Beranikah Tamzil Berpikir Out Of The Box untuk Memimpin Kudus?

KUDUS, KUDUSSATU.com-Muhammad Tamzil resmi menjabat sebagai bupati sejak 24 September 2018 atau 54 hari sudah memimpin kota Kudus.Bisa dibilang masih seumur jagung untuk sebuah pemerintahan. Namun, publik terlanjur memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap pasangan Tamzil-Hartopo.
Sekarang masyarakat mulai pun mulai menagih janji-janjinya selama kampanye Pilkada 2018. Visinya untuk mewujudkan Kudus Kota Yang Religius, Modern, Cerdas Dan Sejahtera diharapkan segera dijawab dan direalisasikan.

Tidak mudah dengan kepemimpinan yang belum berjalan dua bulan. Butuh penataan, sinkronisasi progam dan penyesuaian ritme kerja birokrasi. Kondisi seperti ini membutuhkan waktu. Sementara masyarakat butuh sebuah tindakan konkret dan cepat.

Dengan bekal pengalaman satu periode 2003-2008 belum cukup jadi jaminan seorang Tamzil melakukan akselerasi kepemimpinan. Apalagi sepuluh tahun era bupati sebelumnya (Musthofa) memaksa Tamzil harus melakukan penataan ulang komposisi birokrasi sudah terkooptasi dengan rezim. Pekerjaan yang terntunya tidak mudah bukan.

Kerena itu, Tamzil tidak semestinya terjebak pada hal-hal yang sifatnya normatif. Termasuk program-progam yang sifatnya administratif.Tamzil harus mampu melakukan terobosan dan inovasi. Termasuk berpikir out of the box. Hal ini penting mengapa? Karena hal itu akan memudahkan Tamzil meraih kepercayaan publik. Popularitas dan elektabilitas nya akan tetap terjaga. Di sisi lain, Tamzil akan dicatat sebagai pemimpin yang inovatif.

Dengan kata lain, Tamzil harus memiliki program-progam mercusuar bukan progam biasa yang normatif. Hal itu akan memberikan efek (kepercayaan) luar biasa di tengah tuntutan publik. Tamzil bisa mencontoh Prof Andalan (Nurdin Abdullah), Gubernur Sulawesi Selatan yang sebelumnya menjabat sebagai Bupati Bantaeng atau Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang dulu sebagai walikota Bandung.

Nurdin Abdullah, membuat progam mercusuar berupa rumah sakit internasional dengan pembiayaan non APBD atau berasal dari CSR perusahaan Jepang. Sementara Ridwan Kamil, progam mercusuar nya yaitu taman-taman kota (publik space)yang akhirnya di tiru kepada daerah lainnya.

MampukahTamzil? Saya kira sangat mampu sekali. Apalagi Kudus yang notabene kota industri menuju modern. Sekarang tinggal bagaimana Tamzil mampu mengambil momentum ini. Kuncinya Tamzil harus berfikir out of the box. Tiga hal yang menjadi kunci Tamzil agar sukses dalam memimpin Kudus yaitu konstruksi hukum yang jelas, prestasi dan progam yang bagus dan publikasi (media). (Abdu Hamid Syamil).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *