Insentif Guru Swasta, Kebijakan Sensasi yang Minim Subtansi?

KUDUSSATU.com–Pemerintah Kabupaten Kudus menggelontorkan anggaran yang fantastis yaitu sebesar Rp 144 miliar per tahun untuk tunjangan (insentif) bagi guru non-PNS sebanyak 12 ribu oran di tahun 2019. Meliputi guru wiyata bakti sebanyak 3.185 orang, guru madrasah 1.081orang, guru tidak tetap (GTT) 937 orang.

Selanjutnya guru TPQ 3.489, dan guru diniyah 2.501 orang.
Hal ini pun langsung mendapat respon yang luar biasa dari masyarakat. Khususnya bagi mereka yang mendapatkan tunjangan. Popularitas dan elektabilitas pemerintah kabupaten Kudus dalam hal ini bupati pun ikut merokek. Apakah ini kebijakan ini populis.

Jawabannya, iya. Pertanyaannya apakah kebijakan ini mampu meningkatkan kualitas. Jawabannya, masih jauh!!!!. Justru analisa kami ini sebuah kebijakan sifatnya sensasional. Maksudnya pemerintah memiliki motif untuk sekedar menaikkan citra dan popularitas di masyarakat. Sekaligus hanya menunaikan janji-janjinya selama kampanye. Justru subtansi untuk mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan SDM belum tersentuh.

Sampai saat ini pun bupati maupun wakil bupati masih terjebak pada sebuah pola retorika dan seremoni. Hampir setiap hari kita melihat bupati atau wakil sibuk menghadiri acara-cara seremonial, termasuk seperti penyerahan tunjangan di hadapan guru.

Tunjangan ke guru swasta sebenarnya oke-oke saja. Namun, jika bicara bagaimana kualitas pendidikan di Kudus bisa terus meroket layaknya popularitas bupati yang mereket, ini perlu diperdebatkan. Efek dari kebijakan insentif bagi guru hanya bagian kecil dari proses kegiatan belajar mengajar (KBM) untuk peningkatan indeks prestasi manusia (IPM). Sehingga kalau boleh dibilang urgensi dari kebijakan ini belum terlihat jelas arahnya.

Kebijakan ini juga sulit untuk diukur. Bahkan cenderung sebagai lipservis penguasa atau kepala daerah. Karena itu sekali lagi kami memandang ini sebagai kebijakan yang sensasional namun minum subtansi.

Bupati dan jajarannya semestinya faham betul tantangan sumber daya manusia (SDM) semakin ketat dan keras. Kami mencatat tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan kualitas SDM di kota ini di tengah pertarungan global yang sudah di depan mata.

Pertama yaitu kecerdasan untuk memahami situasional di tengah persaingan global sehingga SDM kita dituntut untuk mampu bersaing dan memiliki keunggulan kompetitif. Kedua memiliki fisik yang kuat dan prima. Ini penting dengan SDM yang memiliki fisik yang kuat mereka tahan uji dalam medan apapun. Yang ketiga yaitu budi pekerti yang baik.

Poin ketiga ini menjadi kunci bagaimana SDM kita tidak hanya pintar dan kuat (fisik), tapi memiliki memiliki mental dan spiritual yang baik. Akal budi yang baik akan membawa generasi kita pada pencapaian yang gemilang yaitu soal integritas. Insyaallah SDM kita akan memiliki fisik yang kuat, otak cerdas dan akhlak mulia.

Karena itu, kami berharap pemerintah jangan sekedar mencari popularitas atau vote geter. Sementara kebijakan nya tidak memiliki argumen yang jelas. Seharusnya perlu studi dulu. Sementara itu, melalui tunjangan ini juga belum ada jaminan guru untuk memperbaiki etos kerja.Atau tunjangan ini hanya sekedar untuk mempermudah guru membayar cicilan hehe…semoga tidak.

Sehingga tujuan untuk peningkatan kualitas SDM hanya angan-angan. Perlu ada rekonstruksi ulang agar orientasi lebih jelas. Sekali lagi cukup kebijakan sensasional, tapi subtansial dan rasional.
Sebenarnya pemerintah bisa memperbanyak pelatihan otot (fisik), berpikir (otak) dan budi pekerti. Hal ini penting sebagai stablizer dari gangguan luar. Misalnya kegiatan untuk menjauhkan dengan narkoba dan alkohol.

Caranya mungkin bisa mengumpulkan dan mengajak bicara Forkominda. Mereka diajak untuk menjaga lingkungan dari pengaruh luar yang merusak generasi masa depan. Bahkan mungkin Pemkab bisa kerjasama dengan Kodim atau Koramil untuk melakukan pelatihan fisik mulai dari tingkat SD.Memiliki artifial intelegensia penting, tapi memiliki fisik juga sangat penting sebagai modal menyiapkan generasi kuat di masa mendatang. Aamiin..(redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *