Debat Capres Putaran Kedua:Jokowi Unggul di Packaging, Prabowo Unggul di Konten

Jokowi Pro Kapitalisme, Prabowo Pro Nasionalisme?

KUDUSSATU.com–Debat Capres putaran kedua tadi malam sudah mulai muncul kontras antar kedua Paslon.

Misalnya untuk capres 01 Jokowi lebih ke arah tekhnical atau rigit. Sementara capres 02 Prabowo lebih ke hal-hal besar atau konsep.

Misalnya Jokowi bicara soal unicorn. Valuasi asetnya 13 tiliuan tapi sistemnya masih kapaitalis. Sementara Prabowo bicara soal statemarket atau mendorong ekonomi nasional.

Jokowi bicara anggel atau gambar-gambar kecil seperti kemunculan star up. Sementara Prabowo bicara soal hal-hal besar seperti pemerataan pendapatan negara dan reditibusi aset.

Prabowo bicara ide-ide besar. Tapi Jokowi bicara atau menyerang pribadi soal kepemilikan lahan. Bicara soal beberapa perusahaan yang merusak lingkungan (dibakar). Sampai saat ini belum ada langkah hukumnya. Memang ada yang sudah divonis tapi tidak ada pengembalian keuangan negara.

Jokowi juga bicara soal turunya impor dari tahun ke tahun. Tapi Jokowi tidak bicara bagaimana nasib petani, bagaimana harga jual beras (padi) terjaga. Negara belum terlihat hadir dalam menjamin kesejahteraan rakyat.

Terkait soal penurunan impor. Jokowi semestinya bisa lebih menekankan pada isu keberpihakan petani agar sejahtera. Bagaimana semestinya petani betul-betul terlindungi.

Terkait soal Reformasi agraria di era Jokowi kurang tersentuh karena reditribusi aset belum terwujud.

Dalam debat semalam Prabowo terlihat kurang menarik dan menguasai data walaupun secara konsep besar sudah terlihat. Sekali lagi idenya Prabowo menarik tapi kurang mengena dalam menyampaikan.

Pada saat menyampaikan Prabowo juga terlihat datar.Tapi, dalam kejujuran Prabowo cukup unggul karena mau mengakui keberhasilan Jokowi.
Pengelolaan air port dan pelabuhan ke asing. Basisnya kapitalisme.

Menempatkan pengelolaan jalan tol bagi kehidupan masyarakat. Itu menunjukkan jika visi ekonomi Jokowi masih terlihat pro kapitalisme.Intinya ada bukti yang menunjukkan jika Jokowi pro pada kapitalisme yaitu :

  1. Adanya penyerahan (pengelolaan) airport ke asing. Artinya kedaulatan sebuah negara bisa terancam.
  2. Pembebasan jalan tol (ganti untung tapi faktanya ganti rugi). Banyak rakyat terdampak proyek tol yang tidak memperoleh kompensasi sesuai haknya.
  3. Banyak unicorn (Bukalapak, Tokopedia , Gojek) saat ini dikuasi asing. Sementara banyak unicorn gagal tapi tidak pernah diungkap.
  4. Jokowi masih melakukan impor pangan. Itu membuktikan jika Jokowi belum menunjukkan keberpihakan pada petani.
    Catatan lainnya, Jokowi juga gagal menagih kewajiban Recovery Enviromental Freeport senilai 185 triliun. Meaning proses tidak tersentuh selama ini. Belum yang ilegal meaning. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *