KPU Kudus Ajak Santri Tidak Golput dan Tolak Politik Uang

Komisioner Lakukan Tanya Jawab dengan Santri MA Qudsiyyah

KUDUS, KUDUSSATU.com-Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kudus terus gencar melakukan kegiatan sosialisasi dalam rangka Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 mendatang.
Salah satu kegiatan sosialisasi yang mendapat respon baik dari masyarakat adalah “Goes To School”. Kegiatan tersebut diisi dialog interaktif antara pihak penyelenggara (KPU dan Jajaran) dengan para siswa di sekolah.

Salah satu komisioner KPU Kabupaten Kudus Akhmad Kholil mengatakan, sosialisasi pemilu kepada pemilih pemula yang mayoritas adalah kalangan pelajar sangat diperlukan agar mereka menggunakan hak suara secara tepat dan berkualitas.

“Mereka perlu didorong untuk antusias datang ke tempat pemungutan suara guna memilih partai politik atau calon-calon pemimpin sesuai dengan aspirasinya, tidak golput atau tidak memberikan suara pada pemilu dan termakan ajakan politik uang,” terang Kholil saat mengisi kegiatan KPU Goes to School di MA Qudsiyyah Kudus, Rabu (21/11/2018) dikutip dari KPUKUDUSKAB.GO.ID.

Komisioner KPU Divisi Sosialisasi Parmasdiklih dan SDM itu memaparkan materi tentang Pentingnya Pemilu 2019 bagi Pemilih Pemula. Di mana, hampir semua peserta yang ikut dari kelas XII yang pada 17 April 2019 mendatang sudah ikut mencoblos.

”Pemilu itu merupakan sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat, di mana rakyat dapat memilih pemimpin politik secara langsung. Untuk itulah, para pelajar yang sudah bisa memilih harus ikut menyalurkan suaranya. Apalagi satu suara ikut menentukan perubahan bangsa,” ucapnya.

Mantan Pemimpin Redaksi (Pemred) salah satu koran ini memaparkan tentang bagaimana syarat pemilih. Pertama, WNI yang berusia diatas 17 tahun atau belum berusia 17 tetapi sudah menikah. Kedua, berdomisili di wilayah pemilihan yang dibuktikan dengan KTP elektronik. Ketiga, tidak sedang terganggu jiwanya. Keempat, bukan anggota TNI/Polri. Dan terakhir, tidak sedang dicabut hak pilihnya.
Adapun sikap pemilih di Indonesia juga ada bermacam-macam.

”Ada empat sikap pemilih di negeri ini, pertama Pemilih Pragmatis, yakni menggunakan hak pilihnya jika ada unsur materi atau memilih karena diberikan sesuatu sebagai imbalan dari pilihannya. Kedua, pemilih tradisional, yaitu memilih atas dasar mengikuti pilihan pemimpin di wilayahnya atau istilah lainnya memilih karena ikut-ikutan dengan yang lain,” terangnya.

Ketiga, pemilih apatis, yakni tidak menggunakan hak pilihnya atau biasanya golput (golongan putih) karena tidak menganggap pemilu itu penting. Dan keempat pemilih cerdas, yakni pemilih yang sadar akan hak pilihnya akan berpengaruh terhadap kepentingan hidupnya dan berpartisipasi dalam proses pemilu.

”Dari semua sikap pemilih itu, semoga semua pemilih nantinya bisa menjadi pemilih cerdas, sehingga bisa memilih pemimpin yang benar-benar baik,” harapnya.

Di acara yang berlangsung gayeng itu, selain pemaparan materi, juga berlangsung tanya jawab dari para peserta. Termasuk pemberian souvenir dari KPU ke peserta.

Kepala MA Qudsiyyah, Kyai Fahrudin mengatakan, Pemilu 2019 sangat penting. Untuk itulah sosialisasi ke peserta didik yang sudah bisa mencoblos harus dilakukan.

”Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada KPU yang sudah mendatangi sekolah kami dan memberikan sosialisasi tentang Pemilu 2019. Semoga peserta didik nantinya bisa memilih pemimpin yang benar-benar baik dan amanah pada 17 Aprl 2019 mendatang,” ungkapnya. (Ak/Am/AHS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *