Politisi Idiot

POLITIK seharusnya menjadi medan bagi hanya orang-orang yang memiliki panggilan untuk mengurusi urusan banyak orang. Bisa saja, panggilan itu muncul karena urusan dan kebutuhan diri sendiri sudah selesai. Demi membuat orang lain mendapatkan kualitas hidup yang sama, maka panggilan itu menguat dan harus ditunaikan. Sebab, dengan politik,
kebijakan yang bersifat inklusif alias menyeluruh, mengikat dan berdampak kepada seluruh warga negara, bisa dibuat. Namun, bisa juga walaupun urusan dan kebutuhan diri sendiri belum selesai.

Panggilan politik datang untuk memperbaiki kualitas hidup bersama, termasuk tentu saja juga diri sendiri, dengan imajinasi yang dimiliki disertai kerelaan untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan diri sendiri dan keluarga.

Untuk menjadi seorang politisi sejati diperlukan pengetahuan dan keterampilan yang lebih. Politisi harus memiliki pendidikan dan keterampilan yang cukup. Sebab, untuk memahami segala hal yang berkaitan dengan kekuasaan, diperlukan wawasan yang tak hanya luas, tetapi juga integralistik. Hal paling dasar yang harus diketahui adalah bagaimana sistem politik bekerja. Dengan pemahaman yang baik tentangnya, keterampilan yang dimiliki oleh politisi akan bisa digunakan dengan baik untuk mengintegrasikan berbagai struktur politik, sehingga bekerja secara harmonis dan bahkan sinergis. Dengan pola kerja yang demikian, kerja politik akan menghasilkan sesuatu yang berskala besar dan optimal, meliputi seluruh negara.

Namun, secara faktual kekuasaan politik seringkali jatuh ke tangan mereka yang sesungguhnya idiot. Mereka adalah orang-orang yang bekerja dengan motif dasar untuk hanya diri sendiri dan paling luas berskala keluarga. Tidak terpikir oleh mereka usaha-usaha untuk menciptakan kebaikan bersama. Sebagaimana makna dasarnya dalam bahasa Yunani, idiot adalah kekurangan kemampuan profesional, individual, juga tidak berpendidikan. Idiot dalam makna paling awal ini tidak berkaitan dengan skor IQ, melainkan semata-mata berkaitan dengan peran warga negara dalam struktur kekuasaan, apakah ia pejabat atau sekedar rakyat jelata tanpa jabatan. Idiot adalah antonim dari pejabat. Politisi idiot karena itu adalah mereka yang memiliki jabatan politik, tetapi pikiran dan sikap mereka tidak pernah berorientasi membangun kebijakan untuk kebaikan bersama, melainkan tetap saja untuk kepentingan diri sendiri, seolah-olah mereka tidak memiliki jabatan dengan implikasi kepada banyak orang. Padahal, karena jabatan yang ada pada mereka, apa pun yang menjadi kebijakan mereka, berpengaruh sangat besar kepada kehidupan seluruh rakyat.

Untuk melahirkan politisi yang berkualitas, diperlukan lingkungan pendidikan yang komprehensif, yakni pendidikan yang di dalamnya terdapat pengembangan kemampuan untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik. Di samping pendidikan harus mampu menumbuh-kembangkan disiplin pengetahuan dan keterampilan yang spesifik dan biasanya digunakan untuk menopang hidup secara mandiri, juga harus mengarahkan kepada pengembangan kepribadian untuk memimpin. Lingkungan pendidikan ini bisa diberikan oleh organisasi-organisasi dengan orientasi sosial dan juga politik yang menumbuhkan kesadaran tentang keutamaan berbuat untuk kehidupan bersama. Lingkungan ini sangat penting. Sebab, pendidikan formal yang ada sekarang pada umumnya lebih menekankan kepada pengembangan kemampuan pribadi dengan paradigma yang individualistik. Karena itulah, yang lahir adalah sarjana-sarjana idiot. Padahal, mestinya para sarjana adalah orang-orang yang memiliki panggilan untuk memimpin masyarakat agar kualitas mereka meningkat menjadi lebih baik sebagaimana para sarjana itu.

Banyak fakta terlihat bahwa peningkatan kemampuan mereka justru membuat mereka merasa bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Atau menyadari kebutuhan kepada orang lain, tetapi hubungan yang dibangun adalah hubungan yang bersifat eksploitatif. Wujud yang paling umum adalah hubungan antara majikan dan buruh. Yang pintar, mengeksploitasi yang kurang pintar, untuk mengakumulasi kapitas dan ujungnya adalah kesenangan diri sendiri. Maka pameo dalam bidang ekonomi .

“Biaya sekecil-kecilnya, untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya” digunakan sebagai dasar argumen untuk menindas orang lain yang lebih lemah.

Sistem politik demokrasi yang sering diidealkan sebagai sistem politik yang paling memungkinkan untuk melahirkan pemimpin sesuai dengan keinginan rakyat, sesungguhnya justru sering melahirkan pemimpin idiot. Dengan memanfaatkan keawaman rakyat banyak, kaum kapitalis jahat yang lebih banyak berpikir untuk terus menerus memperbesar kapital mereka, berusaha untuk merebut kekuasaan yang bisa mereka gunakan untuk membuat kebijakan-kebijakan yang menguntungkan mereka sendiri, tanpa kepedulian yang memadai kepada penderitaan banyak orang. Bisa saja mereka menggunakan orang lain sebagai tangan panjang mereka dalam politik. Namun, tidak jarang juga mereka langsung terjun ke dalam politik. Jadilah politik menjadi lahan orang-orang idiot yang tidak peduli kepada tujuan dasar politik untuk menata negara. Yang terpenting adalah mereka bisa memenuhi nafsu syahwat mereka, bergelimang dengan kemewahan, walaupun mereka bersenang-senang di atas penderitaan rakyat banyak.

Wallahu a’lam bi al-shawab.


Oleh Dr. Mohammad Nasih, M.Si

Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Guru Utama di Rumah Perkaderan MONÂSH INSTITUTE Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *