Beranikah Calon Ketum KONI Menjamin Tidak Ada “Bancakan” Anggaran?

KUDUS, KUDUSSATU.com-Tensi perebutan kursi Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Kudus mulai memanas. Sejumlah figur mulai menguat untuk mencalonkan diri sebagai orang nomor satu di KONI periode 2019-2023. Siapa pemenangnya???

Mereka adalah Antoni Alfin, Ferdaus Ardiansyah Purnomo, Muttaqin Husodo, dan Edi Suprianto. Namun, hingga Rabu (14/11/2018) siang baru ada dua calon yang resmi mendaftarkan diri sebagai calon ketua umum Komite Olahraga Nasional Indonesia.

Pertama, Antoni Alfin yang sekitar pukul 08.00 WIB sudah menyerahkan berkas pendaftaran ke kantor KONI. Antoni mengklaim membawa sebanyak 28 dukungan dari Pengurus Cabang (Pengcab) Olahraga Kabupaten Kudus dari total 44 Pengcab yang ada. Dalam dunia olahraga Antoni Alfin dikenal di dunia balap sepeda motor. Bahkan saat ini ia menjadi humas cabang olahraga balap sepeda motor.

Sementara itu, kandidat yang satunya, Ferdaus Ardiansyah Purbowo mengaku baru mengantongi dukungan sebanyak 8 Pengcab. Ferdaus merupakan ketua Persatuan Atletik Master Indonesia (PAMI) Kudus. Ia dikenal sebagai atlet lari dan balap sepeda.

Sedangkan calon lainnya, hingga malam ini belum terlihat mendaftar ke panitia pemilihan ketua umum KONI Kudus. Padahal deadline pendaftaran ditutup Kamis (15/11/2018) pukul 00.00 WIB.
Jika sampai batas waktu pendaftaran tidak ada yang mendaftar lagi, maka hampir dipastikan hanya dua kandidat yang akan bertarung untuk berebut kursi “K1” yaitu Antoni Alfin dan Ferdaus Ardiansyah Purnomo.

Perebutan kursi panas ketua umum KONI mendapat antensi besar di tengah prestasi olahraga di Kudus dan sekarut persoalan yang membelit organisasi tersebut. Walaupun di kejuaraan Porprov Jateng, kontingen Kudus akhir Oktober lalu berhasil menduduki juara tiga.

Namun faktanya, pembibitan dan pembinaan atlet masih setengah hati. Selain itu minimnya kesejahteraan para atlet. Bahkan kabar miring menyebut ada pemotongan untuk anggaran pembinaan atlet. Sehingga muncul kesan anggaran dipakai untuk “bancakan” kelompok tertentu. Ini jadi pekerjaan calon ketua umum KONI yang akan datang. Bahkan muncul desakan dari sekolompok masyarakat untuk penegak hukum melakukan audit terhadap penggunaan anggaran KONI.

Jabatan KONI memang bukan merupakan jabatan politik. Namun begitu, intervensi dan berbagai kepentingan yang ada di sini. Sehingga wajar bila banyak pihak berusaha memperebutkannya. Selama ini ada persepsi bahwa ketua umum KONI merupakan orang bupati. Sehingga restu orang nomor satu di Kudus, dianggap sebagai kunci utama menduduki kursi ketua umum KONI.

Maka yang terjadi adalah saling klaim dukungan. Calon ini merasa didukung bupati. Sementara calon lain juga mengklaim mendapat dukungan yang sama. Sebaliknya Bupati Kudus Muhammad Tamzil dalam berbagai kesempatan menyatakan memberikan restu kepada semuanya untuk berkompetisi secara sehat . Tak terkecuali perihal soal pemilihan ketua umum Komite Olahraga Nasional Indonesia.

Siapapun yang terpilih semoga bisa membawa kebaikan bagi dunia olahraga di Kudus. Transparansi anggaran dan modernisasi olahraga adalah kuncinya. Selamat bertarung dan berkompetisi secara fair. (Abdu Hamid Syamil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *