Masyarakat Kudus Berharap dengan “Tamzil Effect”

Ketika Ekonomi di Tahun2019 Diprediksi Sulit
KUDUS, KUDUSSATU.com-Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen di tahun depan dinilai berat untuk bisa dicapai. Diperkirakan pertumbuhan ekonomi di 2019 hanya mencapai 5 persen.

Pertumbuhan ekonomi nasional yang lamban diprediksi ikut memengaruhi pertumbuhan ekonomi di sejumlah wilayah di Indonesia. Termasuk Kabupaten Kudus diprediksi turut terkena dampak baik langsung maupun tidak langsung.

Kondisi ekonomi di tahun 2019 tidak mudah. Hal itu terlihat jelas dari turunnya daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat rendah tidak semata-mata soal inflasi. Ibaratnya ada barang, tapi masyarakat tidak mampu membeli.
Ditambah lagi tingkat produktivitas cukup rendah. Pemerintah saat ini justru fokus melakukan impor dibanding melakukan produksi. Akibatnya neraca perdagangan pun mengalami defisit.

Hal ini lantas menjadi pekerjaan berat bagi Tamzil-Hartopo pasca dilantik 24 sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kudus periode 2018-2023. Publik pun memiliki ekspektasi tinggi terhadap pemimpin baru ini.

Mampukah Tamzil-Hartopo merealisasikan visi-misinya mewujudkan Kabupaten Kudus Yang Religius, Modern, Cerdas dan Sejahtera dengan 9 pilar? Akankah Tamzil effect mampu menjawab tuntutan publik di tengah situasi sulit di 2019 mendatang yang notabene tahun politik.

Janji politik Tamzil alah satunya pemberian tunjungan (bantuan langsung) lewat APBD kepada guru honorer swasta (PAUD, RA/TK, Madin, TPQ, SD, SMP, dan MA) diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat. Sekitar 10.000 lebih penerima tunjangan ini diharapkan ikut mendorong konsumsi masyarakat. Tunjangan ini direncanakan akan mulai didistribusikan pertengahan Januari. Termasuk bantuan sosial untuk khotib atau imam masjid dan mushola.

Selanjutnua, penciptaan 500 wiruasahan baru dalam setiap tahunnya. Hal ini menarik jika ini betul-betul diwujudkan. Langkah ini diharapkan meningkat produktivitas masyarakat Kurus. Sekaligus untuk membuka lapangan pekerjaan baru sehingga menjadi solusi mengurangi angka pengangguran yang di 2019 akan masif terjadi.

Tak kalah penting, yaitu mengenai bantuan permodalan kepada pelaku usaha. Melalui progam bantuan usaha modal tanpa agunan diharapkan mampu menggerakkan roda ekonomi. Namun, yang terpenting bagi pelaku usaha diberikan kemudahan akses dalam penyaluran kredit perbankan.

Jika tiga progam unggulan ini mampu diemplementasikan dengan baik dan tepay, niscaya Kabupaten Kudus mampu survive di tengah situasi ekonomi yang sulit di tahun depan. Kita berharap “Tamzil Effect” ini betul-betul membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Khususnya masyarakat menengah ke bawah yang sangat membutuhkan dukungan dari pemerintah. Negara harus hadir adalah bentuk komitmen untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Semoga APBD Kudus 2019 yang sudah digedok sebesar Rp 1,71 T diharapkan betul-betul menyejahterakan rakyat Kudus. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *