MU Terpuruk, Mourinho Diganti, Ekonomi RI Terus Terpuruk, Bagaimana Presiden Jokowi?

KUDUSSATU.com-Jose Mourinho akhirnya didepak dari kursi kepelatihan skuad Manchester United (MU). The spesial one itu dianggap tidak becus mengarsiteki red devil sehingga mengakibatkan posisi klub terburuk di Liga Premier Inggris.

Tercatat MU hanya menempati urutan enam kelasemen Liga Premier dengan mengantongi 26 poin. Selisih hingga 19 poin dengan pemuncak klasemen Liverpool yang memiliki 45 poin. Sebuah pencapaian yang buruk bagi tim berjuluk The Red Devils itu.

Tekanan demi tekanan diarahkan kepada pelatihan berkewarganegaraan Portugal itu. Baik dari manajemen klub, para pemain hingga dari suporter mendesak agar Mourinho diganti dan dicopot.

Derasnya tekanan yang dialamatkan kepada mantan pelatih Real Madrid itu memaksanya untuk hengkang dari MU. Selasa kemarin waktu setempat Mourinho dipaksa untuk melepaskan jabatannya sebagai menajer yang bermarkas di Old Trafford.

Diketahui Mourinho menjadi pelatih MU sejak 2016 lalu. Tercatat tiga trovi berhasil dipersembahkan. Salah satunya trovi piala Liga Europa.

Kita coba membandingkan situasi MU dengan situasi yang terjadi di Indonesia saatbini. Khususnya kondisi ekonomi yang terus terpuruk hingga mendekati akhir tahun.

Misalnya saja soal neraca perdagangan yang telah mengalami defisit hingga mencapai US 2,05 miliar. Defisit perdagangan terdalam sepanjang tahun 2018.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca dagang bulan November defisit US$ 2,05 miliar. Angka ini merupakan rapor merah defisit perdagangan yang ke delapan kali terhitung sejak awal tahun, sekaligus menjadi defisit terdalam sepanjang sebelas bulan pertama 2018.

Defisit perdagangan November 2018 disebabkan oleh selisih impor yang lebih tinggi dibandingkan ekspor. Menurut BPS, ekspor periode November 2018 hanya sebesarUS$ 14,83 miliar, sedangkan realisasi impor tercatat lebih tinggi yakni sebesar US$ 16,88 miliar.

Presiden Jokowi juga memiliki pekerjaan berat termasuk soal hutang RI yang telah mencapai hingga 5.000 triluan. Penerimaan negara yang sebesar Rp 1.750 triliun jauh lebih kecil ketimbang belanja pemerintah yang sebesar Rp 2.020 triliun memaksa negara harus berhutang.

Dikutip dari detik.com, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani mengatakan, dengan jumlah rasio utang Indonesia saat ini sebesar 27% dari Gross Domestic Product (GDP) yang sekitar Rp 13.000 triliun, maka setiap masyarakat di Indonesia memiliki utang sebesar US$ 997 per kepala (Rp 13 juta).

Terpuruknya kondisi ekonomi juga dirasakan oleh sektor mikro yang terus mengalami kemerosotan. Salah satu penyebabnya karena rendahnya daya beli masyarakat. 

MampukahPemerintahan Jokowi mencari solusi atas terpuruknya ekonomi saat ini. Atau terpuruknya ekonomi justru dapat menggerus kepercayaan publik terhadap Presiden Jokowi. Sehingga butuh transformasi kepemimpinan di 2019 mendatang. Silahkan rakyat menilai sendiri.(REDAKSI/Berbagai Sumber).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *