Merawat Akal Sehat Untuk Membangun Indonesia


KUDUSSATU.com-Di kalangan orang-orang yang memiliki cita keunggulan peradaban manusia, baik percaya kepada Tuhan maupun terutama yang tidak percaya kepada Tuhan, akal menempati posisi sangat penting. Bagi yang percaya kepada Tuhan yang memiliki firman, akal menjadi sarana untuk memahami firmanNya. Dari firman itu, manusia berakal bisa menangkap dan membangun analogi bahwa agama yang diyakini adalah benar, sedangkan yang lain adalah salah.

Ini bisa muncul dari logika tentang kebenaran bahwa jika terdapat dua atau lebih hal yang berbeda atau bertentangan, maka kemungkinannya hanya dua, yaitu: semuanya salah atau salah satu saja yang benar. Sedangkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, bahkan menempatkan akal pada posisi sangat superior atau sentral; walaupun tentu saja dalam pandangan penganut agama yang benar, penempatan ini merupakan kekeliruan fatal. Bagi mereka, akal bukan sumber, tetapi sekedar sarana untuk mengetahui kebenaran.

Namun demikian, masing-masing tetap memiliki idealitas bahwa akal yang sehat adalah sangat penting. Kehidupan yang baik hanya akan bisa diwujudkan apabila individu-individu yang ada dalam masyarakat berakal sehat. Sebaliknya, jika banyak individu yang tidak berakal sehat, maka akan terjadi kehidupan yang rusak.
Filsafat dan agama secara tegas menekankan tentang pentingnya akal. Descartes (1596-1650), seorang filsuf Perancis yang dijuluki Bapak Filsuf Modern, bahkan berpandangan bahwa keberadaan manusia ditentukan oleh kemampuan berpikir yang merupakan kerja akal. Cogito ergo sum; aku berpikir, maka aku ada, katanya. Dalam pandangan agama, Islam terutama, akal dipandang sebagai karunia Allah yang termasuk paling berharga, atau bahkan bisa dikatakan yang paling utama.

Karena memiliki akal inilah, manusia nanti akan dimintai pertanggung-jawaban atas amal perbuatan yang telah mereka lakukan. Akal menjadi objek pembebanan hukum (manâth al-taklîf). Lâ dîna liman lâ ‘aqla lah, tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal. Orang gila tidak memiliki tanggung jawab baik di depan hukum dunia, maupun di hadapan Tuhan nanti di akhirat. Sebab, dengan akal, manusia bisa menangkap tanda-tanda yang diberikan oleh Allah, lalu harus menjadikannya sebagai panduan untuk menjalani kehidupan. Dengan menjadikannya sebagai sarana untuk menangkap kebenaran secara optimal, manusia akan mendapatkan keselamatan.

Akal juga termasuk salah satu di antara lima perkara dasar (al-dlaruriyyat al-khamsah) yang harus dilindungi. Karena itu, Islam mengharamkan segala hal yang bisa merusak akal, seperti minum minumal keras, mengkonsumsi narkoba, pornografi, dll. Bahkan, dalam hukum Islam, terdapat sanksi akibat perbuatan-perbuatan itu; tidak seperti perbuatan yang dilarang lainnya tetapi tanpa sanksi. Itu merupakan bukti tentang penekanan Islam untuk memelihara akal.

Di antara yang bisa merusak akal adalah menjadikan kebohongan sebagai kebiasaan. Hitler misalnya melihat ini sebagai sebuah kenyataan. Menurutnya, sebagaimana ditulisnya dalam autobiografinya, jika kebohongan diulangi secara terus menerus, maka pikiran manusia akan mempercayainya. Sebab, pengulangan merupakan salah satu metode hipnotis yang sangat berpengaruh kepada pikiran. Yang diulang, akan terukir dan terpatri di dalam pikirkan, lalu membuatnya menjadi ilusi dalam hidup. Karena itu, akal kemudian mengalami kerusakan, sehingga terhalang dari kebenaran.

Untuk merawat akal sehat, ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi, di antaranya: Pertama, menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya “sandaran”. Mengharap kepada manusia yang sesungguhnya sama-sama lemah, walaupun terlihat memiliki keunggulan, sesungguhnya menyebabkan penghambaan kepada yang tidak perlu dipertuan.

Mempertuan yang sesungguhnya tidak layak dipertuan bisa menyebabkan hal-hal yang tidak sesuai dengan akal sehat pun harus dilakukan. Kedua, memperbanyak hubungan dengan orang-orang yang berakal sehat dan menghindari orang-orang yang kehilangan akal sehat. Bersama dengan orang-orang yang berakal sehat akan menyebabkan keinginan untuk terus berpikir dan belajar selalu meningkat. Sebaliknya, bersama dengan orang-orang yang telah kehilangan akal sehat akan menyebabkan diri merasa cukup dengan yang telah ada atau bahkan terpapar cara berpikir yang tidak sehat.

Ketiga, memiliki logistik yang cukup. Dalam banyak hal, logika akan menjadi aktif, dan logika yang sudah aktif akan menjadi makin aktif apabila ditopang oleh logistik yang memadai. Jika logistik tidak memadai, logika seringkali menjadi tidak berjalan dan mudah dibelokkan dari jalan kebenaran menuju kesesatan pikiran. Orang yang fakir, akan mudah untuk dibeli dan tergoda oleh materi yang bahkan walaupun sedikit.

Keempat, tidak berambisi untuk mendapatkan kekuasaan atau jabatan secara berlebihan. Kekuasaan memang penting, karena ia ibarat pisau dapur yang bisa digunakan untuk kebaikan atau sebaliknya keburukan. Ia memang perlu diraih untuk mewujudkan kebaikan dan menutup jalan bagi keburukan. Namun, mencintainya apalagi secara berlebihan untuk mendapatkan gengsi dan fasilitas yang menyertai lebih banyak dampak negatifnya, dan di antaranya yang terbesar adalah kehilangan akal sehat. Tidak sedikit orang yang sesungguhnya memiliki kapasitas intelektual yang baik, tetapi karena kebutuhan yang mendesak kepada uang dan ambisi ikut menikmati kekuasaan, intelektualitas mereka menjadi tertutup dan justru sering menunjukkan kebodohan.

Kelima, membangun kebiasaan kritis dan tidak mudah percaya kepada informasi yang disebarkan, terutama oleh penguasa. Era digital sangat memudahkan oleh siapa pun yang menguasai media, termasuk juga media sosial, untuk menyebarkan informasi apa pun. Dengan segala sumber daya yang dikuasai oleh penguasa, tentu saja mudah bagi mereka untuk menyebarkan apa pun yang mereka konstruksi, termasuk informasi dengan framing sesuai dengan keinginan mereka. Jika informasi macam ini tidak dihadapi dengan sikap kritis, maka informati yang datang bertubi-tubi berpotensi besar membuat akal yang sehat menjadi sakit. Apalagi jika tidak memiliki ketahanan untuk menerima pandangan seolah tidak sehat akal dari banyak orang yang telah tak lagi sehat akal. Orang yang sehat akal dalam mayoritas masyarakat yang telah tak sehat akal, justru akan mengalami tekanan karena seringkali dituduh tak sehat akal oleh mereka yang tak berakal sehat.

Keenam, mengembangkan nalar. Sesungguhnya nalar berasal dari bahasa Arab “nadhar”, berarti melihat-penglihatan. Maksudnya adalah melihat sesuatu yang abstrak. Mungkin lebih tepat nalar diartikan dengan visi. Dengan visi yang berkembang dan menjadi kuat, maka yang memilikinya tidak akan mudah dibohongi dengan sesuatu yang nampak kasat mata, yang kelihatan bagus tetapi sesungguhnya buruk. Dengan nalar ini, maka yang bersangkutan bisa membedakan antara “membangun Indonesia” dengan “membangun di Indonesia”.

Dalam keadaan apa pun, apalagi dalam zaman yang sering disebut dengan zaman edan, juga masyarakat yang mengalami desain untuk berakal tak sehat, akal harus diaktifkan dengan usaha yang serius. Sehat akal juga merupakan salah satu prasyarat untuk memilih pemimpin dan wakil-wakil yang bisa diharapkan mampu menjalankan amanat. Ketajaman akal harus benar-benar dijaga, agar mampu menangkap dan membedakan antara kebohongan dengan kebenaran. Dengan menjaga akal sehat, di tengah mayoritas masyarakat yang berakal tak sehat, belum tentu akan selamat. Namun, jika membiarkan akal menjadi ikut tak sehat, pasti semua menjadi tak selamat. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Oleh Dr. Mohammad Nasih, M.Si
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Guru Utama di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE Semarang.

Artikel ini sebelumnya sudah diterbitkan oleh RILIS.ID.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *