Serbuan Toko Modern Mimpi Buruk Bagi Warung Kelontong di Kudus


KUDUSSATU.com-Masifnya serbuan oko modern di Kudus saat ini diakui menjadi momok sekaligus mimpi buruk bagi eksistensi warung kecil (kelontong). Dampaknya tidak sedikit akhirnya warung-warung kecil terpaksa tutup.

Membiarkan rakyat berusaha sendiri itu sama saja penjerumusan. Membiarkan warung kecil bersaing dengan toko medern sama saja pemerintah daerah membiarkan rakyat mati perlahan-lahan.

Keberadaan seratus warung kelontong belum tentu mampu bersaing dengan satu toko modern. Warung -warung kecil dengan modal kecil berharap keuntungan bisa besar.

Sementara toko modern sejak awal masuk sudah besar, mereka tinggal berfikir servis. Lima tahun kemudian? warung kecil itu bisa besar atau justru malah mati digerus toko modern dengan kapitalisasi modal mereka yang tak terbatas.

Apakah warung kecil dengan menambah aving modal terbatas mereka bisa bertahan atau justru tergerus dengan toko modern yang terus melakukan perbaikan pelayanan. Karena naluri manusia itu butuh kenyamanan untuk berbelanja bukan soal aman. Lalu bagaimana peran pemerintah daerah?

Tidak ada pilihan pemerintah daerah harus membangun leading sektor. Jika bicara untuk meningkatkan PAD dengan cara kolonial rakyat diperas dengan dipajaki. Cara kedua persuasif, rakyat dimobilisasi . Negera memberi fasilitas. Negara membantu menjual. Negara mendapat PAD dan profit.

Cara ini sama dipakai Negara Cina, makanya Cina semakin berjaya. Fragmaentasi masyarakat lebih besar daripada daya saing sehingga mereka sulit bersaing. Apa yang terjadi warung kelontong saling bersaing. Servis tidak diperbaiki, layanan tidak diperbaiki.

Sementara toko moder semakin membesar. Yang satu berfikir tentang mobilisasi.Yang satu soal harapan dan halusinasi. Ada seratus warung kelontong kecil, kecil dengan satu toko modern. Kira-kira yang eksis yang mana. Padahal jika modal seratus warung kelontong digabung, maka bisa untuk mendirikan satu toko modern ?. Tapi faktanya mereka lebih memilih berantem (individual) dengan satu sama lain dan toko modern. Akibatnya mereka (warung kelontong) lunglai dan terkapar.

Semestinya kita bisa mengambil contoh keberhasilan Samsung. Samsung bisa besar seperti saat ini karena memfasilitasi dengan mendirikan pabrik, menyekolahkan engineering dll. Tapi negara tetap hadir dalam pendirian Samsung. Karena itu peran negara harus hadir.

Pemkab Kudus semestinya melakukan langkah memobilisasi dan memfasilitasi rakyat agar dapat bersaing dengan daerah lain. Kita berharap ada Goodwill di pemerintahan Tamzil-Hartopo untuk menjaga ketahanan ekonomi di tengah libelarisasi ekonomim.(redaksi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *