“Konglomerat Terlindungi, Rakyat Diajak Ngaji”

KUDUSSATU.com–Sosiolog dunia Max Weber menyatakan bahwa telah terjadi konspirasi antara birokrasi, kapitalisme, dan spirit protestanisme (gereja) yang mengakibatkan kelompok buruh tertindas.

“Agama merupakan alat untuk menenangkan buruh,” kata Max Weber.

Sementara itu, pentolan gerakan kapitalisme modern Karl Max sekaligus penulis buku Das Kapital kemudian melakukan pemberontakan yang menganggap agama sebagai candu bagi rakyat. Saat itu buruh (Jerman) hanya disuruh berdoa sabar untuk bertahan di tengah situasi sulit dan penindasan. Dengan diberi harapan masuk surga oleh kelompok gereja kala itu.

Marx menulis agama sebagai candu. Itulah yang mengakibatkan pertentangan antar kelas. Di Inggris tidak berhasil. Tapi di Rusia berhasil dengan kemunculan negara komunisme di bawah Lenin dan Mao Tse Tung di Cina.

Melalui bukunya Das Capital Marx menuliskan tentang namanya hubungan industrial. Bagaimana industri menghisab darah pekerjanya. Bagaimana buruh tertindas.Pada waktu ia baru berumur 28 tahun. Buku panutan ahli politik di dunia. Termasuk Soekarno dan ahli politik. Buku ini masih relavan walaupun ada kelemahan.

DOK.Sebuah rumah tak layak huni yang berada di bantaran Sungai Gelis, turut Desa Singocandi, Kota Kudus.

Banyaknya kegiatan keagamaan seperti pengajian, Istigosah dan shalawatan di Kudus. Ternyata hal itu menguntungkan oknum konglomerat (pengusaha) tertentu di wilayah ini. Mereka mendapat SDM patut, menurut dan takut dosa. Mereka menerapkan politik SARA, tapi mereka tidak mau kena SARA.

Oknum penguasa wilayah ini nampaknya tak berdaya dengan perilaku konglomerat tersebut. Mereka sibuk mengikuti kegiatan keagamaan yang sifatnya seremonial. Sisi baiknya menjaga ketertiban sosial. Namun sisi negatifnya, adanya praktek jahat antar elit yang meliputi oknum tokoh agama, konglomerat dan penguasa akan terbangun kesepahaman tidak resmi.

Untuk memuaskan dominasi kasta sosialnya. Rakyat tidak boleh kreatif.
Sementara peran sosial kemasyarakatan keagaman dikebiri oleh oknum penguasa demi melindungi tuanya (konglomerat). Mereka (tokoh) agama hanya dijadikan antek konglomerat dengan iming-iming bantuan.

Sosiolog modern Antoni Giden melalui madzhab jalan ketiga (jalan tengah). Madzhab bagaimana konglomerat punya kemanusiaan, rakyat bisa berkembang dan bisa kaya. Pemerintah bekerja profesional. Lakukan pekerjaan pemerintah, lakukan pekerjaan pengusaha dan lakukan pekerjaan buruh. Dan penuhi semua kewajiban dengan tertib dalam pakta integritas bersama. Aturan yang membangun ketidak seimbangan harus dihapus. Digantikan dengan yang rebalancing itulah madzhab ekonomi evaluatif.

Maka yang muncul nanti tokoh agama pendoa, pengusaha manipulatif pajak, birokasi korup yang memainkan angaran seenaknya. Akibatnya tidak ada migrasi kelas. Tidak ada penurunan kemiskinan .Yang kematian orang kecil. Tidak ada pengentasan kemiskinan. Yang ada evolusi Darwin. Yang lemah akan diseleksi alam. Itu akan melahirkan hukum besi. Tidak ada istilah negara kebangsaan atau kesejahteraan (walfare state). Yang terjadi adalah evolusi Darwin.

Turunnya angka kemiskinan bisa jadi karena banyaknya orang miskin yang meninggal. Mereka digantikan oleh orang kuat (ekonomi). Ada praktek oligarki yang mengakibatkan rakyat tetap miskin. Ada upaya membonsai publik yang kritis dengan kegiatan keagaaman (seremonial).(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *