Mentari elok telah terbit, gelap malam segera pamit. Kicau burung hingga alunan suara kokok ayam bersautan menjadi nada yang merdu dipagi indah. Dengan sorotan cahaya matahari dari balik jendela kamar berukuran 3×2 meter itu, hari telah dimulai untuk menjalankan kehidupan.

Edo, remaja berusia 15 tahun yang hidup tanpa keluarga dan sanak saudara, bertempat di gubuk kecil yang berdindingkan anyaman bambu. Bangunan yang kerap ia anggap istana hidupnya itu berdiri di atas tanah tetangganya, pak Kirman. Edo sangat dikasihani oleh para tetangga, telah banyak orang yang ingin mengadopsinya sebagai anak, tentu dengan alasan Edo anak yang pekerja keras. Namun tak satupun diterima oleh Edo.

Setiap harinya Edo bekerja sebagai pemulung, selain karena memang desa Sidogede yang ditinggali Edo itu tergolong perkampungan kumuh yang beranggotakan warga gelandangan, hanya dari memulunglah Edo dapat mencari makan.

Hidup Edo sangat memprihatinkan. Badan kurus hingga pendidikan tak tercapai, tanpa orang tua pula. Dia tetap tabah menjalaninya, walau hatinya setiap detik sangat protes dengan keadaannya sekarang ini. Hal itu dikarenakan Edo telah dibutakan benci pada bapaknya, yang menurutnya sejak usia Edo 5 tahun, bapaknya meninggalkannya tanpa rasa tanggungjawab kepada anak.

Ibu Edo telah meninggal sejak ia lahir. Bapaknya dulu juga seorang pemulung, dan sepengetahuan Edo, bapaknya adalah orang yang bodoh karena tidak mau menerima hadiah dari pemerintah 10 tahun yang lalu. Cerita itu didapat dari juragan loak di kampungnya, Paidi namanya. Dan sebab itulah Edo sangat membenci seorang bapak yang telah merawatnya hingga usia 5 tahun, tentu sangat menyakitkan bagi Edo.

Pagi itu Edo sangat kesal, tak ada makanan dan tak ada kardus, botol plastik, hingga barang bekas yang bisa ia jual. Ia marah-marah tak jelas di depan rumah, menggerutu layaknya remaja sebaya ketika kelaparan. Datang kang Prapto, tetangganya sesama pemulung.

“Aduh le.. le.. kamu itu kenapa pagi-pagi kok menggerutu, tidak baik le..” kata kang Prapto. “Ini semua gara-gara bapak kang, andai saja dulu bapak menerima hadiah dari pemerintah, gak bakalan saya hidup susah.” Jawab Edo.

“Kamu itu lucu do, bapakmu itu tidak salah,” kata kang Prapto sambil senyum. “Lha dulu kan jelas cerita dari juragan Paidi, kalo bapak saya itu munafik, tidak mau menerima hadiah dari pemerintah. Kalo bapak mau, pasti saya jadi orang kaya sekarang kang!” kata Edo.

Kang Prapto mau menjelaskan, “Bapakmu menolak itu.. karena..”
“Bapak gak mau karena bodoh, iya kan?” Potong Edo langsung pergi meninggalkan kang Prapto.

Karena lapar tak tertahankan, setelah ia pergi meninggalkan kang Prapto, diujung desa ia melihat minimarket dan apa yang dilakukannya? Edo mencuri roti di minimarket tersebut. Sayang sekali, belum sampai roti itu masuk ke mulutnya, ia sudah tertangkap oleh satpam minimarket dan dipukuli habis-habisan.

“Dasar pencuri, katanya yang muda yang berkarya, tapi kenapa ini yang muda jadi tersangka, ayo ikut ke penjara,” kata satpam itu.

“Hai pak, kalo pencuri roti seperti saya dipenjara, lalu pantasnya apa hukuman bagi mereka yang mencuri hak masyarakatnya?” bantah Edo sambil menahan sakit karena dipukuli. “Kamu itu tau apa tentang masyarakat bocah ingusan,” kata satpam.

“Saya tak tau apa-apa, tapi saya merasakan susahnya kekurangan.” Jawab Edo. Sampai lemah Edo dipukuli, tiba-tiba pak Kirman datang tergopoh-gopoh karena mendengar kericuhan tersebut, disusul juga oleh kang Prapto yang datang dari rumah Edo tadi.


“Ehhh.. jangan main hakim sendiri pak, ada apa ini?” tanya pak Kirman. “Ini pencuri roti,” jawab satpam.

“Roti kok jadi masalah, yang jadi masalah itu apa pak satpam tahu sebab apa nak Edo ini mencuri? ya sebab lapar tak punya uang to pak,” kata kang Prapto.

“Sekali pencuri, ya tetap kriminal” satpam bersikukuh. “Benar pak, kami tahu. Edo ini sebatang kara, jadi pemulung, putus sekolah, berat hidupnya,” kata pak Kirman.

Satpam tetap ingin meyeret Edo ke kantor polisi, tiba-tiba juragan Paidi datang dan tertawa keras, “Hahaha… bawa saja curut itu pak, merusak generasi,” kata juragan Paidi. Kang Prapto dan pak Kirman kaget.

“Oohhh ini dia orang tak tau diri, demi harta rela melihat sahabatnya mati sia-sia,” kata kang Prapto.
“Maksud kang Kirman?” tanya Edo dengan penuh harap. “Selama kamu mengira bapakmu bodoh nak, tapi juragan Paidi ini yang lebih bodoh, jahat pula,” jawab pak Kirman menjelaskan.

“Bapakmu bukan pergi tanpa rasa tanggungjawab kepadamu le, melainkan mati ditembak pejabat yang korupsi 10 tahun yang lalu,” tambah kang Prapto.


Edo menangis tertunduk dicengkraman satpam yang menangkapnya. “Omong kosong,” kata juragan Paidi. “Dulu kau miskin, Paidi. Berkat hasil suap yang kau terima dari koruptor, kini kau kaya.” Kata pak Kirman.


“Jangan heran Do, 10 tahun yang lalu, Paidi dan bapakmu disuap oleh koruptor yang dipergoki oleh mereka. Bapakmu tak mau dan lari,” kata kang Prapto. “Paidi dengan senang hati menerima hingga rela melihat sahabatnya mati.” Tambah pak Kirman.


“Jadi juragan penyebab saya jadi sengsara?” Edo marah, satpam tak tega dan melepas cengkeramannya dari tubuh Edo yang kurus. “Tolong pak satpam, lepaskan anak ini dan bantu kami melaporkan orang ini ke polisi, kami siap jadi saksi,” kata kang Prapto. Mereka pun berangkat ke kantor polisi dipimpin oleh satpam yang telah membebaskan Edo.

Beberapa hari berlalu dan juragan Paidi akhirnya menetap dipenjara. Jelas sudah jalan masa lalu Edo tentang bapaknya. Ia menyesal menilai bapaknya buruk, setelah mengetahui cerita dari kang Prapto dan pak Kirman yang semula menyembunyikan kisah bapaknya karena tak mau melihat Edo larut dalam kesedihan.


Waktu terus berjalan, Edo pun disekolahkan oleh pemerintah yang sekarang sudah mulai mewujudkan cita-cita bangsa yang sejahtera berkat pendidikan. Edo lebih tenang menjalani hidup dan dengan semangatnya, Edo berkeinginan kelak dewasa menjadi pengusaha yang menyediakan lapangan pekerjaan lebih layak di desa tempat ia dilahirkan, yaitu desa Sidogede.
SELESAI..

*Penulis Afif Khoiruddin, akrab disapa Apip, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Alumni Madrasah Qudsiyyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *