Pemimpin Tak Memiliki Visi

TIDAK ada orang yang memiliki kewenang melampaui kewenangan pejabat politik. Kebijakan politik yang dibuatnya bisa sangat berpengaruh kepada seluruh aspek kehidupan rakyat. Bukan hanya urusan pendidikan yang bisa diatur, bahkan ke mana menghadap saat buang air besar atau buang air kecil pun bisa diatur dengan kebijakan politik. Hijau hitam negara, sangat ditentukan oleh kualitas para pemimpin politik, karena merekalah penentu kebijakan yang mengikat seluruh warga negara.

Karena kewenangan yang sangat luas itulah, sesungguhnya mereka memiliki peran yang sangat besar untuk mengarahkan dan mengantarkan rakyat kepada kebahagiaan. Kebahagiaan yang diharapkan bukan sekedar kebahagiaan palsu, melainkan kebahagiaan hakiki. Untuk itu, tentu saja nilai-nilai yang harus dijadikan sebagai fundamen, haruslah kebenaran hakiki.

Agar bisa mewujudkan kebahagiaan hakiki tersebut, setiap pemimpin politik haruslah memiliki visi politik yang merupakan transformasi dari ajaran-ajaran kebenaran yang merupakan ajaran Allah yang maha mengetahui. Keyakinan kepada ajaran kebenaran itu, akan melahirkan visi yang kuat. Selanjutnya, visi yang kuat akan melahirkan semangat dan keteguhan untuk melakukan perjuangan yang walaupun bagi kebanyakan orang dirasakan berat. Semangat diperlukan untuk melahirkan energi yang berlipat-lipat. Visi besar, pasti tidak bisa diwujudkan dengan energi yang hanya kecil. Untuk mewujudkan visi yang telah tertuang di dalam kebijakan yang bersifat inklusif, diperlukan kerja ekstra keras. Ia membutuhkan energi yang sangat besar. Keteguhan sangat diperlukan, karena dalam memperjuangkan kebenaran, pasti akan menghadapi banyak tantangan dari berbagai pihak, terutama pihak-pihak yang memiliki visi yang berbeda, atau apalagi yang berlawanan. Dalam hal ini, akan terjadi adu kuat dan setidaknya tarik-menarik kepentingan (political interplay). Hanya keteguhanlah yang akan mengantarkan kepada kemenangan.

Seorang pemimpin yang memiliki visi kuat, akan selalu mencari jalan yang memungkinkan. Ia akan selalu bergerak bagaikan air yang mencari, menemukan, dan menerobos celah yang memungkinkan untuk masuk. Jika tidak menemukan celah, ia akan terus berusaha mengumpulkan energi untuk menjebol dinding penghalang. Ia akan terus menekuni seni untuk mewujudkan segala visi yang telah terbangun dengan kuat dalam benaknya. Untuk mewujudkan visi itu, ia akan merelakan berbagai kesenangan, yang sebelumnya ia dapatkan, terenggut. Bahkan, ia bisa rela mati untuk mewujudkannya, karena mati dalam mewujudkan visi besar nan mulia adalah kematian yang membahagiakan. Ia sadar bahwa namanya akan dikenang, disebut, dan bagi yang beriman dengan benar, namanya akan basah pada bibir banyak orang dalam gumam do’a-do’a.

Sebaliknya, pemimpin tanpa visi tidak memiliki semangat untuk bekerja. Atau jika pun bekerja, tetapi tidak jelas untuk apa dan siapa hasil pekerjaan yang dilakukan. Kekuasaan hanya untuk kekuasaan, demi sekedar memenuhi hasrat dimuliakan dengan kemuliaan yang palsu. Sebab, dirinya sendiri tahu dengan pasti bahwa penampilan dirinya adalah kepalsuan. Yang paling mengerikan, pemimpin tanpa visi akan mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain yang memiliki visi lain atau sekedar kepentingan jangka pendek yang membahayakan negara dan rakyat. Namun, dalam potensi bahaya besar itu, pemimpin tanpa visi tidak memiliki pemahaman tentang bagaimana sistem politik bekerja dan segala implikasinya bagi masa depan negara dan rakyat. Padahal, jika kekuatan jahat menguasainya, maka akan hancurlah negara dan rakyat tentu akan sangat sengsara. 

Pemimpin tanpa visi bisa mendapatkan dukungan lebih banyak pihak, terutama apabila yang menjadi rivalnya adalah orang yang memiliki kepribadian kuat. Sebab, orang dengan kepribadian kuat memiliki keteguhan sikap dan tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain. Sikap tersebut akan membuat pihak-pihak lain yang memiliki visi berbeda atau sekedar kepentingan jangka pendek sulit untuk mengambil kesempatan guna meraih keuntungan pribadi. Jalan untuk mempengaruhinya tertutup rapat.

Negara di bawah kepemimpinan yang tanpa visi bisa menjadi ibarat makanan di dalam nampan yang diperebutkan oleh orang-orang yang kelaparan. Sayangnya, yang memperebutkan itu hanyalah elite-elite jahat yang hanya mementingkan diri dan kelompok mereka sendiri. Kepentingan mereka hanyalah kekuasaan dan uang. Kekuasaan mereka rebut untuk menambah pundi-pundi keuangan, dan sebaliknya kekuatan yang telah mereka genggam, mereka gunakan untuk mempertahankan dan memperbesar kekuasaan. Mereka tidak mempedulikan keadaan rakyat yang semakin sulit. Yang terpenting adalah hawa nafsu mereka untuk memperkaya diri dan hidup bermewah-mewah dengan fasilitas yang sumber pembiayaannya adalah keringat rakyat, juga keamanan mereka dari berbagai masalah hukum yang berpotensi menjerat jika kekuatan politik lain yang berkuasa. Kerangka berpikir mereka demikian itu pun karena itulah yang mereka lakukan saat berkuasa.

Karena itulah, pemimpin tanpa visi tidak akan pernah berani untuk menyampaikan visi. Jika pun terpaksa menyampaikan visi di atas kertas contekan, tentu haruslah menyampaikan visi kebaikan. Dan jika dengan visi kebaikan itu berhasil menipu rakyat banyak dan kemudian berhasil meraih kekuasaan, maka pasti akan ingkar janji. Sebab, kekuatan jahat tidak mungkin mewujudkan kebaikan, sekalipun kebaikan itu selalu dijadikan sebagai bahan jualan. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Penulis: Mohammad Nasih, dosen Pasca Sarjana Ilmu Politik UI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *