buatan dirinya dan teman-temannya. Ia mengatakan bahwa selain jamu cair juga menyediakan jamu bubuk yang diinginkan oleh pelanggan. Terkadang ia juga membeli jamu bubuk milik perusahaan terkenal.

Namun untuk menyediakan lapangan kerja buat temannya dan dapat untung lebih besar ketimbang beli dari pabrik terkenal tadi tak jarang ia mebuat sendiri,dan dikemas dalam plastik yang sederhana.

Singkat cerita Juminten dibawa ke pengadilan dan divonis bersalah karena memperdagangkan jamu ilegal.
Selanjutnya Juminten dikirim ke lapas perempuan dan menjalani kurungan atas perbuatannya diatas.

Juminten adalah satu diantara potret kehidupan warga yang harus berjuang keras demi menghidupi keluarganya. Kini, kita semakin kesulitan menjumpai penjual jamu gendong seperti Juminten. Padahal dulu banyak sekali penjual jamu gendong seperti Juminten di kota ini.

Industrialisasi jamu diduga menjadi penyebab semakin berkurangnya mbok-mbok penjual jamu gendong. Sekarang orang dengan mudah bisa menikmayi jamu dalam kemasan yang katanya lebih higienis. Alih-alih untuk meningkatkan mutu jamu gendong, kata higienis justru memiliki standar ganda. Di sisi lain untuk menjaga kebersihan dan kehigienisan jamu, namun dibalik itu justru sebagai alat untuk memukul penjual jamu gendong seperti Juminten.

Sebagai wong cilik, Juminten sungguh tak berdaya atas situasi yang serba sulit. Mau tidak mau Juminten harus tetap bertahan demi keberlangsungan hidup nya dan keluarganya.

Cerita penjual jamu gendong seperti Juminten tidak akan ada ketika ada will dari penguasa wilayah untuk melindungi mereka. Mereka (penjual jamu gendong) sebenarnya bisa diwadahi dalam bentuk ekonomi kelembagaan seperti PT Daerah.

Melalui PT Daerah mereka akan lebih dijamin dari aspek legalitas serta advokasi. Di situlah, pentingnya negara atau Pemda hadir untuk memberikan proteksi kepada warganya. Khususnya dalam bidang pengembangan ekonomi. Jangan sampai membiarkan rakyatnya bersaing sendirian dengan pemodal besar (industri). Semoga kisah Juminten ini betul-betul didengarkan oleh penguasa di Kudus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *