Dukun (Bukan) Tuhan Untuk Sandaran Hidup


Pagi indah merayap memberi hangat pada ramah rakyat ditengah gejolak rindu pada masa yang telah berlalu. Empat sekawan dari SMA yang sama kini telah menjalani hidup membeda, sudah 5 tahun mereka berpisah dari ruang lingkup sekolah.
Semua adalah Jordy, Guntur, Azam, dan Awan.

Semuanya dari latarbelakang keluarga yang sama-sama kekurangan. Di sekolah dulu, mereka dikenal sebagai murid yang nakal kecuali Jordy. Jordy adalah murid yang berprestasi, meskipun tampilannya culun, Jordy terkenal ramah dan baik hati. Guntur paling tidak suka pada Jordy dari dulu, Azam dan Awan pun semula tak mau peduli dengan keberadaan Jordy dalam kehidupan mereka dimasa sekolah.

Dan semuanya berubah drastis ketika langkah penuh hambatan dalam hidup telah terjalani. Awan sekarang adalah seorang yang sukses mendirikan cafe ditengah kota, yang tentunya ia dapatkan dari pelajaran masa lalu yang pahit, dan dengan didorong kerja keras. Azam sekarang menjadi seorang penulis novel, ia juga banyak belajar pada kehidupan semasa sekolah, dan ia sadar bahwa yang berlalu terkadang tak harus diulangi.
Guntur seorang pengusaha tekstil kaya, dan Jordy yang dikenal paling pintar diantaranya, masih serabutan ala kadarnya meratapi nasib sebatang kara. Ia memang bertetangga dengan Guntur, tapi Guntur seakan-akan acuh padanya. Sebenarnya Guntur dan Jordy pernah tinggal serumah sejak kecil, mereka dirawat oleh bapak Jordy. Hal menimbulkan rasa iri pada hati Guntur yang tak tau orang tuanya dimana sampai sekarang. Semenjak bapak Jordy meninggal pasca mereka lulus SMA, Guntur memutuskan memulai usaha hingga sukses hingga menjadi seperti sekarang ini.

Menjelang siang ini, bahkan sering sekali menurut Guntur, rumahnya kerap didatangi seorang pengemis tua yang terbata-bata matanya, seperti berbicara pada masa kelam. Rumah Jordy pun sama. “Hai pak, kamu ini kok sering sekali datang kesini meminta-minta, apa karena saya ini kaya, lalu bapak ketagihan saya beri uang?”. Kata Guntur kepada pengemis itu didepan teras rumah.

Jordi yang datang tiba-tiba lalu memberi sedikit uang pada pengemis itu dan berkata “ini pak sedikit”. Pengemis terus memandangi keduanya beberapa saat dan pergi. Jordy pun mengutarakan maksud kedatangannya pada Guntur, “Assalamualaikum gun.. nanti malam jadi ikut kumpul di cafenya Awan kan?, sudah lama tak bertemu lho, ada Azam juga”. Guntur langsung masuk rumah tak mengucap apapun. Dikuatkan rasa sabar, Jordy pun pulang.

Senja mulai pamit, rembulan hadir menyambut malam bersama taburan bintang dilangit, turut mendukung pertemuan mereka. Awan telah mempersiapkan segalanya di cafe miliknya.“Sirat… Sirat.. nanti ada kawan lama saya datang kesini. Tolong siapkan makan dan minum, dan sambut mereka sama dengan menyambut tamu di cafe ini”, suara Awan memberi tugas pada karyawannya. “baik pak bos.” jawab karyawannya.

Saat yang ditunggu telah tiba. Awan dan Jordy datang tanpa Guntur. Mereka berbincang tentang masa SMA dan berbagi cerita tentang keadaan hidup yang sekarang. “ini Guntur kemana ya?, kurang lengkap kalau kita bicara ngalor-ngidul tapi gak ada dia” kata awan. “tadi saya sudah kerumahnya, sepi tak ada seorangpun”. Jawab Jordy.

Ditengah perbincangan mereka, Azam yang sedari tadi membawa koran, tiba-tiba dengan lantang bersuara “Pengusaha tekstil bangkrut karena kebakaran.. woeeee… ini dikoran ada potonya Guntur. Wah, kasian sekali dia”. Awan dan Jordy pun kaget. “Kasian Guntur”. Kata Awan. “Pasti sekarang dia lagi sedih”. Jawab Jordy.

Beberapa saat mereka termenung, Guntur datang ditengah mereka. Dengan senyum simpati dan peduli mereka menyambutnya. “Kami turut prihatin atas musibah yang menimpamu gun” kata Awan menguatkan. “Hancur hidup saya”. Selang waktu singkat, datang pengemis tua yang biasa datang kerumah Guntur. “Yang tabah nak Guntur, segalanya adalah kehendak Tuhan”. Kata pengemis. “kamu Cuma pengemis jangan ikut campur” kata Guntur.

Pengemis itu menangis dan berkata “Kalau saja bapak Jordy masih ada, kamu akan tau bahwa sebenarnya saya adalah bapak kamu nak”. Pengemis menjelaskan kepada mereka bahwa ia menitipkan Guntur pada bapak Jordy dan memintanya tidak bercerita kepada Guntur karena sejak Guntur berusia 3tahun, si pengemis terkena fitnah korupsi hingga dipenjara 10tahun, bebas dari penjara, pengemis menunggu waktu yang tepat untuk bercerita. Mendengar penjelasan itu Guntur tak peduli dan tak mau percaya pada pengemis tersebut.

Hancur hati Guntur malam itu, ia pergi dan tak disangka, ia mendatangi seorang dukun dan berniat meminta pesugihan. “Saya ingin usaha saya kembali sukses mbah, apapun syaratnya saya akan penuhi”. Kata Guntur pada dukun. Tanpa sepengengatuan Guntur, teman-temannya mengikuti dan mendengar perbincangannya dengan dukun.

Di jalan, mereka menegurnya bahwa yang dilakukannya adalah salah. “ini semua gara-gara kamu dan bapak kamu jor, bapak kamu diam tak bercerita kalau orang tua saya masih ada, hingga mmbuat hidup saya hancur seperti ini”. Guntur memaki Jordy.

Keduanya bertengkar, Azam dan Awan melerai, tapi na’as, Guntur dan Jordy berkelahi ditengah jalan dan tak disadarinya ada mobil lewat dan “wusssssssshhhhhhtttt” Jordy tertabrak dan meregang nyawa, Guntur tertegun, diam mematung tanpa kata. “Lihat keegoisanmu, kebodohanmu mengantarkan nyawa Jordy terbuang sia-sia” kata Awan.

“Gun, kami tau kamu sangat benci pada Jordy bahkan sejak lama. Tapi yang tak kamu tau, dia tak pernah membalasmu dengan rasa benci sedikitpun, karna ia sudah menganggapmu seperti saudara, bodoh !”. teriak Azam kepada Guntur. Mereka meninggalkan Guntur yang berdiam diri dipinggir jalan.

Pengemis kembali datang menghampiri Guntur. “Nak, jika kamu sedang sedih dan gelisah, bersandarlah, bersandarlah pada Tuhanmu. Jangan jin atau setan yang kamu jadikan sandaran, sama saja halnya kamu menghancurkan dirimu sendiri. Tidak apa kamu tak percaya kalau saya adalah bapak kamu, tapi tolong percayalah bahwa Tuhanmu memberimu ujian, tidak akan melebihi batas kemampuanmu nak !, maafkan bapak meninggalkanmu..”. Guntur menitihkan airmata, “Bapakku sudah datang, hartaku telah hilang, temanku mati, orang-orang didekatku pergi.. hahahahaha.. hidup ini tak adil bagiku.. hahaha saya bodoh”.

Pengemis kaget dengan sikap Guntur, setelah disadarinya, ternyata Guntur menjadi gila. “Nakk..sadar nak, Masih ada aku, masih ada Tuhanmu, nak…. jangan pergi nak.. nak…….. maafkan bapak nak, jangan pergi…”. pengemis berteriak dan menangis sesal, mencegah Guntur yang menjelma gila. Pengemis tertunduk dipeluk rasa salah telah meninggalkan anak yang dicintainya.

Penulis: Afif Khairudin, mahasiswa Progdi PBSI UMK.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *